Ilmu adalah binatang Buruan.
Dan Pena yang menuliskan adalah tali Pengekangnya
-Imam Asy Syafi'i-

Thursday, 18 October 2012

Pernah ga sih, kalian merasakan minder, takut, grogi pas mau ngomong sama orang yang lebih, dalam hal ini atasan ? entah itu dosen, Orang yang lebih tua, atau Atasan tempat anda bekerja ? ya, saya rasa, semua orang pernah mengalami hal yang semacam itu.

ya, ada beberapa tips yang di Sampaikan dibuku KSPK yang ditulis oleh Satria Hadi Lubis (hal 180) disitu ada 8 tips seputar cara berkomunikasi kepada atasan, 

1. Memberi salam. Ketika akan memulai pembicaraan dengan atasan anda, usahakan buka pembicaraan dengan salam pembuka seperti: selamat pagi, selamat malam, tergantung waktunya. Hal ini menunjukkan kesopanan anda dalam berbicara. Tidak ada salahnya juga menyisipkan pertanyaan personal yang ringan dan menyenangkan seperti: masih suka main tenis tiap jumat, pak? Namun hindari pertanyaan yang terlalu pribadi.

2 Utarakan siapa anda. Atasan anda tidak menghapal semua nama, wajah, dan jabatan bawahannya. Jangan berbicara panjang lebar tanpa menyebutkan siapa anda di awal pembicaraan. Hal ini dapat membingungkan atasan.

3 Utarakan maksud dan tujuan pembicaraan dengan jelas, ringkas, tidak bertele-tele.
Atasan anda bukan orang yang memiliki banyak waktu luang untuk mengobrol dengan anda. Gunakan waktu yang telah disisihkannya seefektif mungkin. Jelaskan apa tujuan anda berbicara dengan jelas. Gunakan kata-kata yang baku yang mudah dimengerti umum. Jangan memperpanjang kalimat dengan hal-hal tidak penting.

4 Jangan „takut‟. Atasan bukanlah dewa yang harus ditakuti. Sebagian orang merasa kesal jika lawan bicaranya gelisah, gemetar, dan tidak ada kontak mata saat berbicara. Lakukan kontak mata secukupnya sehingga menimbulkan kesan percaya diri. Jika pendapat anda ditentang, berikan argument yang masuk akal namun tidak memaksa. Jika berbicara sambil duduk, tegakkan punggung anda dan jangan terus-terusan menunduk. Beri kesan kalau anda adalah pegawai yang percaya diri, bisa diandalkan, dan bertanggung jawab.

5 Jangan gunakan intonasi tinggi.
Hal ini memberi kesan „memerintah‟, sehingga cenderung kasar dan tidak sopan.

ya, lima hal tersebut yang terdapat dalam buku KSPK tersebut. Mudah mudahan menjadikan modal untuk kita, ketika kita berkomunikasi dengan atasan.

Presentasi KSPK dalam hal Etiket Berkomunikasi 3T Pajak, Rabu @c201 jam 09.00

Pernah ga sih, kalian merasakan minder, takut, grogi pas mau ngomong sama orang yang lebih, dalam hal ini atasan ? entah itu dosen, Orang yang lebih tua, atau Atasan tempat anda bekerja ? ya, saya rasa, semua orang pernah mengalami hal yang semacam itu.

ya, ada beberapa tips yang di Sampaikan dibuku KSPK yang ditulis oleh Satria Hadi Lubis (hal 180) disitu ada 8 tips seputar cara berkomunikasi kepada atasan, 

1. Memberi salam. Ketika akan memulai pembicaraan dengan atasan anda, usahakan buka pembicaraan dengan salam pembuka seperti: selamat pagi, selamat malam, tergantung waktunya. Hal ini menunjukkan kesopanan anda dalam berbicara. Tidak ada salahnya juga menyisipkan pertanyaan personal yang ringan dan menyenangkan seperti: masih suka main tenis tiap jumat, pak? Namun hindari pertanyaan yang terlalu pribadi.

2 Utarakan siapa anda. Atasan anda tidak menghapal semua nama, wajah, dan jabatan bawahannya. Jangan berbicara panjang lebar tanpa menyebutkan siapa anda di awal pembicaraan. Hal ini dapat membingungkan atasan.

3 Utarakan maksud dan tujuan pembicaraan dengan jelas, ringkas, tidak bertele-tele.
Atasan anda bukan orang yang memiliki banyak waktu luang untuk mengobrol dengan anda. Gunakan waktu yang telah disisihkannya seefektif mungkin. Jelaskan apa tujuan anda berbicara dengan jelas. Gunakan kata-kata yang baku yang mudah dimengerti umum. Jangan memperpanjang kalimat dengan hal-hal tidak penting.

4 Jangan „takut‟. Atasan bukanlah dewa yang harus ditakuti. Sebagian orang merasa kesal jika lawan bicaranya gelisah, gemetar, dan tidak ada kontak mata saat berbicara. Lakukan kontak mata secukupnya sehingga menimbulkan kesan percaya diri. Jika pendapat anda ditentang, berikan argument yang masuk akal namun tidak memaksa. Jika berbicara sambil duduk, tegakkan punggung anda dan jangan terus-terusan menunduk. Beri kesan kalau anda adalah pegawai yang percaya diri, bisa diandalkan, dan bertanggung jawab.

5 Jangan gunakan intonasi tinggi.
Hal ini memberi kesan „memerintah‟, sehingga cenderung kasar dan tidak sopan.

ya, lima hal tersebut yang terdapat dalam buku KSPK tersebut. Mudah mudahan menjadikan modal untuk kita, ketika kita berkomunikasi dengan atasan.

Presentasi KSPK dalam hal Etiket Berkomunikasi 3T Pajak, Rabu @c201 jam 09.00

Wednesday, 17 October 2012

Ada yang perlu kita cermati 5 perkara, sebelum datangnya lima perkara.

“Dari Ibnu Abbas dia berkata: telah bersabda Rasululloh, seraya menasehati seseorang: Jagalah olehmu lima perkara sebelum datang lima perkara yang lainnya, jaga masa mudamu sebelum tuamu, jaga masa sehatmu sebelum datang waktu sakit, jaga masa kayamu sebelum jatuh miskin, jaga masa lapangmu sebelum sempit, dan jaga masa hidupmu sebelum datang kematian”.(Mustadrok Hakim kitab roqooq :4/306)

 Jaga masa lapangmu sebelum sempit. Ini, ini yang akan menjadi bahasan kita untuk selanjutnya. Kita menyadari bahwasannya Kewajiban kewajiban kita itu lebih banyak dari pada waktu yang kita miliki. Orang arab biasanya menyatakan   “Al-Wajibat aktsaru minal Awqat” (‘Kewajiban kita lebih banyak dibandingkan waktu yang tersedia’).Yang pertama harus kita tanamkan dalam diri, bahwa kita harus menjaga masa lapang, sebelum masa sempit dan yang kedua, kita menyadari bahwa kewajiban kita lebih banyak dari pada waktu yang tersedia. 

Kemudian, berbahaya jika ketika kita telah tanamkan dalam diri kita point 1 dan 2, kemudian timbul pertanyaan , enaknya ngapain ya ? haha, pertanyaan ini seakan akan bertentangan dengan 2 point di atas ? anda pernah bertanya demikian ? jika saya ditanya, maka saya akan menjawab ya. (Astagfirullah)

Mengelola Kesibukan itu "not just a science, but also an art". ucap salah seorang dengan tatapan teduh, kepada kami berlima yang sedang duduk duduk melingkar. Kemudian beliau (yang dengan kesibukannya yang supet extra) melanjutkan perbincangan yang ringannya dengan memberikan kami 12 kebiasaan Produktif yang di Anjurkan, yang beliau ambil dari buku Model Manusia Muslim Abad XXI yang di tulis oleh Ustd  Anis Matta LC.
1. Sediakan lebih banyak waktu untuk membaca dan sediakanlah waktu untuk memikirkan dan mengendapkan bacaan Anda.

Setiap kali Anda selesai membaca, itu berarti Anda telah menyerap sutu informasi dan akan meningkat ke tahap selanjutnya yaitu seleksi. Karena itu sisakanlah waktu 15 menit untuk memikirkan kembali apa yang barusan Anda baca dan endapkan.

2. Luangkan waktu selama 20 menit dalam sehari untuk menyendiri dan merenung.

Waktu paling tepat untuk merenung adalah sebelum subuh. Duduklah dengan rileks supaya nafas Anda keluar secara teratur. Pejamkan mata. Aturlah nafas secara teratur. Tarik nafas dari hidung dan keluarkan melalui mulut. Ikuti pernapasan itu dengan pikiran Anda. Mulailah merenung; merenung tentang apa saja, tidak perlu ditentukan ‘judulnya’. Efek dari kebiasaan ini adalah Anda akan terbiasa melakukan pemikiran vertikal; berpikir ke atas. Selain itu, kebiasaan tersebut juga akan meluaskan dan melegakan perasaan Anda, serta ketenangan yang luar biasa.

3. Pertahankan stamina spiritual Anda melalui ibadah mahdhah yang rutin
Dengan melaksanakan ibadah mahdhah secara rutin, maka Anda akan memilki nuansa spiritual sebagai kekuatan untuk mengontrol gerak pikiran dan gerak emosi.

4.Jagalah kondisi fisik Anda
 
Menjaga kondisi fisik melalui :
a.Makan secara teratur dan bergizi.
b.Istirahat yang cukup.
c.Olahraga ringan yang rutin

5.Tingkatkan apresiasi Anda melalui seni dan alam

Terkadang hidup akan terasa keringjika kita tidak punya rasa seni yang baik. Selain itu, menikmati seni dan alam juga dapat meningkatkan sifat humoris kita.

6. Buatlah rencana perjalanan wisata

Jalan-jalanlah di muka bumi dan makanlah rizki dari Tuhanmu. Semakin banyak yang kita lihat semakin banyak pula yang dapat kita banding-bandingkan.

7. Luaskanlah wilayah pergaulan Anda

Salah satu ciri orang dewasa ialah dapat bergaul dengan banyak orang. Sedangkan ciri remaja ialah hanya dapat bergaul dengan sekelompok orang yang sangat terbatas yang biasanya disebut dengan peers group.

8. Tingkatkan kontrol terhadap pikiran-pikiran yang memenuhi benak Anda
Pikiran-pikiran yang muncul dalam benak kita harus dikontrol secara ketat. Sebab, pikiran itulah yang mempengaruhi suasana jiwa; pikiran-pikiran akan melahirkan tindakan.

9. Biasakanlah mencatat gagasan secara teratur

Suatu ide atau gagasan memerlukan proses pematangan. Dengan mencatat, berarti Anda telah melakukan proses pematangan. Mencatat gagasan yang muncul dalam benak kita perlu dilakukan karena proses pematangan suatu gagasan tidak terjadi sekaligus.

10. Biasakanlah lebih banyak diam dan mendengar daripada bicara

Pada umumnya orang yang banyak bicara adalah orang yang lemah kepribadiannya. Ciri orang intelek menurut Islam yang disebutkan Al Qur’an adalah Alladziina yastami’uunalqaul; orang yang mendengarkan perkataan orang lain, fayattabiuuna ahsanah; dan mengikuti yang baik dari perkataan itu. Yaitu orang yang mau mendengarkan dan menganalisa

11. Kontrol emosi agar tetap tenang, tidak mudah terpengaruh sanjungan dan kritikan
Biasakan agar ekspresi emosi Anda tidak mudah terlihat melalui wajah, apalagi melalui ucapan atau tangan.

12. Lakukan latihan pernafasan secara teratur

Tarik nafas melalui hidung, keluarkan melalui mulut; tarik nafas dalam-dalam melalui hidung, kemudian turunkan ke dada terus ke perut, naik kembali ke dada, turun lagi ke perut. Itu sudah cukup, asalkan rutin. Yang kita butuhkan di sini bukan tenaga dalamnya, tetapi keseimbangan peredaran darah dan kebugaran internal.
ya, mudah mudahan 12 kebiasaan produktif ini dapat diterapkan oleh yang post disini, yang post dari sumbernya, dan oleh para pemampir semua, hhe

Selasa, 16 Oktober 2012, Dipojok kanan Masjid pukul 20.00

Ada yang perlu kita cermati 5 perkara, sebelum datangnya lima perkara.

“Dari Ibnu Abbas dia berkata: telah bersabda Rasululloh, seraya menasehati seseorang: Jagalah olehmu lima perkara sebelum datang lima perkara yang lainnya, jaga masa mudamu sebelum tuamu, jaga masa sehatmu sebelum datang waktu sakit, jaga masa kayamu sebelum jatuh miskin, jaga masa lapangmu sebelum sempit, dan jaga masa hidupmu sebelum datang kematian”.(Mustadrok Hakim kitab roqooq :4/306)

 Jaga masa lapangmu sebelum sempit. Ini, ini yang akan menjadi bahasan kita untuk selanjutnya. Kita menyadari bahwasannya Kewajiban kewajiban kita itu lebih banyak dari pada waktu yang kita miliki. Orang arab biasanya menyatakan   “Al-Wajibat aktsaru minal Awqat” (‘Kewajiban kita lebih banyak dibandingkan waktu yang tersedia’).Yang pertama harus kita tanamkan dalam diri, bahwa kita harus menjaga masa lapang, sebelum masa sempit dan yang kedua, kita menyadari bahwa kewajiban kita lebih banyak dari pada waktu yang tersedia. 

Kemudian, berbahaya jika ketika kita telah tanamkan dalam diri kita point 1 dan 2, kemudian timbul pertanyaan , enaknya ngapain ya ? haha, pertanyaan ini seakan akan bertentangan dengan 2 point di atas ? anda pernah bertanya demikian ? jika saya ditanya, maka saya akan menjawab ya. (Astagfirullah)

Mengelola Kesibukan itu "not just a science, but also an art". ucap salah seorang dengan tatapan teduh, kepada kami berlima yang sedang duduk duduk melingkar. Kemudian beliau (yang dengan kesibukannya yang supet extra) melanjutkan perbincangan yang ringannya dengan memberikan kami 12 kebiasaan Produktif yang di Anjurkan, yang beliau ambil dari buku Model Manusia Muslim Abad XXI yang di tulis oleh Ustd  Anis Matta LC.
1. Sediakan lebih banyak waktu untuk membaca dan sediakanlah waktu untuk memikirkan dan mengendapkan bacaan Anda.

Setiap kali Anda selesai membaca, itu berarti Anda telah menyerap sutu informasi dan akan meningkat ke tahap selanjutnya yaitu seleksi. Karena itu sisakanlah waktu 15 menit untuk memikirkan kembali apa yang barusan Anda baca dan endapkan.

2. Luangkan waktu selama 20 menit dalam sehari untuk menyendiri dan merenung.

Waktu paling tepat untuk merenung adalah sebelum subuh. Duduklah dengan rileks supaya nafas Anda keluar secara teratur. Pejamkan mata. Aturlah nafas secara teratur. Tarik nafas dari hidung dan keluarkan melalui mulut. Ikuti pernapasan itu dengan pikiran Anda. Mulailah merenung; merenung tentang apa saja, tidak perlu ditentukan ‘judulnya’. Efek dari kebiasaan ini adalah Anda akan terbiasa melakukan pemikiran vertikal; berpikir ke atas. Selain itu, kebiasaan tersebut juga akan meluaskan dan melegakan perasaan Anda, serta ketenangan yang luar biasa.

3. Pertahankan stamina spiritual Anda melalui ibadah mahdhah yang rutin
Dengan melaksanakan ibadah mahdhah secara rutin, maka Anda akan memilki nuansa spiritual sebagai kekuatan untuk mengontrol gerak pikiran dan gerak emosi.

4.Jagalah kondisi fisik Anda
 
Menjaga kondisi fisik melalui :
a.Makan secara teratur dan bergizi.
b.Istirahat yang cukup.
c.Olahraga ringan yang rutin

5.Tingkatkan apresiasi Anda melalui seni dan alam

Terkadang hidup akan terasa keringjika kita tidak punya rasa seni yang baik. Selain itu, menikmati seni dan alam juga dapat meningkatkan sifat humoris kita.

6. Buatlah rencana perjalanan wisata

Jalan-jalanlah di muka bumi dan makanlah rizki dari Tuhanmu. Semakin banyak yang kita lihat semakin banyak pula yang dapat kita banding-bandingkan.

7. Luaskanlah wilayah pergaulan Anda

Salah satu ciri orang dewasa ialah dapat bergaul dengan banyak orang. Sedangkan ciri remaja ialah hanya dapat bergaul dengan sekelompok orang yang sangat terbatas yang biasanya disebut dengan peers group.

8. Tingkatkan kontrol terhadap pikiran-pikiran yang memenuhi benak Anda
Pikiran-pikiran yang muncul dalam benak kita harus dikontrol secara ketat. Sebab, pikiran itulah yang mempengaruhi suasana jiwa; pikiran-pikiran akan melahirkan tindakan.

9. Biasakanlah mencatat gagasan secara teratur

Suatu ide atau gagasan memerlukan proses pematangan. Dengan mencatat, berarti Anda telah melakukan proses pematangan. Mencatat gagasan yang muncul dalam benak kita perlu dilakukan karena proses pematangan suatu gagasan tidak terjadi sekaligus.

10. Biasakanlah lebih banyak diam dan mendengar daripada bicara

Pada umumnya orang yang banyak bicara adalah orang yang lemah kepribadiannya. Ciri orang intelek menurut Islam yang disebutkan Al Qur’an adalah Alladziina yastami’uunalqaul; orang yang mendengarkan perkataan orang lain, fayattabiuuna ahsanah; dan mengikuti yang baik dari perkataan itu. Yaitu orang yang mau mendengarkan dan menganalisa

11. Kontrol emosi agar tetap tenang, tidak mudah terpengaruh sanjungan dan kritikan
Biasakan agar ekspresi emosi Anda tidak mudah terlihat melalui wajah, apalagi melalui ucapan atau tangan.

12. Lakukan latihan pernafasan secara teratur

Tarik nafas melalui hidung, keluarkan melalui mulut; tarik nafas dalam-dalam melalui hidung, kemudian turunkan ke dada terus ke perut, naik kembali ke dada, turun lagi ke perut. Itu sudah cukup, asalkan rutin. Yang kita butuhkan di sini bukan tenaga dalamnya, tetapi keseimbangan peredaran darah dan kebugaran internal.
ya, mudah mudahan 12 kebiasaan produktif ini dapat diterapkan oleh yang post disini, yang post dari sumbernya, dan oleh para pemampir semua, hhe

Selasa, 16 Oktober 2012, Dipojok kanan Masjid pukul 20.00

Tuesday, 16 October 2012

Sistem, dalam kamus Besar Bahasa Indonesia berarti Perangkat unsur yang secara teratur saling berkaitan, sehingga membentuk suatu totalis. atau Susunan yang teratur dari pandangan, teori, asas dan sebagainya. Bisa juga Metode.

 Tiga deskripsi tentang sistem tersebut, saya rasa cukup untuk menjelaskan mengenai Sistem. Terus, apa yang akan kita bicarakan selanjutnya ? apakah akan membicarakan Sistem di Indonesia yang kata sebagian orang "sudah Bobrok" ? ahhh, itu terlalu tinggi, terlalu kejauhan kita untuk memikirkan itu, yang menjadi fokus kita sekarang ialah sistem yang berlaku atau yang kita rasakan secara langsung saja. Akan tetapi, penting juga untuk mengetahui sistem Indonesia, agar bisa melakukan perbaikan terus menurus.

 Tiga minggu berturut turut, Auditing (salah satu mata Kuliah semester 5) membicarakan mengenai sistem, mulai dari Sistem Akuntansi Penjualan, Sistem Akuntansi Pembelian dan Sistem Akuntansi Aktiva Tetap. Dari ketiga sistem yang dibahas diatas, dapat ditarik suatu benang merah, bahwa ketika Suatu sistem telah terbentuk, kemudian bagian yang terpenting dari suatu sistem tersebut yaitu pengendalian Internal (control Intern).

Membangun suatu Sistem, itu berarti merencanakan suatu kegiatan, yang mana nantinya dapat berjalan sesuai prosedur yang telah dibuat yang menghasilkan hasil yang maksimal. Ya, ketika suatu sistem telah dibentuk secara sempurna, atau orang zaman sekarang bilang "wow", pasti akan ada selalu celah dalam suatu sistem tersebut. Oleh karena itu sangat pentingnya pengendalian Internal yang mana untuk menutup celah tersebut.

Pernah liat Serial Kartun Shaun the Sheep. Di episode ketika Si Pemilik (manusia) sakit. Dan sang anjing menjaga si majikan. Kemudian tugas si Anjing itu deserahkan kepada salah satu kambing yang "paling cerdas". Apa tugas yang diserahkan sang anjing kepada kambing yang cerdas itu ?  Ya, sebuah kertas yang berisikan Job desk yang harus dilakukan si Anjing tersebut setiap harinya. Kisah selanjutnya, silahkan di liat sendiri ya di salah satu tivi swasta.

Ya, di serial Kartun tersebut kita bisa liat ada pengendalian Intern dari si Penjaga kambing tersebut. Itulah standard kinerja yang harus dilakukan olehnya setiap harinya.

Jika pengendalian Internal ini kita terapkan ke diri sendiri, bagaimana caranya ? ya, "Mutabaah". Lembah mutabaah sangat penting untuk pengendalian internal. Secara sistem, tubuh kita telah sempurna, sistem yang sangat bagus dan sempurna, cuma pertanyaannya, bagaimana agar kita dapat memaksimalkan sistem tubuh kita agar menghasilkan output yang maksimal ? Saya katakan dengan jelas "Mutabaah". Bagi yang belum melaksanakan, segera buat, target target harian, kemudian disiplin dalam mengevaluasi diri.

Kemudian jika pengendalian internal ini diterapkan diorganisasi, apa yang seharusnya dilaksanakan? ya, saya rasa anda lebih tau dari pada yang post ini. Ketika setiap orang di dalam organisasi mempunyai pikiran Apa yang dapat kamu berikan kepada organisasi bukan apa yang diberikan organisasi kepada kita, maka, insyaAllah, suatu sistem yang ada akan menghasilkan kelauran yang maksimal.

Kemudian Negara Indonesia. apakah kita akan tetap menyalahkan sistemnya ? atau kita akan melakukan perbaikan dengan melakukan perubahan didalam ? Dengan melakukan pengendalian internal agar menjadi output yang totalitas. haha, tidak sanggup lagi rasanya jari ini untuk menuliskan di bagian paragraf ini karena kurangnya ilmu dan pengetahuan.

Closing statement dari yang ngepost tulisan ini, Mari kita sama sama untuk menuntut ilmu, menambah wawasan, membuka cakrawala, melakukan perbaikan, melakukan pengendalian intern mulai dari diri sendiri, keluarga, organisasi dan Negara. Mari persiapkan diri untuk melakukan perbaikan demi perbaikan untuk Agama, Negara, dan Dunia.

Sistem, dalam kamus Besar Bahasa Indonesia berarti Perangkat unsur yang secara teratur saling berkaitan, sehingga membentuk suatu totalis. atau Susunan yang teratur dari pandangan, teori, asas dan sebagainya. Bisa juga Metode.

 Tiga deskripsi tentang sistem tersebut, saya rasa cukup untuk menjelaskan mengenai Sistem. Terus, apa yang akan kita bicarakan selanjutnya ? apakah akan membicarakan Sistem di Indonesia yang kata sebagian orang "sudah Bobrok" ? ahhh, itu terlalu tinggi, terlalu kejauhan kita untuk memikirkan itu, yang menjadi fokus kita sekarang ialah sistem yang berlaku atau yang kita rasakan secara langsung saja. Akan tetapi, penting juga untuk mengetahui sistem Indonesia, agar bisa melakukan perbaikan terus menurus.

 Tiga minggu berturut turut, Auditing (salah satu mata Kuliah semester 5) membicarakan mengenai sistem, mulai dari Sistem Akuntansi Penjualan, Sistem Akuntansi Pembelian dan Sistem Akuntansi Aktiva Tetap. Dari ketiga sistem yang dibahas diatas, dapat ditarik suatu benang merah, bahwa ketika Suatu sistem telah terbentuk, kemudian bagian yang terpenting dari suatu sistem tersebut yaitu pengendalian Internal (control Intern).

Membangun suatu Sistem, itu berarti merencanakan suatu kegiatan, yang mana nantinya dapat berjalan sesuai prosedur yang telah dibuat yang menghasilkan hasil yang maksimal. Ya, ketika suatu sistem telah dibentuk secara sempurna, atau orang zaman sekarang bilang "wow", pasti akan ada selalu celah dalam suatu sistem tersebut. Oleh karena itu sangat pentingnya pengendalian Internal yang mana untuk menutup celah tersebut.

Pernah liat Serial Kartun Shaun the Sheep. Di episode ketika Si Pemilik (manusia) sakit. Dan sang anjing menjaga si majikan. Kemudian tugas si Anjing itu deserahkan kepada salah satu kambing yang "paling cerdas". Apa tugas yang diserahkan sang anjing kepada kambing yang cerdas itu ?  Ya, sebuah kertas yang berisikan Job desk yang harus dilakukan si Anjing tersebut setiap harinya. Kisah selanjutnya, silahkan di liat sendiri ya di salah satu tivi swasta.

Ya, di serial Kartun tersebut kita bisa liat ada pengendalian Intern dari si Penjaga kambing tersebut. Itulah standard kinerja yang harus dilakukan olehnya setiap harinya.

Jika pengendalian Internal ini kita terapkan ke diri sendiri, bagaimana caranya ? ya, "Mutabaah". Lembah mutabaah sangat penting untuk pengendalian internal. Secara sistem, tubuh kita telah sempurna, sistem yang sangat bagus dan sempurna, cuma pertanyaannya, bagaimana agar kita dapat memaksimalkan sistem tubuh kita agar menghasilkan output yang maksimal ? Saya katakan dengan jelas "Mutabaah". Bagi yang belum melaksanakan, segera buat, target target harian, kemudian disiplin dalam mengevaluasi diri.

Kemudian jika pengendalian internal ini diterapkan diorganisasi, apa yang seharusnya dilaksanakan? ya, saya rasa anda lebih tau dari pada yang post ini. Ketika setiap orang di dalam organisasi mempunyai pikiran Apa yang dapat kamu berikan kepada organisasi bukan apa yang diberikan organisasi kepada kita, maka, insyaAllah, suatu sistem yang ada akan menghasilkan kelauran yang maksimal.

Kemudian Negara Indonesia. apakah kita akan tetap menyalahkan sistemnya ? atau kita akan melakukan perbaikan dengan melakukan perubahan didalam ? Dengan melakukan pengendalian internal agar menjadi output yang totalitas. haha, tidak sanggup lagi rasanya jari ini untuk menuliskan di bagian paragraf ini karena kurangnya ilmu dan pengetahuan.

Closing statement dari yang ngepost tulisan ini, Mari kita sama sama untuk menuntut ilmu, menambah wawasan, membuka cakrawala, melakukan perbaikan, melakukan pengendalian intern mulai dari diri sendiri, keluarga, organisasi dan Negara. Mari persiapkan diri untuk melakukan perbaikan demi perbaikan untuk Agama, Negara, dan Dunia.

Sunday, 14 October 2012


Jarkom,, Kumpul rapat di Taman CD jam 7, jangan ngaret ya, harap di prioritaskan. 

 Itu yang tertera di HP yang mana biasanya sering di dapat oleh orang orang yang biasa mengikuti organisasi. Kurang lebih seperti itu lah kontennya. Ada kata Jarkom, ada Tempatnya, ada Waktunya, ada agendanya dan ada pula peringatan dan himbauannya.

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa di Indonesia terkenal dengan jam karetnya. Mau masuk kuliah, ngaret, mau kumpul rapat, ngaret, mau jalan-jalan, ngaret, mau maen futsal, ngaret, mau naek angkot, ngaret, mau janjian kemana?, ngaret juga, tapi intinya, ketika kita sudah janjian untuk ketemu atau melakukan suatu agenda pada waktu tertentu, kenapa ngaret ini selalu menghantui ?

Ya, mungkin penyebab pertama seringnya terjadi ngaret itu karena kurangnya kepedulian dari kita sendiri. Kita hanya memikirkan diri kita sendiri, misalnya ketika telah janjian untuk bertemu , dan kita melakukan "ngaret" mungkin banyak yang berpikir ketika kita ngaret, hanya kita yang rugi tetapi patut disadari, bahwa orang lain pun merasa dirugikan oleh anda. Misalnya, ada rapat jam 7. Ketika itu anda datang jam 7.20. Ketahuilah oleh anda, bahwa anda telah membuat orang orang yang telah datang untuk menunda rapatnya sekitar 20 menit, hanya untuk menunggu anda. Apakah anda pikir orang lain tidak punya keperluan lain ?

Yang kedua mungkin kurangnya kita dalam mendisiplinkan diri untuk tepat waktu. ahhhh, kata disiplin itu sudah kita dengar, kita tulis, sudah kita lihat sejak kita Sekolah dasar, bahkan sejak kita kecil. Akan tetapi, ketika kita mendisiplinkan diri untuk tepat waktu, kadang kadang kita suka tertarik dengan kebanyakan orang yang telah. Misalnya, kita selalu On time jika janjian. akan tetapi yang lainnya selalu ngaret. lama kelamaan, kita aga mulai jenuh untuk on time, dan memutuskan untuk tidak on time seperti biasa. Ini yang bisa saya bilang salah. jika on time itu diibaratkan kebaikan maka "Tetaplah berbuat baik, walaupun disekelilingmu berbuat hal yang tidak baik."




Yang ketika mungkin Istiqomah. Ketika kita telah mengetahui bahwa dampak dari kengaretan diri kita akan merugikan orang lain, dan kita untuk mendisiplinkan diri untuk on time, maka selanjutnya itu kita harus mengkonsistenkan diri agar bisa selalu on time. Sangat mudah dalam On time, akan tetapi aga sulit untuk istiqomah dalam On time.

Biasanya ada cara cara yang digunakan, agar seseorang itu / sekolompok itu dapat menghargai waktu, dapat menghargai orang yang diajak kumpul, dan menghargai apa yang berharga yang lainnya. Disini akan saya coba tuangkan 3 metode yang terpikir di otak ini .

  1. Reward and Punishment. Dalam metode ini, seseorang yang datang tepat waktu akan dikasih penghargaan, dan seorang yang telah akan mendapat hukuman. Dalam metode ini adanya unsur pemaksaan yang bersifat mengikat, yang mengakibatkan adanya hukum sebab akibat. Disebabkan saya tidak terlambat, maka saya dapat hadiah, dan disebabkan saya terlambah, maka saya mendapat hukuman.
  2. Disiplin Ala Kopasus. Dalam metode ini, kita di paksa untuk mengikuti kedisiplinan dari kopasus atau sejenis yang lainnya. Ya, disini pun masih ada paksaan untuk melakukan sesuatu, yang walaupun hanya satu arah. Ketika saya tidak berdisiplin, maka saya akan kena hukuman. Mungkin singkatnya seperti itu
  3. Disiplin ala Salahudin Al Ayubi. Ketika hendak memimpin perang dalam penaklukan Palestina, beliau mendisiplinkan pasukannya dengan sholat berjamaah. Ya, sholat berjamaah.
    Sholat berjmaah merupakan metode yang paling ampuh untuk mendisiplinkan diri. Seseorang tidak dipaksa secara lahiriyah, akan tetapi itu berasal dari dalam hatinya. berbeda dengan no satu dan dua. Disiplin ala Salahudin Al Ayubi ini merupakan sebuah contoh yang patuh ditiru oleh semua orang untuk mendisiplinkan diri.
Ya mungkin hanya itu saya, tidak etis rasanya, ketika post ini dibuat, waktu sudah menunjukan 23.30 dengan ditemani lagi Shotul Harakah yang berjudul Lirih Pembebas yang mana itu sudah larut malem dan sudah tidak disiplin dalam hal tidur.








Jarkom,, Kumpul rapat di Taman CD jam 7, jangan ngaret ya, harap di prioritaskan. 

 Itu yang tertera di HP yang mana biasanya sering di dapat oleh orang orang yang biasa mengikuti organisasi. Kurang lebih seperti itu lah kontennya. Ada kata Jarkom, ada Tempatnya, ada Waktunya, ada agendanya dan ada pula peringatan dan himbauannya.

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa di Indonesia terkenal dengan jam karetnya. Mau masuk kuliah, ngaret, mau kumpul rapat, ngaret, mau jalan-jalan, ngaret, mau maen futsal, ngaret, mau naek angkot, ngaret, mau janjian kemana?, ngaret juga, tapi intinya, ketika kita sudah janjian untuk ketemu atau melakukan suatu agenda pada waktu tertentu, kenapa ngaret ini selalu menghantui ?

Ya, mungkin penyebab pertama seringnya terjadi ngaret itu karena kurangnya kepedulian dari kita sendiri. Kita hanya memikirkan diri kita sendiri, misalnya ketika telah janjian untuk bertemu , dan kita melakukan "ngaret" mungkin banyak yang berpikir ketika kita ngaret, hanya kita yang rugi tetapi patut disadari, bahwa orang lain pun merasa dirugikan oleh anda. Misalnya, ada rapat jam 7. Ketika itu anda datang jam 7.20. Ketahuilah oleh anda, bahwa anda telah membuat orang orang yang telah datang untuk menunda rapatnya sekitar 20 menit, hanya untuk menunggu anda. Apakah anda pikir orang lain tidak punya keperluan lain ?

Yang kedua mungkin kurangnya kita dalam mendisiplinkan diri untuk tepat waktu. ahhhh, kata disiplin itu sudah kita dengar, kita tulis, sudah kita lihat sejak kita Sekolah dasar, bahkan sejak kita kecil. Akan tetapi, ketika kita mendisiplinkan diri untuk tepat waktu, kadang kadang kita suka tertarik dengan kebanyakan orang yang telah. Misalnya, kita selalu On time jika janjian. akan tetapi yang lainnya selalu ngaret. lama kelamaan, kita aga mulai jenuh untuk on time, dan memutuskan untuk tidak on time seperti biasa. Ini yang bisa saya bilang salah. jika on time itu diibaratkan kebaikan maka "Tetaplah berbuat baik, walaupun disekelilingmu berbuat hal yang tidak baik."




Yang ketika mungkin Istiqomah. Ketika kita telah mengetahui bahwa dampak dari kengaretan diri kita akan merugikan orang lain, dan kita untuk mendisiplinkan diri untuk on time, maka selanjutnya itu kita harus mengkonsistenkan diri agar bisa selalu on time. Sangat mudah dalam On time, akan tetapi aga sulit untuk istiqomah dalam On time.

Biasanya ada cara cara yang digunakan, agar seseorang itu / sekolompok itu dapat menghargai waktu, dapat menghargai orang yang diajak kumpul, dan menghargai apa yang berharga yang lainnya. Disini akan saya coba tuangkan 3 metode yang terpikir di otak ini .

  1. Reward and Punishment. Dalam metode ini, seseorang yang datang tepat waktu akan dikasih penghargaan, dan seorang yang telah akan mendapat hukuman. Dalam metode ini adanya unsur pemaksaan yang bersifat mengikat, yang mengakibatkan adanya hukum sebab akibat. Disebabkan saya tidak terlambat, maka saya dapat hadiah, dan disebabkan saya terlambah, maka saya mendapat hukuman.
  2. Disiplin Ala Kopasus. Dalam metode ini, kita di paksa untuk mengikuti kedisiplinan dari kopasus atau sejenis yang lainnya. Ya, disini pun masih ada paksaan untuk melakukan sesuatu, yang walaupun hanya satu arah. Ketika saya tidak berdisiplin, maka saya akan kena hukuman. Mungkin singkatnya seperti itu
  3. Disiplin ala Salahudin Al Ayubi. Ketika hendak memimpin perang dalam penaklukan Palestina, beliau mendisiplinkan pasukannya dengan sholat berjamaah. Ya, sholat berjamaah.
    Sholat berjmaah merupakan metode yang paling ampuh untuk mendisiplinkan diri. Seseorang tidak dipaksa secara lahiriyah, akan tetapi itu berasal dari dalam hatinya. berbeda dengan no satu dan dua. Disiplin ala Salahudin Al Ayubi ini merupakan sebuah contoh yang patuh ditiru oleh semua orang untuk mendisiplinkan diri.
Ya mungkin hanya itu saya, tidak etis rasanya, ketika post ini dibuat, waktu sudah menunjukan 23.30 dengan ditemani lagi Shotul Harakah yang berjudul Lirih Pembebas yang mana itu sudah larut malem dan sudah tidak disiplin dalam hal tidur.









Ini merupakan Kultwuit yang ditulis oleh Ustd Salim A Fillah. Mudah mudahan dapat menjadi penyemangat ketika malas menjadi Motivasi ketika kehilangan asa, menjadi penyegar ketika lesu.



1. Menulis adalah mengikat ilmu & pemahaman. Akal kita sebagai kurniaNya, begitu agung dayanya menampung sedemikian banyak data-data. #Write

2. Tapi kita kadang sulit memanggil apa nan telah tersimpan lama; ilmu dahulu itu berkeliaran & bersembunyi di jalur rumit otak kita. #Write

3. Maka menulis adalah menyusun kata kunci tuk buka khazanah akal; sekata tuk sealinea, sekalimat tuk se-bab, separagraf tuk sekitab. #Write

4. Demikianlah kita fahami kalimat indah Asy Syafi’i; ilmu adalah binatang buruan, & pena yang menuliskan adalah tali pengikatnya. #Write

5. Menulis juga jalan merekam jejak pemahaman; kita lalui usia dengan memohon ditambah ilmu & dikaruniai pengertian; adakah kemajuan? #Write

6. Itu bisa kita tahu jika kita rekam sang ilmu dalam lembaran; kita bisa melihat perkembangannya hari demi hari, bulan demi bulan. #Write

7. Jika tulisan kita 3 bulan lalu telah bisa kita tertawai; maka terbaca adanya kemajuan. Jika masih terkagum juga; itu menyedihkan. #Write

8. Lebih lanjut; menulis adalah mengujikan pemahaman kepada khalayak; yang dari berbagai sisi bisa memberi penyeksamaan & penilaian. #Write

9. Kita memang membaca buku, menyimak kajian, hadir dalam seminar & sarasehan; tapi kebenaran pemahaman kita belum tentu terjaminkan. #Write

10. Maka menulislah; agar jutaan pembaca menjadi guru yang meluruskan kebengkokan, mengingatkan keterluputan, membetulkan kekeliruan. #Write

11. Penulis hakikatnya menyapa dengan ilmu; maka ia berbalas tambahan pengertian; kian bening, kian luas, kian dalam, kian tajam. #Write

12. Agungnya lagi; sang penulis merentangkan ilmunya melampaui batas-batas waktu & ruang. Ia tak dipupus usia, tak terhalang jarak. #Write

13. Adagium Latin itu tak terlalu salah; Verba Volant, Scripta Manent. Yang terucap kan lenyap tak berjejak, yang tertulis mengabadi. #Write

14. Tapi bagi kita, makna keabadian karya bukan hanya soal masyhurnya nama; ia tentang pewarisan nilai; kemaslahatan atau kerusakan. #Write

15. Andaikan benar bahwa Il Principe yang dipersembahkan Niccolo Machiavelli pada Cesare de Borgia itu jadi kawan tidur para tiran… #Write

16. ..seperti terisyu tentang Napoleon, Hitler, & Stalin; akankah dia bertanggungjawab atas berbagai kezhaliman nan terilham bukunya? #Write

17. Sebab bukan hanya pahala yang bersifat ‘jariyah’; melainkan ada juga dosa yang terus mengalir. Menjadi penulis adalah pertaruhan. #Write

18. Mungkin tak separah Il Principe; tapi tiap kata yang mengalir dari jemari ini juga berpeluang menjadi keburukan berrantai-rantai. #Write

19. Dan bahagialah bakda pengingat; huruf bisa menjelma dzarrah kebajikan; percikan ilhamnya tak putus mencahaya sampai kiamat tiba. #Write

20. Lalu terkejutlah para penulis kebenaran, kelak ketika catatan amal diserahkan, “Ya Rabbi, bagaimana bisa pahalaku sebanyak ini?” #Write

21. Moga kelak dijawabNya, “Ya, amalmu sedikit, dosamu berbukit; tapi inilah pahala tak putus dari ilham kebajikan nan kau tebarkan.” #Write

22. Tulisan sahih & mushlih; jadi jaring yang melintas segala batas; menjerat pahala orang terilham tanpa mengurangi si bersangkutan. #Write

23. Menulis juga bagian dari tugas iman; sebab makhluq pertama ialah pena, ilmu pertama ialah bahasa, & ayat pertama berbunyi “Baca!” #Write

24. Tersebut di HR Ahmad & ditegaskan Ibn Taimiyah dalam Fatawa, “Makhluq pertama yang diciptaNya ialah pena, lalu Dia berfirman… #Write

25. ..”Tulislah!” Tanya Pena; “Apa yang kutulis, Rabbi?” Kata Allah; “Tulis segala ketentuan yang Kutakdirkan bagi semua makhluqKu.” #Write

26. Adapun ilmu yang diajarkan pada Adam & membuatnya unggul atas malaikat nan lalu bersujud adalah bahasa; kosa kata. (QS 2: 31) #Write

27. Dan “Baca!”; wahyu pertama. Bangsa Arab nan mengukur kecerdasan dari kuatnya hafalan hingga memandang rendah tulis-baca , tiba-tiba meloncat ke ufuk, jadi guru semesta. #Write

29. Muhammad hadir bukan dengan mu’jizat yang membelalakkan; dia datang dengan kata-kata yang menukik-menghunjam, disebut ‘Bacaan’. #Write

30. Maka Islam menjelma peradaban Ilmiah, dengan pena sebagai pilarnya; wawasan tertebar mengantar kemaslahatan ke seantero dunia. #Write

31. Semoga Allah berkahi tiap kata yang mengalir dari ujung jemari kita; sungguh, buku dapat menggugah jiwa manusia & mengubah dunia. #Write

32. Bagaimana sebuah tulisan bisa mengilhami; tak tersia, tak jadi tragika, & tak menjatuhkan penulisnya dalam gelimang kemalangan? #Write

33. Saya mencermati setidaknya ada 3 kekuatan yang harus dimiliki seorang penulis menggugah; Daya Ketuk, Daya Isi, & Daya Memahamkan. #Write

34. Daya Ketuk ini paling berat dibahas; yang mericau ini pun masih jauh & terus belajar. Ia masalah hati; terkait niat & keikhlasan. #Write

35. Pertama, marilah jawab ini: 1} Mengapa saya harus menulis? 2} Mengapa ia harus ditulis? 3} Mengapa harus saya yang menuliskannya? #Write

36. Seberapa kuat makna jawaban kita atas ke-3 tanya ini, menentukan seberapa besar daya tahan kita melewati aneka tantangan menulis. #Write

37. Alasan kuat tentang diri, tema, & akibat dunia-akhirat jika tak ditulis; akan menggairahkan, menggerakkan, membakar, menekunkan. #Write

38. Keterlibatan hati & jiwa dengan niat menyala itulah yang mengantarkan tulisan ke hati pembaca; mengetuk, menyentuh, menggerakkan. #Write

39. Tetapi; tak cukup hanya hati bergairah & semangat menyala saja jika yang kita kehendaki adalah keinsyafan suci di hati pembaca. #Write

40. Menulis memerlukan kata yang agung & berat itu; IKHLAS. Kemurnian. Harap & takut hanya padaNya. Cinta kebenaran di atas segala. #Write

41. Allah gambarkan keikhlasan sejati bagai susu; terancam darah & kotoran, tapi terupayakan; murni, bergizi, memberi tenaga suci… #Write

42. …dan mudah diasup, nyaman ditelan, lancar dicerna oleh peminum-peminumnya, menjadi daya untuk bertaat & bertaqwa (QS 16: 66). #Write

43. Maka menjadi penulis yang ikhlas sungguh payah & tak mudah; ada goda kotoran & darah; kekayaan & kemasyhuran, riya’ & sum’ah. #Write

44. Jika ia berhasil dilampaui; jadilah tulisan, ucapan & perbuatan sang penulis bergizi, memberi arti, mudah dicerna jadi amal suci. #Write

45. Sebaliknya; penulis tak ikhlas itu; tulisannya bagai susu dicampur kotoran & darah, racun & limbah; lalu disajikan pada pembaca. #Write

46. Ya Rabbi; ampuni bengkoknya niat di hati, ampuni bocornya syahwat itu & ini, di tiap kali kami gerakkan jemari menulis & berbagi. #Write

47. Sebab susu tak murni, tulisan tak ikhlas, memungkinkan 2 hal: a) pembaca muak, mual, & muntah bahkan saat baru mengamati awalnya. #Write

48. Atau lebih parah: b) pembaca begitu rakus melahap tulisan kita; tapi yang tumbuh di jiwanya justru penyakit-penyakit berbahaya. #Write

49. Menulis berkeikhlasan, menabur benih kemurnian; agar Allah tumbuhkan di hati pembaca pohon ketaqwaan. Itulah daya ketuk sejati. #Write

50. Daya sentuh, daya ketuk, daya sapa di hati pembaca; bukan didapat dari wudhu’ & shalat yang dilakukan semata niat menoreh kata… #Write

51. …Ia ada ketika kegiatan menghubungkan diri dengan Dzat Maha Perkasa, semuanya; bukan rekayasa, tapi telah menyatu dengan jiwa.. #Write

52. …lalu menulis itu sekedar 1 dari berbagai pancaran cahaya yang kemilau dari jiwanya; menggenapi semua keshalihan nan mengemuka. #Write

53. Setelah Daya Ketuk, penulis harus ber-Daya Isi. Mengetuk tanpa mengisi membuat pembaca ternganga, tapi lalu bingung berbuat apa. #Write

54. Daya Ketuk membuat pembaca terinsyaf & tergugah; tapi jika isi yang kemudian dilahap cacat, timpang, rusak; jadilah masalah baru. #Write

55. Daya Isi adalah soal ilmu. Mahfuzhat Arab itu sungguh benar; “Faqidusy Syai’, Laa Yu’thi: yang tak punya, takkan bisa memberi.” #Write

56. Menjadi penulis adalah menempuh jalan ilmu & berbagi; membaca ayat-ayat tertulis; menjala hikmah-hikmah tertebar. Tanpa henti. #Write

57. Ia menyimak apa yang difirmankan Tuhannya, mencermati yang memancar dari hidup RasulNya; & membawakan makna ke alam tinggalnya. #Write

58. Dia fahami ilmu tanpa mendikotomi; tapi tetap tahu di mana menempatkan yang mutlak terhadap yang nisbi; mencerahkan akal & hati. #Write

59. Penulis sejati memiliki rujukan yang kuat, tetapi bukan tukang kutip. Segala yang disajikan telah melalui proses internalisasi. #Write

60. Penulis sejati kokoh berdalil bukan hanya atas yang tampak pada teks; tapi disertai kefahaman latar belakang & kedalaman tafsir. #Write

61. Dengan proses internalisasi; semua data & telaah yang disajikan jadi matang & lezat dikunyah; pembacanya mengasup ramuan bergizi. #Write

62. Sebab konon ‘tak ada yang baru di bawah matahari’; tugas penulis sebenarnya memang cuma meramu hal-hal lama agar segar kembali. #Write

63. Atau mengungkap hal-hal yang sudah ada, tapi belum luas dikenali. Diperlukan ketekunan untuk melihat 1 masalah dari banyak sisi. #Write

64. Atau mengingatkan kembali hal-hal yang sesungguhnya telah luas difahami; agar jiwa-jiwa yang baik tergerak kuat untuk bertindak. #Write

65. Maka dia suka menghubungkan titik temu aneka ilmu, penuh pemaknaan segar & baru, dengan tetap berpegang kaidah sahih & tertentu. #Write

66. Dia hubungkan makna nan kaya; fikih & tarikh; dalil & kisah; teks & konteks; fakta & sastra; penelitian ilmiah & rasa insaniyah. #Write

67. Dia menularkan jalan ilmu untuk tak henti menggali; tulisannya tak membuat orang mengangguk berdiam diri; tapi kian haus mencari. #Write

68. Ia bawakan pemaknaan penuh warna; beda bagi tiap pembaca; beda bagi pembaca sama di saat berbeda. Membaru & mengilhami selalu. #Write

69. Maka karyanya melahirkan karya; syarah & penjelasan, catatan tepi & catatan kaki, juga sisi lain pembahasan, & bahkan bantahan. #Write

70. Setelah Daya Ketuk & Daya Isi; seorang penulis kan kokoh & luas kemanfaatannya jika mampu menguasai Daya Memahamkan pada pembaca. #Write

71. Seorang penulis menggugah memulai Daya Memahamkan-nya dengan 1 pengakuan jujur; dia bukanlah yang terpandai di antara manusia. #Write

72. Sang penulis sejati juga memahami; banyak di antara pembacanya yang jauh lebih berilmu & berwawasan dibandingkan dirinya sendiri. #Write

73. Dalam hati, dia mencegah munculnya rasa lebih berilmu daripada pembacanya: “Aku tahu. Kamu tidak tahu. Maka bacalah, kuberitahu.” #Write

74. Setiap tulisan & buku yang disusun dengan sikap jiwa penulis “Aku tahu! Kamu tak tahu!” pasti berat & membuat penat saat dibaca. #Write

75. Kadang senioritas atau lebih tingginya jenjang pendidikan tak sengaja melahirkan sikap jiwa itu. Sang penulis merasa lebih tahu. #Write

76. Mungkin itu menjelaskan; mengapa beberapa textbook kuliahan tak ramah dibaca. Penulisnya Prof., pembacanya belum lama lulus SMA. #Write

77. Sikap jiwa kepenulisan harus diubah; dari “Aku tahu! Kamu tak tahu!” menjadi suatu rasa nan lebih adil, haus ilmu, & rendah hati. #Write

78. Penulis sejati ukirkan semboyan, “Hanya sedikit ini yang kutahu, kutulis ia untukmu, maka berbagilah denganku apa yang kau tahu.” #Write

79. Penulis sejati sama sekali tak berniat mengajari. Dia cuma berbagi; menunjukkan kebodohannya pada pembaca agar mereka mengoreksi. #Write

80. Penulis sejati berhasrat tuk diluruskan kebengkokannya, ditunjukkan kelirunya, diluaskan pemahamannya, dilengkapi kekurangannya. #Write

81. Penulis sejati jadikan dirinya bagai murid yang mengajukan hasil karangan pada guru; berribu pembaca menjelma dosen berjuta ilmu. #Write

82. Inilah yang jadikan tulisan akrab & lezat disantap; pertama-tama sebab penulisnya adil menilai pembaca, haus ilmu, & rendah hati. #Write

83. Pada sikap sebaliknya, kita akan menemukan tulisan yang berribu kali membuat berkerut dahi, tapi pembacanya tak kunjung memahami. #Write

84. Lebih parahnya; keinginan untuk tampil lebih pandai & tampak berilmu di mata pembaca sering membuat akal macet & jemari terhenti. #Write

85. Jika lolos tertulis; ianya jadi kegenitan intelektual; inginnya dianggap cerdas dengan banyak istilah yang justru membuat mual. #Write

86. Kesantunan Allah jadi pelajaran buat kita. RasulNya menegaskan surga itu tak terbayangkan. Tapi dalam firmanNya, Dia menjelaskan. #Write

87. Dia gambarkan surga dalam paparan yang mudah dicerna akal manusia; taman hijau, sungai mengalir, naungan rindang, buahan dekat.. #Write

88. ..duduk bertelekan di atas dipan, dipakaikan sutra halus & tebal, pelayan hilir mudik siap sedia, bidadari cantik bermata jeli.. #Write

89. Allah Maha Tahu, tak bersombong dengan ilmu; Dia kenalkan diriNya bukan sebagai Ilah awal-awal, melainkan Rabb nan lebih dikenal. #Write

90. Penulis sejati menghayati pesan Nabi; bicaralah pada kaum sesuai kadar pemahamannya, bicara dengan bahasa yang dimengerti mereka. #Write

91. Penulis sejati mengerti; dalam keterbatasan ilmu nan dimiliki, tugasnya menyederhanakan yang pelik, bukan merumitkan yang mudah. #Write

92. Itupun tidak dalam rangka mengajari; tapi berbagi. Dia haus tuk menjala umpan balik dari pembaca; kritik, koreksi, & tambah data. #Write

93. Penulis sejati juga tahu; yang paling berhak mengamalkan isi anggitannya adalah dirinya sendiri. Daya Memahamkan berhulu di sini. #Write

94. Sebab seringkali kegagalan penulis memahamkan pembaca disebabkan diapun tak memahami apa yang ditulisnya itu dalam amal nyata. #Write

95. Begitulah Daya Memahamkan; dimulai dengan sikap jiwa yang adil, haus ilmu, & rendah hati terhadap pembaca kita, lalu dikuatkan.. #Write

96. ..dengan tekad bulat tuk jadi orang pertama yang mengamalkan tulisan, & berbagi pada pembaca secara hangat, akrab, penuh cinta. #Write

97. Kali ini, tercukup sekian ya Shalih(in+at) bincang #Write. Maafkan tak melangkah ke hal teknis, sebab banyak nan lebih ahli tentangnya:)

98. Kita lalu tahu; menulis bukanlah profesi tunggal & mandiri. Ia lekat pada kesejatian hidup sang mukmin; tebar cahaya pada dunia. #Write

99. Maka menulis hanya salah satu konsekuensi sekaligus sarana bagi si mukmin tuk menguatkan iman, ‘amal shalih, & saling menasehati. #Write



Ini merupakan Kultwuit yang ditulis oleh Ustd Salim A Fillah. Mudah mudahan dapat menjadi penyemangat ketika malas menjadi Motivasi ketika kehilangan asa, menjadi penyegar ketika lesu.



1. Menulis adalah mengikat ilmu & pemahaman. Akal kita sebagai kurniaNya, begitu agung dayanya menampung sedemikian banyak data-data. #Write

2. Tapi kita kadang sulit memanggil apa nan telah tersimpan lama; ilmu dahulu itu berkeliaran & bersembunyi di jalur rumit otak kita. #Write

3. Maka menulis adalah menyusun kata kunci tuk buka khazanah akal; sekata tuk sealinea, sekalimat tuk se-bab, separagraf tuk sekitab. #Write

4. Demikianlah kita fahami kalimat indah Asy Syafi’i; ilmu adalah binatang buruan, & pena yang menuliskan adalah tali pengikatnya. #Write

5. Menulis juga jalan merekam jejak pemahaman; kita lalui usia dengan memohon ditambah ilmu & dikaruniai pengertian; adakah kemajuan? #Write

6. Itu bisa kita tahu jika kita rekam sang ilmu dalam lembaran; kita bisa melihat perkembangannya hari demi hari, bulan demi bulan. #Write

7. Jika tulisan kita 3 bulan lalu telah bisa kita tertawai; maka terbaca adanya kemajuan. Jika masih terkagum juga; itu menyedihkan. #Write

8. Lebih lanjut; menulis adalah mengujikan pemahaman kepada khalayak; yang dari berbagai sisi bisa memberi penyeksamaan & penilaian. #Write

9. Kita memang membaca buku, menyimak kajian, hadir dalam seminar & sarasehan; tapi kebenaran pemahaman kita belum tentu terjaminkan. #Write

10. Maka menulislah; agar jutaan pembaca menjadi guru yang meluruskan kebengkokan, mengingatkan keterluputan, membetulkan kekeliruan. #Write

11. Penulis hakikatnya menyapa dengan ilmu; maka ia berbalas tambahan pengertian; kian bening, kian luas, kian dalam, kian tajam. #Write

12. Agungnya lagi; sang penulis merentangkan ilmunya melampaui batas-batas waktu & ruang. Ia tak dipupus usia, tak terhalang jarak. #Write

13. Adagium Latin itu tak terlalu salah; Verba Volant, Scripta Manent. Yang terucap kan lenyap tak berjejak, yang tertulis mengabadi. #Write

14. Tapi bagi kita, makna keabadian karya bukan hanya soal masyhurnya nama; ia tentang pewarisan nilai; kemaslahatan atau kerusakan. #Write

15. Andaikan benar bahwa Il Principe yang dipersembahkan Niccolo Machiavelli pada Cesare de Borgia itu jadi kawan tidur para tiran… #Write

16. ..seperti terisyu tentang Napoleon, Hitler, & Stalin; akankah dia bertanggungjawab atas berbagai kezhaliman nan terilham bukunya? #Write

17. Sebab bukan hanya pahala yang bersifat ‘jariyah’; melainkan ada juga dosa yang terus mengalir. Menjadi penulis adalah pertaruhan. #Write

18. Mungkin tak separah Il Principe; tapi tiap kata yang mengalir dari jemari ini juga berpeluang menjadi keburukan berrantai-rantai. #Write

19. Dan bahagialah bakda pengingat; huruf bisa menjelma dzarrah kebajikan; percikan ilhamnya tak putus mencahaya sampai kiamat tiba. #Write

20. Lalu terkejutlah para penulis kebenaran, kelak ketika catatan amal diserahkan, “Ya Rabbi, bagaimana bisa pahalaku sebanyak ini?” #Write

21. Moga kelak dijawabNya, “Ya, amalmu sedikit, dosamu berbukit; tapi inilah pahala tak putus dari ilham kebajikan nan kau tebarkan.” #Write

22. Tulisan sahih & mushlih; jadi jaring yang melintas segala batas; menjerat pahala orang terilham tanpa mengurangi si bersangkutan. #Write

23. Menulis juga bagian dari tugas iman; sebab makhluq pertama ialah pena, ilmu pertama ialah bahasa, & ayat pertama berbunyi “Baca!” #Write

24. Tersebut di HR Ahmad & ditegaskan Ibn Taimiyah dalam Fatawa, “Makhluq pertama yang diciptaNya ialah pena, lalu Dia berfirman… #Write

25. ..”Tulislah!” Tanya Pena; “Apa yang kutulis, Rabbi?” Kata Allah; “Tulis segala ketentuan yang Kutakdirkan bagi semua makhluqKu.” #Write

26. Adapun ilmu yang diajarkan pada Adam & membuatnya unggul atas malaikat nan lalu bersujud adalah bahasa; kosa kata. (QS 2: 31) #Write

27. Dan “Baca!”; wahyu pertama. Bangsa Arab nan mengukur kecerdasan dari kuatnya hafalan hingga memandang rendah tulis-baca , tiba-tiba meloncat ke ufuk, jadi guru semesta. #Write

29. Muhammad hadir bukan dengan mu’jizat yang membelalakkan; dia datang dengan kata-kata yang menukik-menghunjam, disebut ‘Bacaan’. #Write

30. Maka Islam menjelma peradaban Ilmiah, dengan pena sebagai pilarnya; wawasan tertebar mengantar kemaslahatan ke seantero dunia. #Write

31. Semoga Allah berkahi tiap kata yang mengalir dari ujung jemari kita; sungguh, buku dapat menggugah jiwa manusia & mengubah dunia. #Write

32. Bagaimana sebuah tulisan bisa mengilhami; tak tersia, tak jadi tragika, & tak menjatuhkan penulisnya dalam gelimang kemalangan? #Write

33. Saya mencermati setidaknya ada 3 kekuatan yang harus dimiliki seorang penulis menggugah; Daya Ketuk, Daya Isi, & Daya Memahamkan. #Write

34. Daya Ketuk ini paling berat dibahas; yang mericau ini pun masih jauh & terus belajar. Ia masalah hati; terkait niat & keikhlasan. #Write

35. Pertama, marilah jawab ini: 1} Mengapa saya harus menulis? 2} Mengapa ia harus ditulis? 3} Mengapa harus saya yang menuliskannya? #Write

36. Seberapa kuat makna jawaban kita atas ke-3 tanya ini, menentukan seberapa besar daya tahan kita melewati aneka tantangan menulis. #Write

37. Alasan kuat tentang diri, tema, & akibat dunia-akhirat jika tak ditulis; akan menggairahkan, menggerakkan, membakar, menekunkan. #Write

38. Keterlibatan hati & jiwa dengan niat menyala itulah yang mengantarkan tulisan ke hati pembaca; mengetuk, menyentuh, menggerakkan. #Write

39. Tetapi; tak cukup hanya hati bergairah & semangat menyala saja jika yang kita kehendaki adalah keinsyafan suci di hati pembaca. #Write

40. Menulis memerlukan kata yang agung & berat itu; IKHLAS. Kemurnian. Harap & takut hanya padaNya. Cinta kebenaran di atas segala. #Write

41. Allah gambarkan keikhlasan sejati bagai susu; terancam darah & kotoran, tapi terupayakan; murni, bergizi, memberi tenaga suci… #Write

42. …dan mudah diasup, nyaman ditelan, lancar dicerna oleh peminum-peminumnya, menjadi daya untuk bertaat & bertaqwa (QS 16: 66). #Write

43. Maka menjadi penulis yang ikhlas sungguh payah & tak mudah; ada goda kotoran & darah; kekayaan & kemasyhuran, riya’ & sum’ah. #Write

44. Jika ia berhasil dilampaui; jadilah tulisan, ucapan & perbuatan sang penulis bergizi, memberi arti, mudah dicerna jadi amal suci. #Write

45. Sebaliknya; penulis tak ikhlas itu; tulisannya bagai susu dicampur kotoran & darah, racun & limbah; lalu disajikan pada pembaca. #Write

46. Ya Rabbi; ampuni bengkoknya niat di hati, ampuni bocornya syahwat itu & ini, di tiap kali kami gerakkan jemari menulis & berbagi. #Write

47. Sebab susu tak murni, tulisan tak ikhlas, memungkinkan 2 hal: a) pembaca muak, mual, & muntah bahkan saat baru mengamati awalnya. #Write

48. Atau lebih parah: b) pembaca begitu rakus melahap tulisan kita; tapi yang tumbuh di jiwanya justru penyakit-penyakit berbahaya. #Write

49. Menulis berkeikhlasan, menabur benih kemurnian; agar Allah tumbuhkan di hati pembaca pohon ketaqwaan. Itulah daya ketuk sejati. #Write

50. Daya sentuh, daya ketuk, daya sapa di hati pembaca; bukan didapat dari wudhu’ & shalat yang dilakukan semata niat menoreh kata… #Write

51. …Ia ada ketika kegiatan menghubungkan diri dengan Dzat Maha Perkasa, semuanya; bukan rekayasa, tapi telah menyatu dengan jiwa.. #Write

52. …lalu menulis itu sekedar 1 dari berbagai pancaran cahaya yang kemilau dari jiwanya; menggenapi semua keshalihan nan mengemuka. #Write

53. Setelah Daya Ketuk, penulis harus ber-Daya Isi. Mengetuk tanpa mengisi membuat pembaca ternganga, tapi lalu bingung berbuat apa. #Write

54. Daya Ketuk membuat pembaca terinsyaf & tergugah; tapi jika isi yang kemudian dilahap cacat, timpang, rusak; jadilah masalah baru. #Write

55. Daya Isi adalah soal ilmu. Mahfuzhat Arab itu sungguh benar; “Faqidusy Syai’, Laa Yu’thi: yang tak punya, takkan bisa memberi.” #Write

56. Menjadi penulis adalah menempuh jalan ilmu & berbagi; membaca ayat-ayat tertulis; menjala hikmah-hikmah tertebar. Tanpa henti. #Write

57. Ia menyimak apa yang difirmankan Tuhannya, mencermati yang memancar dari hidup RasulNya; & membawakan makna ke alam tinggalnya. #Write

58. Dia fahami ilmu tanpa mendikotomi; tapi tetap tahu di mana menempatkan yang mutlak terhadap yang nisbi; mencerahkan akal & hati. #Write

59. Penulis sejati memiliki rujukan yang kuat, tetapi bukan tukang kutip. Segala yang disajikan telah melalui proses internalisasi. #Write

60. Penulis sejati kokoh berdalil bukan hanya atas yang tampak pada teks; tapi disertai kefahaman latar belakang & kedalaman tafsir. #Write

61. Dengan proses internalisasi; semua data & telaah yang disajikan jadi matang & lezat dikunyah; pembacanya mengasup ramuan bergizi. #Write

62. Sebab konon ‘tak ada yang baru di bawah matahari’; tugas penulis sebenarnya memang cuma meramu hal-hal lama agar segar kembali. #Write

63. Atau mengungkap hal-hal yang sudah ada, tapi belum luas dikenali. Diperlukan ketekunan untuk melihat 1 masalah dari banyak sisi. #Write

64. Atau mengingatkan kembali hal-hal yang sesungguhnya telah luas difahami; agar jiwa-jiwa yang baik tergerak kuat untuk bertindak. #Write

65. Maka dia suka menghubungkan titik temu aneka ilmu, penuh pemaknaan segar & baru, dengan tetap berpegang kaidah sahih & tertentu. #Write

66. Dia hubungkan makna nan kaya; fikih & tarikh; dalil & kisah; teks & konteks; fakta & sastra; penelitian ilmiah & rasa insaniyah. #Write

67. Dia menularkan jalan ilmu untuk tak henti menggali; tulisannya tak membuat orang mengangguk berdiam diri; tapi kian haus mencari. #Write

68. Ia bawakan pemaknaan penuh warna; beda bagi tiap pembaca; beda bagi pembaca sama di saat berbeda. Membaru & mengilhami selalu. #Write

69. Maka karyanya melahirkan karya; syarah & penjelasan, catatan tepi & catatan kaki, juga sisi lain pembahasan, & bahkan bantahan. #Write

70. Setelah Daya Ketuk & Daya Isi; seorang penulis kan kokoh & luas kemanfaatannya jika mampu menguasai Daya Memahamkan pada pembaca. #Write

71. Seorang penulis menggugah memulai Daya Memahamkan-nya dengan 1 pengakuan jujur; dia bukanlah yang terpandai di antara manusia. #Write

72. Sang penulis sejati juga memahami; banyak di antara pembacanya yang jauh lebih berilmu & berwawasan dibandingkan dirinya sendiri. #Write

73. Dalam hati, dia mencegah munculnya rasa lebih berilmu daripada pembacanya: “Aku tahu. Kamu tidak tahu. Maka bacalah, kuberitahu.” #Write

74. Setiap tulisan & buku yang disusun dengan sikap jiwa penulis “Aku tahu! Kamu tak tahu!” pasti berat & membuat penat saat dibaca. #Write

75. Kadang senioritas atau lebih tingginya jenjang pendidikan tak sengaja melahirkan sikap jiwa itu. Sang penulis merasa lebih tahu. #Write

76. Mungkin itu menjelaskan; mengapa beberapa textbook kuliahan tak ramah dibaca. Penulisnya Prof., pembacanya belum lama lulus SMA. #Write

77. Sikap jiwa kepenulisan harus diubah; dari “Aku tahu! Kamu tak tahu!” menjadi suatu rasa nan lebih adil, haus ilmu, & rendah hati. #Write

78. Penulis sejati ukirkan semboyan, “Hanya sedikit ini yang kutahu, kutulis ia untukmu, maka berbagilah denganku apa yang kau tahu.” #Write

79. Penulis sejati sama sekali tak berniat mengajari. Dia cuma berbagi; menunjukkan kebodohannya pada pembaca agar mereka mengoreksi. #Write

80. Penulis sejati berhasrat tuk diluruskan kebengkokannya, ditunjukkan kelirunya, diluaskan pemahamannya, dilengkapi kekurangannya. #Write

81. Penulis sejati jadikan dirinya bagai murid yang mengajukan hasil karangan pada guru; berribu pembaca menjelma dosen berjuta ilmu. #Write

82. Inilah yang jadikan tulisan akrab & lezat disantap; pertama-tama sebab penulisnya adil menilai pembaca, haus ilmu, & rendah hati. #Write

83. Pada sikap sebaliknya, kita akan menemukan tulisan yang berribu kali membuat berkerut dahi, tapi pembacanya tak kunjung memahami. #Write

84. Lebih parahnya; keinginan untuk tampil lebih pandai & tampak berilmu di mata pembaca sering membuat akal macet & jemari terhenti. #Write

85. Jika lolos tertulis; ianya jadi kegenitan intelektual; inginnya dianggap cerdas dengan banyak istilah yang justru membuat mual. #Write

86. Kesantunan Allah jadi pelajaran buat kita. RasulNya menegaskan surga itu tak terbayangkan. Tapi dalam firmanNya, Dia menjelaskan. #Write

87. Dia gambarkan surga dalam paparan yang mudah dicerna akal manusia; taman hijau, sungai mengalir, naungan rindang, buahan dekat.. #Write

88. ..duduk bertelekan di atas dipan, dipakaikan sutra halus & tebal, pelayan hilir mudik siap sedia, bidadari cantik bermata jeli.. #Write

89. Allah Maha Tahu, tak bersombong dengan ilmu; Dia kenalkan diriNya bukan sebagai Ilah awal-awal, melainkan Rabb nan lebih dikenal. #Write

90. Penulis sejati menghayati pesan Nabi; bicaralah pada kaum sesuai kadar pemahamannya, bicara dengan bahasa yang dimengerti mereka. #Write

91. Penulis sejati mengerti; dalam keterbatasan ilmu nan dimiliki, tugasnya menyederhanakan yang pelik, bukan merumitkan yang mudah. #Write

92. Itupun tidak dalam rangka mengajari; tapi berbagi. Dia haus tuk menjala umpan balik dari pembaca; kritik, koreksi, & tambah data. #Write

93. Penulis sejati juga tahu; yang paling berhak mengamalkan isi anggitannya adalah dirinya sendiri. Daya Memahamkan berhulu di sini. #Write

94. Sebab seringkali kegagalan penulis memahamkan pembaca disebabkan diapun tak memahami apa yang ditulisnya itu dalam amal nyata. #Write

95. Begitulah Daya Memahamkan; dimulai dengan sikap jiwa yang adil, haus ilmu, & rendah hati terhadap pembaca kita, lalu dikuatkan.. #Write

96. ..dengan tekad bulat tuk jadi orang pertama yang mengamalkan tulisan, & berbagi pada pembaca secara hangat, akrab, penuh cinta. #Write

97. Kali ini, tercukup sekian ya Shalih(in+at) bincang #Write. Maafkan tak melangkah ke hal teknis, sebab banyak nan lebih ahli tentangnya:)

98. Kita lalu tahu; menulis bukanlah profesi tunggal & mandiri. Ia lekat pada kesejatian hidup sang mukmin; tebar cahaya pada dunia. #Write

99. Maka menulis hanya salah satu konsekuensi sekaligus sarana bagi si mukmin tuk menguatkan iman, ‘amal shalih, & saling menasehati. #Write

Friday, 12 October 2012


"Lu ngapain sih pulang, minggu kemaren baru aja pulang, masa minggu ini mau pulang lagi !!" ucap seorang sahabat kepada temannya.
Ya, perkuliahan di Kampus itu rata rata hanya dari Senin - Jum'at. Jadi rata rata mahasiswa yang domisili di Jabodetabek memanfaatkan sisa harinya (sabtu dan Minggu) untuk pulang ke Rumahnya.

Ya, mungkin di pikir pikir, orang/ mahasiswa yang asalnya dari Jabodetabek lebih sering pulang dari pada orang orang perantauan. Yaiyalah, mungkin pertimbangannya dari ongkos yang lebih murah atau bahasa elegantnya antara cost dan benefitnya lebih besar benefitnya, dan klo udah penempatan, takutnya agak susah untuk pulang sering sering (perkiraan Luar pulau jawa).

Mungkin, ini salah satu keunggulan yang dimiliki oleh mahasiswa yang disekitar Jakarta ya, ketika mereka bisa pulang setiap minggu. Terinspirasi dari tulisan ke Jamil Azzaini mengenai Cinta Perlu Bukti. di dalam tulisan itu di jelaskan bahwa dalam membuktikan cinta kita ada 3 hal yang harus kita penuhi :

  1. Memenuhi Keinginannya
  2. Sediakan waktu untuk mereka
  3. Kirimkan Pahala Untuk Mereka
Masih di dalam tulisan beliau, ketika kita ditanya mengenai kecintaan kita terhadap orang tua kita, misalnya ,  “Apakah Anda mencintai bapak dan ibu Anda?” Sebagian besar pasti menjawab, “Ya iyalah!” Tapi jika kemudian kita ditanya, “Apa buktinya bahwa Anda mencitai mereka?” Apa kira-kira jawaban kita? Berhentilah sejenak, renungkanlah apa bukti-bukti yang sudah kita lakukan sebagai perwujudan cinta Anda kepada orang tua.

Ya, pertanyaan diatas bisa kita jawab dengan 3 point diatas. yang pertama memenuhi keinginannya. tentunya keinginan disini tidak bertentangan dengan aturan Agama yah. nah yang ini masih bisa kita kita penuhi tanpa harus bertatap muka langsung dengan mereka.

Kemudian yang kedua, yaitu sediakan waktu untuk mereka. Bagaimana mungkin kita bisa sediakan waktu untuk mereka, jika kita tidak bertemu langsung ?  Iya, kita tahu mungkin dengan telepon juga bisa, tetapi itu berbeda antara bertemu langsung dengan telepon. Saya rasa kita sepakat semua dalam hal ini. Luangkanlah waktu kita untuk mereka sesibuk apapun kita. INGATLAH saat kita kecil, kita akan senang bila orang tua menemani kita. Saat kita sudah besar, orang tua sangat senang bila kita bisa sering menemani mereka. Saat mereka sakit, kehadiran kita sangatlah dirindukan. Sungguh terlalu bila orang tua sakit, kita tidak menyediakan waktu untuk menemaninya.

dan yang point yang ketiga, kirimlah Pahala untuk mereka. kita harus yakin bahwa setiap kebaikan dan amal sholeh yang kita lakukan, pahalanya juga akan mengalir kepada orang tua kita. karena merekalah yang mengajarkan kebaikan kepada kita. Sibukan diri kita dengan kebaikan. Ingatlah wajah mereka ketika kita akan melakukan maksiat, yang semoga dengannya kita akan mengurungkan maksiat itu karena teringat orang tua kita yang akan bersedih dengan apa yang kita lakukan.

Statement terakhir yang di tulis oleh kek Jamil Azzaini ini memberikan peringatan, bahwa :

Sadarilah, kita pasti tidak bisa membalas kebaikan orang tua. Walau seluruh ucapan terima kasih di dunia dijadikan satu kemudian dipersembahkan bagi mereka, itu amatlah sedikit dibandingkan dengan kasih sayang mereka. Lakukan tiga hal di atas, agar setidaknya kita tidak menyadang predikat anak durhaka.

Ya, Selagi kita dekat dengan orang tua kita, selagi belum dikirim ke penjuru Indonesia, sebelum merantau ke Daerah antah berantah, tidak ada salahnya untuk sering sering membersamai mereka.

untuk mereka yang selalu mendukung kita, kita katakan : kita mencintai dan menyayangi mereka (Ayah dan Ibu) karena Allah.


"Lu ngapain sih pulang, minggu kemaren baru aja pulang, masa minggu ini mau pulang lagi !!" ucap seorang sahabat kepada temannya.
Ya, perkuliahan di Kampus itu rata rata hanya dari Senin - Jum'at. Jadi rata rata mahasiswa yang domisili di Jabodetabek memanfaatkan sisa harinya (sabtu dan Minggu) untuk pulang ke Rumahnya.

Ya, mungkin di pikir pikir, orang/ mahasiswa yang asalnya dari Jabodetabek lebih sering pulang dari pada orang orang perantauan. Yaiyalah, mungkin pertimbangannya dari ongkos yang lebih murah atau bahasa elegantnya antara cost dan benefitnya lebih besar benefitnya, dan klo udah penempatan, takutnya agak susah untuk pulang sering sering (perkiraan Luar pulau jawa).

Mungkin, ini salah satu keunggulan yang dimiliki oleh mahasiswa yang disekitar Jakarta ya, ketika mereka bisa pulang setiap minggu. Terinspirasi dari tulisan ke Jamil Azzaini mengenai Cinta Perlu Bukti. di dalam tulisan itu di jelaskan bahwa dalam membuktikan cinta kita ada 3 hal yang harus kita penuhi :

  1. Memenuhi Keinginannya
  2. Sediakan waktu untuk mereka
  3. Kirimkan Pahala Untuk Mereka
Masih di dalam tulisan beliau, ketika kita ditanya mengenai kecintaan kita terhadap orang tua kita, misalnya ,  “Apakah Anda mencintai bapak dan ibu Anda?” Sebagian besar pasti menjawab, “Ya iyalah!” Tapi jika kemudian kita ditanya, “Apa buktinya bahwa Anda mencitai mereka?” Apa kira-kira jawaban kita? Berhentilah sejenak, renungkanlah apa bukti-bukti yang sudah kita lakukan sebagai perwujudan cinta Anda kepada orang tua.

Ya, pertanyaan diatas bisa kita jawab dengan 3 point diatas. yang pertama memenuhi keinginannya. tentunya keinginan disini tidak bertentangan dengan aturan Agama yah. nah yang ini masih bisa kita kita penuhi tanpa harus bertatap muka langsung dengan mereka.

Kemudian yang kedua, yaitu sediakan waktu untuk mereka. Bagaimana mungkin kita bisa sediakan waktu untuk mereka, jika kita tidak bertemu langsung ?  Iya, kita tahu mungkin dengan telepon juga bisa, tetapi itu berbeda antara bertemu langsung dengan telepon. Saya rasa kita sepakat semua dalam hal ini. Luangkanlah waktu kita untuk mereka sesibuk apapun kita. INGATLAH saat kita kecil, kita akan senang bila orang tua menemani kita. Saat kita sudah besar, orang tua sangat senang bila kita bisa sering menemani mereka. Saat mereka sakit, kehadiran kita sangatlah dirindukan. Sungguh terlalu bila orang tua sakit, kita tidak menyediakan waktu untuk menemaninya.

dan yang point yang ketiga, kirimlah Pahala untuk mereka. kita harus yakin bahwa setiap kebaikan dan amal sholeh yang kita lakukan, pahalanya juga akan mengalir kepada orang tua kita. karena merekalah yang mengajarkan kebaikan kepada kita. Sibukan diri kita dengan kebaikan. Ingatlah wajah mereka ketika kita akan melakukan maksiat, yang semoga dengannya kita akan mengurungkan maksiat itu karena teringat orang tua kita yang akan bersedih dengan apa yang kita lakukan.

Statement terakhir yang di tulis oleh kek Jamil Azzaini ini memberikan peringatan, bahwa :

Sadarilah, kita pasti tidak bisa membalas kebaikan orang tua. Walau seluruh ucapan terima kasih di dunia dijadikan satu kemudian dipersembahkan bagi mereka, itu amatlah sedikit dibandingkan dengan kasih sayang mereka. Lakukan tiga hal di atas, agar setidaknya kita tidak menyadang predikat anak durhaka.

Ya, Selagi kita dekat dengan orang tua kita, selagi belum dikirim ke penjuru Indonesia, sebelum merantau ke Daerah antah berantah, tidak ada salahnya untuk sering sering membersamai mereka.

untuk mereka yang selalu mendukung kita, kita katakan : kita mencintai dan menyayangi mereka (Ayah dan Ibu) karena Allah.


Suatu hari, pernah ga sih, kamu ngerasa, koq si ini lebih sempurna ya ?, Kq dia lebih ganteng ya, ? kq dia lebih pandai bicara ya, ? , Kq dia lebih tinggi ya?, kq dia lebih punya uang ya ? dan lebih lebih lainnya...
 pernah ga sih ?


Haha,, mungkin sebagian orang, bahkan semuanya itu pernah merasakan hal yang seperti ini. Ya mungkin itu suatu hal yang biasa, akan tetapi, tahukah kalian bahwa hal itu bisa termasuk kedalam hasad ?? Kenapa kita tidak mensyukuri apa yang kita punya sekarang? bukankah Allah di Surat Ibrahim ayat 7 telah memberikan gambaran yang jelas, bahwa ketika kita bersukur, maka nikmat kita akan di tambah ?


dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".

Kemudaian Menurut Imam Al Ghazali, Hasad terbagi menjadi 3 yaitu :
  1. berangan angan nikmat tersebut akan hilang dari orang lain dan berpindah ke diri sendiri
  2. Berangan angan nikmat itu hilang dari orang lain
  3. Tidak Berangan angan nikmat itu hilang dari orang lain, tetapi membenci kepada orang yang mempunyai nikmat tersebut dalam kekayaan dan kedudukan.
Nah lho, udah tau kan sekarang, hal hal yang diatas itu termasuk hasad. Terus bagaimana untuk menanggulangi hasad tersbut ?. Di dalam Hadits Arbain karangan Imam An Nawawi di hadits no 13 itu ada hadits mengenai "Cinta"

Dari Abu Hamzah, Anas bin Malik radiallahuanhu, pembantu Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, beliau bersabda: Tidak beriman salah seorang diantara kamu hingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.
(Riwayat Bukhori dan Muslim)
Ya, sebagai orang yang mengaku beriman, mana mungkin lah kita mengharap hilangnya nikmat dari saudara kita, kemudian berpindah kepada kita. Dalam hadits di atas sebagai orang yang beriman kita berharap agar nikmat itu bisa di rasakan oleh saudara kita, dan nikmat yang kira rasakan pun dapat dirasakannnya. Logikanya, ketika seseorang mencintai orang lain seperti mencintai dirinya sendiri, ngga ada itu yang namanya hasad.


Suatu hari, pernah ga sih, kamu ngerasa, koq si ini lebih sempurna ya ?, Kq dia lebih ganteng ya, ? kq dia lebih pandai bicara ya, ? , Kq dia lebih tinggi ya?, kq dia lebih punya uang ya ? dan lebih lebih lainnya...
 pernah ga sih ?


Haha,, mungkin sebagian orang, bahkan semuanya itu pernah merasakan hal yang seperti ini. Ya mungkin itu suatu hal yang biasa, akan tetapi, tahukah kalian bahwa hal itu bisa termasuk kedalam hasad ?? Kenapa kita tidak mensyukuri apa yang kita punya sekarang? bukankah Allah di Surat Ibrahim ayat 7 telah memberikan gambaran yang jelas, bahwa ketika kita bersukur, maka nikmat kita akan di tambah ?


dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".

Kemudaian Menurut Imam Al Ghazali, Hasad terbagi menjadi 3 yaitu :
  1. berangan angan nikmat tersebut akan hilang dari orang lain dan berpindah ke diri sendiri
  2. Berangan angan nikmat itu hilang dari orang lain
  3. Tidak Berangan angan nikmat itu hilang dari orang lain, tetapi membenci kepada orang yang mempunyai nikmat tersebut dalam kekayaan dan kedudukan.
Nah lho, udah tau kan sekarang, hal hal yang diatas itu termasuk hasad. Terus bagaimana untuk menanggulangi hasad tersbut ?. Di dalam Hadits Arbain karangan Imam An Nawawi di hadits no 13 itu ada hadits mengenai "Cinta"

Dari Abu Hamzah, Anas bin Malik radiallahuanhu, pembantu Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, beliau bersabda: Tidak beriman salah seorang diantara kamu hingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.
(Riwayat Bukhori dan Muslim)
Ya, sebagai orang yang mengaku beriman, mana mungkin lah kita mengharap hilangnya nikmat dari saudara kita, kemudian berpindah kepada kita. Dalam hadits di atas sebagai orang yang beriman kita berharap agar nikmat itu bisa di rasakan oleh saudara kita, dan nikmat yang kira rasakan pun dapat dirasakannnya. Logikanya, ketika seseorang mencintai orang lain seperti mencintai dirinya sendiri, ngga ada itu yang namanya hasad.

Wednesday, 10 October 2012

Semangat Menyambut Panggilan Dawah 
Oleh : Ust. Abdul Muiz, MA


Bersemangat dalam menyambut panggilan da’wah menunjukkan adanya keseriusan (jiddiyah) karena keseriusan adalah salah satu ciri kader militan. Keimanan seseorang belum sempurna kecuali apabila mendengar panggilan Allah dan Rasul-Nya segera menyambut panggilan tersebut dengan senang hati dan penuh semangat, Al-Qur’an mengingatkan kita tentang hal itu :

 “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasai antara manusia dan hatinya, dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan “. (AI-Anfal :24 ). 

Kader da’wah apabila mendengar panggilan da’wah ia sambut dengan kata-kata “sam’an wa tha’atan” (kami dengar dan kami taati) “labaik wa sa’daik” (kami siap melaksanakan perintah dengan senang nati). Para sahabat Rasul di saat menjelang perang Badar, ketika Rasul ingin mengetahui kesiapan mereka untuk perang menghadapi musyrikin Quraisy, mengingat tujuan awal mereka bukan untuk perang tetapi untuk menghadang kafilah dagang yang dipimpin oleh Abu Sufyan, namun kafilah itu berhasil meloloskan diri dari hadangan kaum muslimin, maka Rasul bermusyawarah dengan mereka tentang apa harus dilakukan. 

Dari kalangan Muhajirin Abu Bakar dan Umar bin Khattab menyambut baik untuk terus maju ke medan pertempuran. sedangkan Miqdad bin `Amru mengatakan : “Wahai Rasulullah, laksanakanlah apa yang telah diberitahukan Allah kepadamu, kami tetap bersamamu. Demi Allah kami tidak akan mengatakan kepadamu seperti apa yang dikatakan Bani Israel kepada Nabi Musa,yaitu “Pergilah kamu bersama Rabbmu dan berperanglah, kami tetap duduk di sini”. Tetapi yang kami katakan kepadamu adalah : “Pergilah kamu ber-sama Rabbmu dan berperanglah, kami ikut berperang bersamamu”. Demi Allah yarg mengutusmu membawa kebenaran, seandainya kamu mengajak kami ke Barkul Ghimad (suatu tempat di Yaman, red ) pasti kami tetap mengikutimu sampai di sana. Setelah sahabat Muhajirin, sahabat Anshar yang diwakili oleh Sa’ad bin Mu’adz menyampaikan sikapnya :”Kami telah beriman kepadamu dan kami bersaksi bahwa apa yang kamu bawa adalah benar, atas dasar itu kami telah menyatakan janji untuk senantiasa taat dan setia kepadamu. Wahai Rasulullah lakukanlah apa yang kau kehendaki, kami tetap bersamamu.Tidak ada seorangpun diantara kami yang mundur dan kami tidak akan bersedih jika kamu menghadapkan kami dengan musuh esok hari. Kami akan tabah menghadapi peperangan dan tidak akan melarikan diri. Semoga Allah akan memperlihatkan kepada kamu apa yang sangat kamu inginkan dari kami. Marilah kita berangkat Ilahi.

Dalam riwayat lain, bahwa Saad bin Muadz berkata kepada Rasulullah, “Barang kali kamu khawatir jika kaum Anshar memandang bahwa mereka wajib menolongmu hanya di negeri mereka. Saya sebagai wakil kaum Anshar menyatakan, jalankan apa yang kau kehendaki, jalinlah persaudaraan dengan siapa saja yang kau kehendaki dan putuskanlah tali persaudaraan dengan siapa saja yang kau kehendaki. Ambillah harta benda kami sebanyak yang kau perlukan dan tinggalkanlah untuk kami seberapa saja yang kamu sukai, apa saja yang kau ambil dari kami itu tebih kami sukai daripada yang anda tinggalkan. Apapun yang kamu perintahkan maka kami akan mengikutinya, demi Allah jika kamu berangkat sampai ke Barkul Ghimad kami akan berangkat bersamamu, demi Allah seandainya kamu menghadapkan kami pada lautan kemudian kamu terjun ke dalamnya maka kamipun akan terjun ke dalamnya bersamamu. (Rakhikul Makhtum 285-286 ).

Hasan AI-Banna berkata da’wah pada tahap pembinaan (takwin) shufi disisi ruhiyah dan askari (kedisiplinan) dari sisi amaliyah (operasional), slogannya adalah amrun wa thoatun (perintah dan laksanakan ) tanpa ada rasa bimbang, ragu, komentar, dan rasa berat’. (Risalah Pergerakan 2).

Empat Aspek Ruhul Istijabah

1. Istijabah Fikriyah (Menyambut dengan pikiran /dengan sadar).

Kader da’wah ketika mendapat tugas dari Murobbi, Pembina, maupun Qiyadah tidak hanya sekadar melaksanakan perintah dan tugas, tetapi ia sadar betul apa yang dikerjakannya adalah dalam rangka taat kepada Allah dan meraih ridho-Nya, bila dilakukan mendapat pahala dan bila tidak dilakukan dosa. Karena itu para kader da’wah harus memahami, bahwa melaksanakan perintah dan tugas yang datang dari Murobbi, Pembina atau Qiyadah dalam rangka taat kepada Allah. karena Allah telah mewajibkan taat kepada pemimpin : “Wahai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul serta (taatilah) pemimpin kamu… ” (An-Nisaa:59).

Demi laksananya tugas secara maksimal maka seorang kader selalu memikirkan tentang bagaimana cara melaksanakan tugas dengan baik, maka ia harus memperhatikan waktu, cara dan sarana yang tepat sehingga pekerjaan dapat diselesaikan sesuai perintah, rencana, tujuan serta sasaran yang telah ditetapkan. Bahkan harus memiliki kemampuan memberikan saran, pendapatdan dan pandangannya demi terselenggaranya program dengan baik, seperti yang dilakukan oleh sahabat Habab bin AI Mundzir ketika mengusulkan tempat yang strategis untuk posisi pasukan kaum muslimin pada perang Badar. Habab berkata, ”Wahai Rasulullah, apakah dalam memilih tempat ini anda menerima wahyu dari Allah sehingga tidak dapat diubah lagi, ataukah strategi perang? tempat ini kupilih berdasarkan strategi perang”. Kemudian Habab berujar kembali “wahai Rasulullah tempat ini tidaklah strategis. Ajaklah pasukan pindah ke tempat air yang terdekat dengan musuh. Kita membuat markas di sana dan menutup sumur-sumur yang ada di belakangnya, kemudian kita buat kubangan dan kita isi dengan air hingga penuh. Dengan demikian kita berperang dalam keadaan mempunyai persediaan air minum”. Rasulullah menjawab, “Pendapatmu sungguh baik “.

Begitu pula, pada saat pasukan koalisi, yang terdiri dari kaum Musyrikin, bangsa Yahudi dan orang-orang Munafik menyerang Madinah, Sahabat Salman Al-Farisi menyampaikan usulannya kepada Rasulullah yaitu menggali parit di sekeliling Mmadinah, kemudian Rasulullah menerima usulan tersebut dan menjadi strategi perang yang ditetapkannya sehingga perang itu diberi nama dengan perang Khandak (parit). Pada perang Qodisiah, perang antara tentara pasukan Persia, yang terjadi di Irak pada masa pemer-intahan Umar bin Khattab, Qoqo bin Amr terus berpikir untuk menaklukkan pasukan bergajah yang menjadi andalan pasukan Persia. Sampai akhirnya Qoqo mendapatkan sebuah ide, untuk membuat patung gajah, agar kuda-kuda milik kaum Muslimin terbiasa melihat gajah sehingga ketika kuda-kuda itu berhadapan dengan gajah-gajah yang sebenarnya, tidak takut menghadapinya. Ternyata ide Qoqo ini menghasilkan buah.

Pada perang Qodisiah tentara kaum Muslimin berhasil menaklukan tentara Persia yang mengandalkan pasukan bergajahnya. Khalifah Umar bin khattab pernah berucap, “Tidak akan terkalahkan kaum muslimin selama di sana ada Qoqo bin Amr”. Dalam surat Ar-Ra’d ayat 19 Allah mengingatkan kita akan keistimewaan orang¬-orang mengoptimalkan akal pikirannya: “Apakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Rabb¬mu itu benar, sama dengan orang yang buta (tidak menggunakan akal pikirannya). Hanya orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran “.


2. Istijabah Nafsiyah (Menyambut dengan perasaan/emosi).

Para aktivis dan kader da’wah bila mendapat perintah dan tugas, baik tarbawi, da’awi maupun tanzhimi harus menyamtbutnya dengan perasaan senang, gembira, bahagia dan bersemangat untuk melaksanakannya. Janganlah perintah dan tugas itu disambut dengan rasa berat, malas, enggan dan tidak bergairah. Apapun kondisi yang terjadi pada diri kita, baik dalam keadaan susah, berat maupun kekuatan ma’nawiyah tidak mendukung, apalagi dalam keadaan bergembira. Bila datang panggilan da’wah kita tidak boleh menolaknya atau merasa enggan dan malas memenuhnya. Allah berfirman: ”Berangkatlah kamu dalam keadaan merasa ringgan ataupun ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah, yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (At-Taubah :41).

Kemudian pada ayat yang lain Allah menjelaskan,”Hai orang-orang yang beriman apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu “Berangkatlah untuk berperang di jalan Allah “; kamu merasa berat dan ingin di tempatmu Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? padahal keni’matan hidup di dunia itu dibandingkan dengan kehidupan di akhirat hanyalah sedikit. Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya kamu dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu “. (At¬Taubah:38-39).

Para kader yang dibina oleh Rasulullah ketika mendengar panggilan jihad mereka berlomba-lomba untuk memenuhinya dengan harapan mendapat kesempatan mati syahid di jalan Allah. Kelemahan fisik tidak menjadi alasan untuk tidak berangkat memenuhi panggilan jihad, bahkan bila mereka tidak dapat memenuhi panggilan jihad karena udzur, mereka menangis. “Dan tidak berdosa atas orang-orang yang apabila datang kepadamu sepaya kamu memberi mereka kendaraan. Lalu kamu berkata :”Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu “. Lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan “. (At-Taubah: 92).

Mereka begitu semangat dalam melaksanakan perintah da’wah, perintah tersebut dikerjakan dengan suka cita, riang, gembira serta bahagia, bila mereka dapat melakukannya dengan baik. Sebaliknya, mereka bersedih dan berduka cita bila tidak dapat menjalankan perintah walaupun disebabkan udzur.


3. Istijabah Maaliyah (Menyambut dengan harta). 

Da’wah untuk menegakkan dinul Islam muka bumi adalah kerja besar bahkan tidak ada pekerjaan yang Iebih besar darinya. Kerja besar ini membutuhkan dana yang besar pula sebagaimana lazimnya proyek besar. Dalam proyek da’wah pendanaan ditanggung oleh para da’i sendir-i. Berkorban dengan harta dan jiwa sudah menjadi satu paket yang tidak boleh dipisahkan satu dari yang lainnya. Seperti apa yang Allah rmpaikan dalam Qur’an, “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang yang beriman, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka… ” (At-Taubah : 111).

Kemudian ayat lain Allah menjelaskan, “Hai orang¬-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan imu dari azab yang pedih ?Yaitu, kamu beriman pada Allah dan RasuINya dan berjihad di jalan Alllah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya. ” (As-Shaff : 10- 11).

Kader da’wah tidak pelit dengan hartanya untuk pembiayaan berbagai kegiatan da’wah dalam da’wah para kader dan aktivis siap mengorbankan hartanya, jangan mengharapkan keuntungan materi serta harta benda dari da’wah. Khadijah isteri Rasulullah telah memberikan seluruh kekayaannya untuk kepentingan da’wah. Pada perang tabuk kaum uslimin berlomba-lomba menginfakkan hartanya dan bersodaqah. Usman bin Affan sebelumnya telah menyiapkan kafilah dagang yang akan berangkat ke Syam berupa dua ratus onta lengkap dengan pelana serta barang-barang yang berada di atasnya, beserta dua ratus uqiyyah.

Setelah mendengar pengumuman Rasulullah, Usman datang pada Rasul kemudian men-shadaqah-kan semua itu. Kemudian Usman menambah lagi seratus onta dengan pelana dan perlengkapannya. Kemudian beliau datang lagi membawa seribu dinar diletakkan di pangkuan Rasulullah. Rasulullah memperhatikan apa yang dishadaqahkan oleh Usman itu seraya berkata: “Apa yang diperbuat oleh Usman setelah ini, tidak akan membahayakannya”. Usman terus bershadaqah hingga jumlahnya mencapai sembilan ratus ekor onta dan seratus ekor kuda, belum termasuk uang. Setelah Usman selesai memberikan shadaqah, giliran Abdur Rahman bin Auf datang membawa Dua ratus uqiyyah perak, tak lama setelah Abdur Rahman, datanglah Abu Bakar dengan membawa seluruh hartanya yang jumlahnya Empat ribu dirham, sampai-sampai beliau tidak menyisakan hartanya untuk keluar-ganya kecuali Allah dan Rasulnya.

Kemudian shahabat-shahabat yang lain berdatangan. Umar menyerahkan setengah hartanya. AI-Abbas datang menyerahkan hartanya yang cukup banyak. Thalhah, Sa’ad bin Ubadah, Muhammad bin Maslamah semuanya datang menyerahkan shadaqahnya. Tidak ketinggalan Ashim bin Adi datang menyerahkan sembilan puluh wasaq kurma. Kemudian diikuti sahabat yang lain mulai dari yang scdika sedikit sampai yang banyak. Sampai ada di antara mereka yang berinfaq dengan segenggam atau dua genggam kurma, karena hanya itu yang mereka mampu lakukan. Kaum wanitapun menyerahkan berrbagai perhiasan yang yang mereka miliki, seperti gelang tangan, gelang kaki, anting-anting dan cincin. Tidak ada seorangpun yang kikir menahan hartanya kecuali orang-orang Munafq. Allah berfirman : “Orang-orang Munafiq yang mencela orang-orang Mu’min yang memberi shadaqah dengan sukarela, dan merekapunv menghina orang-orang yang tidak memperoleh apa yang dishadaqahkan sekedar kesanggupannya “. (At -Taubah :79)


4. Istijobah Harakiyah (Menyambut dengan aktivitas)

Aktivis da’wah adalah yang orang aktif dalam kegiatan da’wah, selalu hadir dalam kegiatan da’wah dan berusaha untuk berada di barisan orang-orang mengutamakan kerja daripada berbicara. Bahkan berupaya untuk berada di garda terdepan dalam mempertahankan dan membela Islam. Perlu diingat, tugas da’wah yang diemban aktivis sangat banyak., lebih banyak dari waktu yang tersedia. Tugas antara lain, pertama: Kewajiban dalam Tarbiyah, tujuannya, agar kualitas dan dan mutu kader semakin baik. Kedua: Kewajiban dalam Da’wah, tujuannya, agar penyebaran da’wah semakin luas. Ketiga: Kewajiban yang sifatnya tanzhimiyah, bertujuan, agar amal jama’i stuktural semakin kokoh.

Bila kita pelajari siroh Nabawiyah dan siroh As-Salaf As-Shalih, kita bisa lihat, pola kehidupan mereka. Mereka lebih banyak bekerja untuk umat dibanding untuk diri dan keluarga mereka karena kesibukan yang begitu padat hampir tidak ada waktu untuk istirahat, bahkan tidak menyempatkan diri untu istir-ahat. Para sahabat Rasul tidak pernah berhenti berjihad di jalan Allah, sebagian ahli sejarah mencatat sebanyak seratus kali peperangan selama sepuluh tahun Rasul di Madinah, baik yang dipimpin langsung oleh Rasul dan yang dipimpin oleh sahabatnya. Baik itu pertempuran besar maupun yangkecil, baik yang jadi maupun tidak jadi perang.

Sehingga jika diambil rata, peperangan terjadi sebulan sekali, artinya mobilitas jihad sangat tinggi. Begitu pula di masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar As-Shiddiq. Peperangan dilakukan selama dua tahun tiga bulan sepuluh hari, belum lagi peperangan yang dipimpin oleh Khalid bin Walid yang jumlahnya sebanyak dua puluh kali peperangan yang dilakukan terus menerus secara berkesinambungan. Melihat kondisi saat ini, dimana tuntutan da’wah begitu besar, yang disertai ancaman global, tentu hal ini, menuntut kesungguhan, keseriusan serta mobilitas da’wah dan jihad yang tinggi, jika tidak maka kekuatan batil yang akan berkuasa di bumi ini.

Dalam hal ini, Allah berfirman, “Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali¬-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan, ikutilah agama orang tua Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan begitu pula dalam al-Qur’an ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung”. (AI-Hajj :76 ).

Penutup

Ikhwah dan Akhwat fillah, sudahkah pikiran kita terkonsentrasikan dan terfokuskan untuk memikirkan umat, memikirkan bagaimana cara yang efektif dalam melakukan da’wah untuk mereka. Sudahkah kita menyumbangkan pendapat, gagasan dan ide terbaik untuk kemajuan da’wah. Sudahkah kita mempersembahkan kreatifitas untuk pengembangan da’wah yang lahir dari hasil kajian, telaah, renungan dan evaluasi kerja da’wah saat ini?!.

Ikhwah dan Akhwat fillah, sudahkah kita merasa gembira senang dan bahagia mana kala kita mendengar perintah, menerima tugas dan mendapatkan amanah da’wah.Apakah kita merasa bersedih, menangis dan merasa rugi jika kita tidak dapat melaksanakan tugas dengan baik, tidak dapat ikut dalam kegiatan da’wah di saat uzur. Menyesalkah kita jika tidak dapat menyelesaikan tugas dengan baik ?!

Ikhwah dan Akhwat fillah, sudahkah kita mengeluarkan sebagian dari rizki yang kita dapatkan untuk kepentingan da’wah. Sudahkah kita berniat dan ber-Azam untuk menginfaqkan harta kita di jalan Allah? Sudahkah kita miliki tabungan da’wah?

Ikhwah dan Akhwat fillah, betulkah kita sebagai aktivis da’wah, apa buktinya? Apa kontribusi riil kita untuk da’wah? Apa prestasi da’wah kita selama ini? Sudah berapa orang yang telah kita rekrut melaui da’wah fardiyah atau da’wah jamahiriyah? sudah berapa orang kader yang kita tarbiyah? Sudahkah kita menjadikan waktu, kerja, profesi dan seluruh aktivitas kita sebagai kegiatan da’wah ?!

Ikhwah dan Akhwat fillah, keimanan kita baru diakui oleh Allah apabila ada ruhul istijabah pada diri kita, dan baru akan sempurna iman kita jika aspek-aspek istijabah itu telah terpenuhi. Allah berfirman

: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi. Dan terhadap orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka sebelum mereka berhijrah, akan tetapi jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam urusan pembelaan agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada ikatan perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan “. (AI-Anfal : 72).

”Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi ¬pertolongan kepada orang-orang muhajirin, mereka itulah orang-orang yang bena-benar ¬beriman. Mereka memperoleh ampunan, rizki (ni’mat ) yang mulia “, (al-Anfal : 74) 

Sumber: Majalah Tarbiyah Edisi 4 Th. I / Sya’ban-Ramadhan 1424 H/Oktober-November 2003 M

Semangat Menyambut Panggilan Dawah 
Oleh : Ust. Abdul Muiz, MA


Bersemangat dalam menyambut panggilan da’wah menunjukkan adanya keseriusan (jiddiyah) karena keseriusan adalah salah satu ciri kader militan. Keimanan seseorang belum sempurna kecuali apabila mendengar panggilan Allah dan Rasul-Nya segera menyambut panggilan tersebut dengan senang hati dan penuh semangat, Al-Qur’an mengingatkan kita tentang hal itu :

 “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasai antara manusia dan hatinya, dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan “. (AI-Anfal :24 ). 

Kader da’wah apabila mendengar panggilan da’wah ia sambut dengan kata-kata “sam’an wa tha’atan” (kami dengar dan kami taati) “labaik wa sa’daik” (kami siap melaksanakan perintah dengan senang nati). Para sahabat Rasul di saat menjelang perang Badar, ketika Rasul ingin mengetahui kesiapan mereka untuk perang menghadapi musyrikin Quraisy, mengingat tujuan awal mereka bukan untuk perang tetapi untuk menghadang kafilah dagang yang dipimpin oleh Abu Sufyan, namun kafilah itu berhasil meloloskan diri dari hadangan kaum muslimin, maka Rasul bermusyawarah dengan mereka tentang apa harus dilakukan. 

Dari kalangan Muhajirin Abu Bakar dan Umar bin Khattab menyambut baik untuk terus maju ke medan pertempuran. sedangkan Miqdad bin `Amru mengatakan : “Wahai Rasulullah, laksanakanlah apa yang telah diberitahukan Allah kepadamu, kami tetap bersamamu. Demi Allah kami tidak akan mengatakan kepadamu seperti apa yang dikatakan Bani Israel kepada Nabi Musa,yaitu “Pergilah kamu bersama Rabbmu dan berperanglah, kami tetap duduk di sini”. Tetapi yang kami katakan kepadamu adalah : “Pergilah kamu ber-sama Rabbmu dan berperanglah, kami ikut berperang bersamamu”. Demi Allah yarg mengutusmu membawa kebenaran, seandainya kamu mengajak kami ke Barkul Ghimad (suatu tempat di Yaman, red ) pasti kami tetap mengikutimu sampai di sana. Setelah sahabat Muhajirin, sahabat Anshar yang diwakili oleh Sa’ad bin Mu’adz menyampaikan sikapnya :”Kami telah beriman kepadamu dan kami bersaksi bahwa apa yang kamu bawa adalah benar, atas dasar itu kami telah menyatakan janji untuk senantiasa taat dan setia kepadamu. Wahai Rasulullah lakukanlah apa yang kau kehendaki, kami tetap bersamamu.Tidak ada seorangpun diantara kami yang mundur dan kami tidak akan bersedih jika kamu menghadapkan kami dengan musuh esok hari. Kami akan tabah menghadapi peperangan dan tidak akan melarikan diri. Semoga Allah akan memperlihatkan kepada kamu apa yang sangat kamu inginkan dari kami. Marilah kita berangkat Ilahi.

Dalam riwayat lain, bahwa Saad bin Muadz berkata kepada Rasulullah, “Barang kali kamu khawatir jika kaum Anshar memandang bahwa mereka wajib menolongmu hanya di negeri mereka. Saya sebagai wakil kaum Anshar menyatakan, jalankan apa yang kau kehendaki, jalinlah persaudaraan dengan siapa saja yang kau kehendaki dan putuskanlah tali persaudaraan dengan siapa saja yang kau kehendaki. Ambillah harta benda kami sebanyak yang kau perlukan dan tinggalkanlah untuk kami seberapa saja yang kamu sukai, apa saja yang kau ambil dari kami itu tebih kami sukai daripada yang anda tinggalkan. Apapun yang kamu perintahkan maka kami akan mengikutinya, demi Allah jika kamu berangkat sampai ke Barkul Ghimad kami akan berangkat bersamamu, demi Allah seandainya kamu menghadapkan kami pada lautan kemudian kamu terjun ke dalamnya maka kamipun akan terjun ke dalamnya bersamamu. (Rakhikul Makhtum 285-286 ).

Hasan AI-Banna berkata da’wah pada tahap pembinaan (takwin) shufi disisi ruhiyah dan askari (kedisiplinan) dari sisi amaliyah (operasional), slogannya adalah amrun wa thoatun (perintah dan laksanakan ) tanpa ada rasa bimbang, ragu, komentar, dan rasa berat’. (Risalah Pergerakan 2).

Empat Aspek Ruhul Istijabah

1. Istijabah Fikriyah (Menyambut dengan pikiran /dengan sadar).

Kader da’wah ketika mendapat tugas dari Murobbi, Pembina, maupun Qiyadah tidak hanya sekadar melaksanakan perintah dan tugas, tetapi ia sadar betul apa yang dikerjakannya adalah dalam rangka taat kepada Allah dan meraih ridho-Nya, bila dilakukan mendapat pahala dan bila tidak dilakukan dosa. Karena itu para kader da’wah harus memahami, bahwa melaksanakan perintah dan tugas yang datang dari Murobbi, Pembina atau Qiyadah dalam rangka taat kepada Allah. karena Allah telah mewajibkan taat kepada pemimpin : “Wahai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul serta (taatilah) pemimpin kamu… ” (An-Nisaa:59).

Demi laksananya tugas secara maksimal maka seorang kader selalu memikirkan tentang bagaimana cara melaksanakan tugas dengan baik, maka ia harus memperhatikan waktu, cara dan sarana yang tepat sehingga pekerjaan dapat diselesaikan sesuai perintah, rencana, tujuan serta sasaran yang telah ditetapkan. Bahkan harus memiliki kemampuan memberikan saran, pendapatdan dan pandangannya demi terselenggaranya program dengan baik, seperti yang dilakukan oleh sahabat Habab bin AI Mundzir ketika mengusulkan tempat yang strategis untuk posisi pasukan kaum muslimin pada perang Badar. Habab berkata, ”Wahai Rasulullah, apakah dalam memilih tempat ini anda menerima wahyu dari Allah sehingga tidak dapat diubah lagi, ataukah strategi perang? tempat ini kupilih berdasarkan strategi perang”. Kemudian Habab berujar kembali “wahai Rasulullah tempat ini tidaklah strategis. Ajaklah pasukan pindah ke tempat air yang terdekat dengan musuh. Kita membuat markas di sana dan menutup sumur-sumur yang ada di belakangnya, kemudian kita buat kubangan dan kita isi dengan air hingga penuh. Dengan demikian kita berperang dalam keadaan mempunyai persediaan air minum”. Rasulullah menjawab, “Pendapatmu sungguh baik “.

Begitu pula, pada saat pasukan koalisi, yang terdiri dari kaum Musyrikin, bangsa Yahudi dan orang-orang Munafik menyerang Madinah, Sahabat Salman Al-Farisi menyampaikan usulannya kepada Rasulullah yaitu menggali parit di sekeliling Mmadinah, kemudian Rasulullah menerima usulan tersebut dan menjadi strategi perang yang ditetapkannya sehingga perang itu diberi nama dengan perang Khandak (parit). Pada perang Qodisiah, perang antara tentara pasukan Persia, yang terjadi di Irak pada masa pemer-intahan Umar bin Khattab, Qoqo bin Amr terus berpikir untuk menaklukkan pasukan bergajah yang menjadi andalan pasukan Persia. Sampai akhirnya Qoqo mendapatkan sebuah ide, untuk membuat patung gajah, agar kuda-kuda milik kaum Muslimin terbiasa melihat gajah sehingga ketika kuda-kuda itu berhadapan dengan gajah-gajah yang sebenarnya, tidak takut menghadapinya. Ternyata ide Qoqo ini menghasilkan buah.

Pada perang Qodisiah tentara kaum Muslimin berhasil menaklukan tentara Persia yang mengandalkan pasukan bergajahnya. Khalifah Umar bin khattab pernah berucap, “Tidak akan terkalahkan kaum muslimin selama di sana ada Qoqo bin Amr”. Dalam surat Ar-Ra’d ayat 19 Allah mengingatkan kita akan keistimewaan orang¬-orang mengoptimalkan akal pikirannya: “Apakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Rabb¬mu itu benar, sama dengan orang yang buta (tidak menggunakan akal pikirannya). Hanya orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran “.


2. Istijabah Nafsiyah (Menyambut dengan perasaan/emosi).

Para aktivis dan kader da’wah bila mendapat perintah dan tugas, baik tarbawi, da’awi maupun tanzhimi harus menyamtbutnya dengan perasaan senang, gembira, bahagia dan bersemangat untuk melaksanakannya. Janganlah perintah dan tugas itu disambut dengan rasa berat, malas, enggan dan tidak bergairah. Apapun kondisi yang terjadi pada diri kita, baik dalam keadaan susah, berat maupun kekuatan ma’nawiyah tidak mendukung, apalagi dalam keadaan bergembira. Bila datang panggilan da’wah kita tidak boleh menolaknya atau merasa enggan dan malas memenuhnya. Allah berfirman: ”Berangkatlah kamu dalam keadaan merasa ringgan ataupun ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah, yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (At-Taubah :41).

Kemudian pada ayat yang lain Allah menjelaskan,”Hai orang-orang yang beriman apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu “Berangkatlah untuk berperang di jalan Allah “; kamu merasa berat dan ingin di tempatmu Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? padahal keni’matan hidup di dunia itu dibandingkan dengan kehidupan di akhirat hanyalah sedikit. Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya kamu dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu “. (At¬Taubah:38-39).

Para kader yang dibina oleh Rasulullah ketika mendengar panggilan jihad mereka berlomba-lomba untuk memenuhinya dengan harapan mendapat kesempatan mati syahid di jalan Allah. Kelemahan fisik tidak menjadi alasan untuk tidak berangkat memenuhi panggilan jihad, bahkan bila mereka tidak dapat memenuhi panggilan jihad karena udzur, mereka menangis. “Dan tidak berdosa atas orang-orang yang apabila datang kepadamu sepaya kamu memberi mereka kendaraan. Lalu kamu berkata :”Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu “. Lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan “. (At-Taubah: 92).

Mereka begitu semangat dalam melaksanakan perintah da’wah, perintah tersebut dikerjakan dengan suka cita, riang, gembira serta bahagia, bila mereka dapat melakukannya dengan baik. Sebaliknya, mereka bersedih dan berduka cita bila tidak dapat menjalankan perintah walaupun disebabkan udzur.


3. Istijabah Maaliyah (Menyambut dengan harta). 

Da’wah untuk menegakkan dinul Islam muka bumi adalah kerja besar bahkan tidak ada pekerjaan yang Iebih besar darinya. Kerja besar ini membutuhkan dana yang besar pula sebagaimana lazimnya proyek besar. Dalam proyek da’wah pendanaan ditanggung oleh para da’i sendir-i. Berkorban dengan harta dan jiwa sudah menjadi satu paket yang tidak boleh dipisahkan satu dari yang lainnya. Seperti apa yang Allah rmpaikan dalam Qur’an, “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang yang beriman, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka… ” (At-Taubah : 111).

Kemudian ayat lain Allah menjelaskan, “Hai orang¬-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan imu dari azab yang pedih ?Yaitu, kamu beriman pada Allah dan RasuINya dan berjihad di jalan Alllah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya. ” (As-Shaff : 10- 11).

Kader da’wah tidak pelit dengan hartanya untuk pembiayaan berbagai kegiatan da’wah dalam da’wah para kader dan aktivis siap mengorbankan hartanya, jangan mengharapkan keuntungan materi serta harta benda dari da’wah. Khadijah isteri Rasulullah telah memberikan seluruh kekayaannya untuk kepentingan da’wah. Pada perang tabuk kaum uslimin berlomba-lomba menginfakkan hartanya dan bersodaqah. Usman bin Affan sebelumnya telah menyiapkan kafilah dagang yang akan berangkat ke Syam berupa dua ratus onta lengkap dengan pelana serta barang-barang yang berada di atasnya, beserta dua ratus uqiyyah.

Setelah mendengar pengumuman Rasulullah, Usman datang pada Rasul kemudian men-shadaqah-kan semua itu. Kemudian Usman menambah lagi seratus onta dengan pelana dan perlengkapannya. Kemudian beliau datang lagi membawa seribu dinar diletakkan di pangkuan Rasulullah. Rasulullah memperhatikan apa yang dishadaqahkan oleh Usman itu seraya berkata: “Apa yang diperbuat oleh Usman setelah ini, tidak akan membahayakannya”. Usman terus bershadaqah hingga jumlahnya mencapai sembilan ratus ekor onta dan seratus ekor kuda, belum termasuk uang. Setelah Usman selesai memberikan shadaqah, giliran Abdur Rahman bin Auf datang membawa Dua ratus uqiyyah perak, tak lama setelah Abdur Rahman, datanglah Abu Bakar dengan membawa seluruh hartanya yang jumlahnya Empat ribu dirham, sampai-sampai beliau tidak menyisakan hartanya untuk keluar-ganya kecuali Allah dan Rasulnya.

Kemudian shahabat-shahabat yang lain berdatangan. Umar menyerahkan setengah hartanya. AI-Abbas datang menyerahkan hartanya yang cukup banyak. Thalhah, Sa’ad bin Ubadah, Muhammad bin Maslamah semuanya datang menyerahkan shadaqahnya. Tidak ketinggalan Ashim bin Adi datang menyerahkan sembilan puluh wasaq kurma. Kemudian diikuti sahabat yang lain mulai dari yang scdika sedikit sampai yang banyak. Sampai ada di antara mereka yang berinfaq dengan segenggam atau dua genggam kurma, karena hanya itu yang mereka mampu lakukan. Kaum wanitapun menyerahkan berrbagai perhiasan yang yang mereka miliki, seperti gelang tangan, gelang kaki, anting-anting dan cincin. Tidak ada seorangpun yang kikir menahan hartanya kecuali orang-orang Munafq. Allah berfirman : “Orang-orang Munafiq yang mencela orang-orang Mu’min yang memberi shadaqah dengan sukarela, dan merekapunv menghina orang-orang yang tidak memperoleh apa yang dishadaqahkan sekedar kesanggupannya “. (At -Taubah :79)


4. Istijobah Harakiyah (Menyambut dengan aktivitas)

Aktivis da’wah adalah yang orang aktif dalam kegiatan da’wah, selalu hadir dalam kegiatan da’wah dan berusaha untuk berada di barisan orang-orang mengutamakan kerja daripada berbicara. Bahkan berupaya untuk berada di garda terdepan dalam mempertahankan dan membela Islam. Perlu diingat, tugas da’wah yang diemban aktivis sangat banyak., lebih banyak dari waktu yang tersedia. Tugas antara lain, pertama: Kewajiban dalam Tarbiyah, tujuannya, agar kualitas dan dan mutu kader semakin baik. Kedua: Kewajiban dalam Da’wah, tujuannya, agar penyebaran da’wah semakin luas. Ketiga: Kewajiban yang sifatnya tanzhimiyah, bertujuan, agar amal jama’i stuktural semakin kokoh.

Bila kita pelajari siroh Nabawiyah dan siroh As-Salaf As-Shalih, kita bisa lihat, pola kehidupan mereka. Mereka lebih banyak bekerja untuk umat dibanding untuk diri dan keluarga mereka karena kesibukan yang begitu padat hampir tidak ada waktu untuk istirahat, bahkan tidak menyempatkan diri untu istir-ahat. Para sahabat Rasul tidak pernah berhenti berjihad di jalan Allah, sebagian ahli sejarah mencatat sebanyak seratus kali peperangan selama sepuluh tahun Rasul di Madinah, baik yang dipimpin langsung oleh Rasul dan yang dipimpin oleh sahabatnya. Baik itu pertempuran besar maupun yangkecil, baik yang jadi maupun tidak jadi perang.

Sehingga jika diambil rata, peperangan terjadi sebulan sekali, artinya mobilitas jihad sangat tinggi. Begitu pula di masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar As-Shiddiq. Peperangan dilakukan selama dua tahun tiga bulan sepuluh hari, belum lagi peperangan yang dipimpin oleh Khalid bin Walid yang jumlahnya sebanyak dua puluh kali peperangan yang dilakukan terus menerus secara berkesinambungan. Melihat kondisi saat ini, dimana tuntutan da’wah begitu besar, yang disertai ancaman global, tentu hal ini, menuntut kesungguhan, keseriusan serta mobilitas da’wah dan jihad yang tinggi, jika tidak maka kekuatan batil yang akan berkuasa di bumi ini.

Dalam hal ini, Allah berfirman, “Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali¬-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan, ikutilah agama orang tua Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan begitu pula dalam al-Qur’an ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung”. (AI-Hajj :76 ).

Penutup

Ikhwah dan Akhwat fillah, sudahkah pikiran kita terkonsentrasikan dan terfokuskan untuk memikirkan umat, memikirkan bagaimana cara yang efektif dalam melakukan da’wah untuk mereka. Sudahkah kita menyumbangkan pendapat, gagasan dan ide terbaik untuk kemajuan da’wah. Sudahkah kita mempersembahkan kreatifitas untuk pengembangan da’wah yang lahir dari hasil kajian, telaah, renungan dan evaluasi kerja da’wah saat ini?!.

Ikhwah dan Akhwat fillah, sudahkah kita merasa gembira senang dan bahagia mana kala kita mendengar perintah, menerima tugas dan mendapatkan amanah da’wah.Apakah kita merasa bersedih, menangis dan merasa rugi jika kita tidak dapat melaksanakan tugas dengan baik, tidak dapat ikut dalam kegiatan da’wah di saat uzur. Menyesalkah kita jika tidak dapat menyelesaikan tugas dengan baik ?!

Ikhwah dan Akhwat fillah, sudahkah kita mengeluarkan sebagian dari rizki yang kita dapatkan untuk kepentingan da’wah. Sudahkah kita berniat dan ber-Azam untuk menginfaqkan harta kita di jalan Allah? Sudahkah kita miliki tabungan da’wah?

Ikhwah dan Akhwat fillah, betulkah kita sebagai aktivis da’wah, apa buktinya? Apa kontribusi riil kita untuk da’wah? Apa prestasi da’wah kita selama ini? Sudah berapa orang yang telah kita rekrut melaui da’wah fardiyah atau da’wah jamahiriyah? sudah berapa orang kader yang kita tarbiyah? Sudahkah kita menjadikan waktu, kerja, profesi dan seluruh aktivitas kita sebagai kegiatan da’wah ?!

Ikhwah dan Akhwat fillah, keimanan kita baru diakui oleh Allah apabila ada ruhul istijabah pada diri kita, dan baru akan sempurna iman kita jika aspek-aspek istijabah itu telah terpenuhi. Allah berfirman

: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi. Dan terhadap orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka sebelum mereka berhijrah, akan tetapi jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam urusan pembelaan agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada ikatan perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan “. (AI-Anfal : 72).

”Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi ¬pertolongan kepada orang-orang muhajirin, mereka itulah orang-orang yang bena-benar ¬beriman. Mereka memperoleh ampunan, rizki (ni’mat ) yang mulia “, (al-Anfal : 74) 

Sumber: Majalah Tarbiyah Edisi 4 Th. I / Sya’ban-Ramadhan 1424 H/Oktober-November 2003 M


Rabu, 10 Oktober 2012 merupakan tanggal bersejarah bagi sebagian manusia di Dunia ini, terutama untuk mereka yaitu Anak STAN angkatan 2009. Ya, hari ini merupakan hari yang bersejarah, karena mereka akan melakukan "WISUDA".
Tentunya, tak lupa saya ucapkan Barakallah untuk kaka-kaka tingkat yang mengikuti Wisuda semoga ini bisa dijadikan cerita atau kenangan yang indah kelak dimasa "tua" nya.  Perjuangan 3 tahunnya meninggalkan kampung halaman, berpisah dengan orang tua, Kakak, Adik, Kerabat, tukang bubur langganan, tukang nasi uduk langganan, tukang gorengan langganan, dan lain lain langganannya.

Melihat perjuangan angkatan 2009 yang begitu wah atau bisa dikatakan "wow" dibalik itu semua ada orang tua yang sangat ikhlas, hebat, heroiknya dan lainnya yang tidak dapat kita lupakan. Merekalah yang sangat amat paling (penekanan kata) berpengaruh terhadap kita. Bagaimana mereka mencari harta untuk kita dan lain sebagainya yang mungkin sudah kita sadari semuanya. yang belum sadar, segeralah sadar nak !! hhe
Sungguh, banyak pelajaran yang sangat berharga yang dapat kita ambil dari Sejarah. Tentang pengorbanan ini bisa kita ambil contoh atau suri tauladan yang baik dari Bapa Para Nabi kita. Ya, Nabi Ibrahim As. Pengorbanan yang berlandaskan ketakwaan.
Tentu kita masih ingat dengan kisah nabi Ibrahim ketika meninggalkan Hajar, istrinya, di lembah yang tandus tanpa pepohonan, dan ketika itu Ismail as masih kecil. ini diabadikan dalam surat Ibrahim ayat 37

Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.”

Pelajaran yang indah bukan? Bagaimana Ibrahim meninggalkan kesenangan dan kecintaan terhadap keluarga dan dunianya, hanya untuk melaksanakan perintah Allah SWT. Sama halnya dengan kita yang meninggalkan kampung halaman, meninggalkan kenyamanan kenyamanan, berlepas dari "zona Nyaman" dan lain lainnya, untuk menuntut ilmu di kampus STAN. cuma yang harus kita cermati bahwa nabi Ibrahim melakukan itu dengan ketaqwaannya dan untuk mendapatkan Ridho Allah swt. Bagaimana dengan kita ? Apakah niat kita menuntut ilmu sudah Lurus ? apakah ketika kita menuntut ilmu itu berdasarkan ketaqwaan dan hanya mengharap Ridho Allah ? silahkan anda jawab sendiri. Bagi yang sudah, Alhamdulillah, bagi yang belum, segera luruskan niatnya.
Kemudian selang beberapa tahun kemudian, buah dari ketaatan dan hanya mengharap Ridho Allah semata, Ismail as tumbuh menjadi seorang yang mungkin kalau sekarang orang orang bilang "wow". Bagaimana tidak, tentu kita ingat tentang kisah Nabi Ibrahim as yang mendapat perintah untuk menyembelih anaknya, Ismail as, sebagai bentuk pengorbanan kepada Allah swt. yang Allah Abadikan dalam Ash Shafat ayat 102

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

Inilah salah satu bentuk keimanan yang tinggi kepada Allah swt, berupa pengorbanan dalam menjalankan perintah Allah dan meninggalkan laranganNya. Mudah mudahan kelulusan tingkat 3 semua (Angkatan 2009) ini berbuah seperti kisah diatas. Selamat mengabdi Pada negeri, Raih Ridho Ilahi.
Untuk teman teman angkatan 2010, yang masih empunya waktu 1 tahun lagi. Pergunakanlah waktu itu sebaik mungkin. Segera luruskan niat belajar kalian menjadi berlandaskan ketaqwaan dan mengharap Ridho Allah. Yang nantinya semoga perjuangan kita yang akan mendekati 3 tahun ini berbuah manis seperti kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.


Terinspirasi dari Pertemuan Selasa Malam yang dilanjutkan dengan obrolan ringan 5 orang di tempat Nasgor deket Ahad


Rabu, 10 Oktober 2012 merupakan tanggal bersejarah bagi sebagian manusia di Dunia ini, terutama untuk mereka yaitu Anak STAN angkatan 2009. Ya, hari ini merupakan hari yang bersejarah, karena mereka akan melakukan "WISUDA".
Tentunya, tak lupa saya ucapkan Barakallah untuk kaka-kaka tingkat yang mengikuti Wisuda semoga ini bisa dijadikan cerita atau kenangan yang indah kelak dimasa "tua" nya.  Perjuangan 3 tahunnya meninggalkan kampung halaman, berpisah dengan orang tua, Kakak, Adik, Kerabat, tukang bubur langganan, tukang nasi uduk langganan, tukang gorengan langganan, dan lain lain langganannya.

Melihat perjuangan angkatan 2009 yang begitu wah atau bisa dikatakan "wow" dibalik itu semua ada orang tua yang sangat ikhlas, hebat, heroiknya dan lainnya yang tidak dapat kita lupakan. Merekalah yang sangat amat paling (penekanan kata) berpengaruh terhadap kita. Bagaimana mereka mencari harta untuk kita dan lain sebagainya yang mungkin sudah kita sadari semuanya. yang belum sadar, segeralah sadar nak !! hhe
Sungguh, banyak pelajaran yang sangat berharga yang dapat kita ambil dari Sejarah. Tentang pengorbanan ini bisa kita ambil contoh atau suri tauladan yang baik dari Bapa Para Nabi kita. Ya, Nabi Ibrahim As. Pengorbanan yang berlandaskan ketakwaan.
Tentu kita masih ingat dengan kisah nabi Ibrahim ketika meninggalkan Hajar, istrinya, di lembah yang tandus tanpa pepohonan, dan ketika itu Ismail as masih kecil. ini diabadikan dalam surat Ibrahim ayat 37

Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.”

Pelajaran yang indah bukan? Bagaimana Ibrahim meninggalkan kesenangan dan kecintaan terhadap keluarga dan dunianya, hanya untuk melaksanakan perintah Allah SWT. Sama halnya dengan kita yang meninggalkan kampung halaman, meninggalkan kenyamanan kenyamanan, berlepas dari "zona Nyaman" dan lain lainnya, untuk menuntut ilmu di kampus STAN. cuma yang harus kita cermati bahwa nabi Ibrahim melakukan itu dengan ketaqwaannya dan untuk mendapatkan Ridho Allah swt. Bagaimana dengan kita ? Apakah niat kita menuntut ilmu sudah Lurus ? apakah ketika kita menuntut ilmu itu berdasarkan ketaqwaan dan hanya mengharap Ridho Allah ? silahkan anda jawab sendiri. Bagi yang sudah, Alhamdulillah, bagi yang belum, segera luruskan niatnya.
Kemudian selang beberapa tahun kemudian, buah dari ketaatan dan hanya mengharap Ridho Allah semata, Ismail as tumbuh menjadi seorang yang mungkin kalau sekarang orang orang bilang "wow". Bagaimana tidak, tentu kita ingat tentang kisah Nabi Ibrahim as yang mendapat perintah untuk menyembelih anaknya, Ismail as, sebagai bentuk pengorbanan kepada Allah swt. yang Allah Abadikan dalam Ash Shafat ayat 102

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

Inilah salah satu bentuk keimanan yang tinggi kepada Allah swt, berupa pengorbanan dalam menjalankan perintah Allah dan meninggalkan laranganNya. Mudah mudahan kelulusan tingkat 3 semua (Angkatan 2009) ini berbuah seperti kisah diatas. Selamat mengabdi Pada negeri, Raih Ridho Ilahi.
Untuk teman teman angkatan 2010, yang masih empunya waktu 1 tahun lagi. Pergunakanlah waktu itu sebaik mungkin. Segera luruskan niat belajar kalian menjadi berlandaskan ketaqwaan dan mengharap Ridho Allah. Yang nantinya semoga perjuangan kita yang akan mendekati 3 tahun ini berbuah manis seperti kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.


Terinspirasi dari Pertemuan Selasa Malam yang dilanjutkan dengan obrolan ringan 5 orang di tempat Nasgor deket Ahad

Tuesday, 9 October 2012


Pujian dibalik ujian, ujian dibalik pujian. Ujian dan Pujian merupakan 2 kata yang  mungkin sering kita alami. Ada kalanya kita mendapat ujian, dan ada kalanya kita juga mendapat pujian. Semua orang saya yakin pasti pernah merasakan apa itu yang namanya pujian, dan apa itu yang namanya Ujian.

Sebelum membicarakan tentang ujian dan pujian, tahukan kalian tentang apa itu pujian dan apa itu ujian. Secara mudahnya Ujian itu merupakan kesusahan hidup dan Pujian itu merupakan kesengan hidup. Target dari ujian itu terpuji karena pujian dan target dari Pujian itu agar manusia selalu teruji oleh pujian.

Ujian dan pujian merupakan siklus kehidupan kita. Adakalanya kita merasakan ujian sedang hinggap di diri kita dan adakalanya pula pujian yang hinggap di diri kita. Dalam siklus Ujian dan pujian ini, kita tahu bahwa di balik ujian pasti ada Pujian, dan di balik Pujian pasti ada Ujian.

Bagaimana kita dalam menanggapi Ujian dan Pujian ?. Ya, dalam menyikapi Ujian dan pujian itu kita dapat Merasa senang ketika diuji dan Merasa susah ketika dipuji. Saya ulangi lagi, bahwa kita akan merasa senang ketika di uji dan merasa susah ketika di puji. Itu kenapa ? Karena kita tahu bahwa ketika kita di uji maka akan melahirkan pujian, dan kita tahu bahwa ketika kita telah dipuji, maka setelahnya kita akan di Uji.

Ya, ujian dan pujian, merupakan sebuah siklus yang terus bergulir. Semoga kita tidak hanya bisa lulus dari ujian, tetapi dapat lolos dari Ujian dan Pujian.

UST. SYATORI ABDURROUF; 
FOSDA MASJID MARDLIYYAH UGM;






Pujian dibalik ujian, ujian dibalik pujian. Ujian dan Pujian merupakan 2 kata yang  mungkin sering kita alami. Ada kalanya kita mendapat ujian, dan ada kalanya kita juga mendapat pujian. Semua orang saya yakin pasti pernah merasakan apa itu yang namanya pujian, dan apa itu yang namanya Ujian.

Sebelum membicarakan tentang ujian dan pujian, tahukan kalian tentang apa itu pujian dan apa itu ujian. Secara mudahnya Ujian itu merupakan kesusahan hidup dan Pujian itu merupakan kesengan hidup. Target dari ujian itu terpuji karena pujian dan target dari Pujian itu agar manusia selalu teruji oleh pujian.

Ujian dan pujian merupakan siklus kehidupan kita. Adakalanya kita merasakan ujian sedang hinggap di diri kita dan adakalanya pula pujian yang hinggap di diri kita. Dalam siklus Ujian dan pujian ini, kita tahu bahwa di balik ujian pasti ada Pujian, dan di balik Pujian pasti ada Ujian.

Bagaimana kita dalam menanggapi Ujian dan Pujian ?. Ya, dalam menyikapi Ujian dan pujian itu kita dapat Merasa senang ketika diuji dan Merasa susah ketika dipuji. Saya ulangi lagi, bahwa kita akan merasa senang ketika di uji dan merasa susah ketika di puji. Itu kenapa ? Karena kita tahu bahwa ketika kita di uji maka akan melahirkan pujian, dan kita tahu bahwa ketika kita telah dipuji, maka setelahnya kita akan di Uji.

Ya, ujian dan pujian, merupakan sebuah siklus yang terus bergulir. Semoga kita tidak hanya bisa lulus dari ujian, tetapi dapat lolos dari Ujian dan Pujian.

UST. SYATORI ABDURROUF; 
FOSDA MASJID MARDLIYYAH UGM;





Sunday, 7 October 2012


Ada beberapa hal yang dapat membuat orang orang dapat bersatu, yang bisa membuat orang orang yang tidak satu visi duduk bersama dalam suatu meja. Mungkin dalam hal hal kejadian biasa, orang orang berada dalam kesibukan masing masing sehingga tidak sempat untuk berkumpul bersama.

Ya. Makan. sebuah kata yang terdiri dari 5 huruf ini mempuyai arti atau makna yang sangat mendalam. Bagaimana tidak, tanpanya kita tidak dapat bertahan hidup, menderita karena kelaparan, bahkan bisa sampai terkena penyakit maag jika terlambat makan.

Makan bersama merupakan cara yang paling ampuh untuk menyatukan banyak orang. Misalnya, dalam sebuat organisasi atau perkumpulan, ketika diadakan rapat atau kumpul kumpul biasa, maka yang hadir cuma beberapa orang (misalnya 4 dari 9 orang). Berbeda ketika undangan rapat itu beserta embel embel makan, apalagi gratis, maka dapat dipastikan yang datangpun menjadi full team, bahkan bisa lebih.

Bahkan dalam satu rumah pun atau untuk mahasiswa dalam satu kost pun, tidak jarang dari mereka untuk mengobrol ngobrol dengan penghuni kamar kost lainnya. Ya, kejadian seperti ini emang lumrah terjadi. Dan hal yang dapat menyatukannya yaitu, Makan. Dan satu lagi tentu Olahraga.

Ya, untuk orang orang yang kurang deket sama yang lainnya, ada saran dari yang empunya blog ini,, banyak banyaklah untuk mentraktir orang makan dan mengajakin untuk olahraga bareng. Apalah arti uang, jika teman tidak ada. Jika kalian meneraktir orang, insyAllah akan diingat oleh yang ditraktir lho.

Sebagai mana kita harus mengingat 2 hal yaitu :  

1. Mengingat kebaikan orang lain kepada kita. 
Hal tersebut dilakukan agar kita mau membalas kebaikan orang lain. 

2. Mengingat keburukan kita terhadap orang lain.
 hal ini bertujuan agar kita mau menginstropeksi diri dan memperbaiki diri.

Dan juga harus melupakan  2 hal yaitu :

 1. Melupakan kebaikan kita kepada orang lain.
 hal ini bertujuan agar kita tidak merasa bangga karena telah melakukan hal yang baik. 

2. Melupakan keburukan orang lain terhadap kita. 
hal ini bertujuan agar hubungan kita dengan orang lain tidak terganggu sehingga interaksi kita terhadap orang lain tidak terganggu.

.


Ada beberapa hal yang dapat membuat orang orang dapat bersatu, yang bisa membuat orang orang yang tidak satu visi duduk bersama dalam suatu meja. Mungkin dalam hal hal kejadian biasa, orang orang berada dalam kesibukan masing masing sehingga tidak sempat untuk berkumpul bersama.

Ya. Makan. sebuah kata yang terdiri dari 5 huruf ini mempuyai arti atau makna yang sangat mendalam. Bagaimana tidak, tanpanya kita tidak dapat bertahan hidup, menderita karena kelaparan, bahkan bisa sampai terkena penyakit maag jika terlambat makan.

Makan bersama merupakan cara yang paling ampuh untuk menyatukan banyak orang. Misalnya, dalam sebuat organisasi atau perkumpulan, ketika diadakan rapat atau kumpul kumpul biasa, maka yang hadir cuma beberapa orang (misalnya 4 dari 9 orang). Berbeda ketika undangan rapat itu beserta embel embel makan, apalagi gratis, maka dapat dipastikan yang datangpun menjadi full team, bahkan bisa lebih.

Bahkan dalam satu rumah pun atau untuk mahasiswa dalam satu kost pun, tidak jarang dari mereka untuk mengobrol ngobrol dengan penghuni kamar kost lainnya. Ya, kejadian seperti ini emang lumrah terjadi. Dan hal yang dapat menyatukannya yaitu, Makan. Dan satu lagi tentu Olahraga.

Ya, untuk orang orang yang kurang deket sama yang lainnya, ada saran dari yang empunya blog ini,, banyak banyaklah untuk mentraktir orang makan dan mengajakin untuk olahraga bareng. Apalah arti uang, jika teman tidak ada. Jika kalian meneraktir orang, insyAllah akan diingat oleh yang ditraktir lho.

Sebagai mana kita harus mengingat 2 hal yaitu :  

1. Mengingat kebaikan orang lain kepada kita. 
Hal tersebut dilakukan agar kita mau membalas kebaikan orang lain. 

2. Mengingat keburukan kita terhadap orang lain.
 hal ini bertujuan agar kita mau menginstropeksi diri dan memperbaiki diri.

Dan juga harus melupakan  2 hal yaitu :

 1. Melupakan kebaikan kita kepada orang lain.
 hal ini bertujuan agar kita tidak merasa bangga karena telah melakukan hal yang baik. 

2. Melupakan keburukan orang lain terhadap kita. 
hal ini bertujuan agar hubungan kita dengan orang lain tidak terganggu sehingga interaksi kita terhadap orang lain tidak terganggu.

.

Bismillah. "dan Nuh berkata : "Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya." Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S Hud : 41)"

Kesan pertama, begitu menggoda, selanjutnya terserah anda.

ya, kata kata diatas ini, mungkin sering kita dengar. Akan tetapi
ini hanya dalam perspektif belaka.

Diibaratkan seperti sebuah perahu yang akan berlayar, yang akan berpindah dari suatu tempat ke tempat lainnya, dari suatu dermaga ke dermaga lainnya, dari suatu pemberhentian ke pemberhentian selanjutnya, mungkin tulisan yang sedang anda baca ini merupakan tuliasan yang akan segera belayar.

Bismillah. "Dengan menyebut Nama Allah diwaktu berlayar dan berlabuh" yang terdapat di Surat Hud, surat ke 11 di Al Qur'an ayat 41 ini, memberikan kita banyak hikmah, yang diantaranya adalah ketika kita melakukan sesuatu, hendaknya dimulai dengan Bismillah (Dengan Menyebut Nama Allah). Dengan Bismillah kita akan diarahkan pada kebaikan dan keberhasilan. Kita akan mempunyai kepercayaan diri yang tinggi karena anda bertindak atas nama Allah.

Berlayar dan berlabuhlah menuju cita-cita anda dengan menyebut nama Allah, pastilah anda akan mendapat kasih sayangNya.

Mulailah segala aktifitas dan perbuatan anda dengan menyebut nama Allah agar tidak sia-sia dan senantiasa mendapat berkah. Bukankah Rasulullah telah bersabda bahwa setiap urusan yang tidak dimulai dengan Bismillahirrahmanirrahim terputus berkahnya ?

Bismillah. "dan Nuh berkata : "Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya." Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S Hud : 41)"

Kesan pertama, begitu menggoda, selanjutnya terserah anda.

ya, kata kata diatas ini, mungkin sering kita dengar. Akan tetapi
ini hanya dalam perspektif belaka.

Diibaratkan seperti sebuah perahu yang akan berlayar, yang akan berpindah dari suatu tempat ke tempat lainnya, dari suatu dermaga ke dermaga lainnya, dari suatu pemberhentian ke pemberhentian selanjutnya, mungkin tulisan yang sedang anda baca ini merupakan tuliasan yang akan segera belayar.

Bismillah. "Dengan menyebut Nama Allah diwaktu berlayar dan berlabuh" yang terdapat di Surat Hud, surat ke 11 di Al Qur'an ayat 41 ini, memberikan kita banyak hikmah, yang diantaranya adalah ketika kita melakukan sesuatu, hendaknya dimulai dengan Bismillah (Dengan Menyebut Nama Allah). Dengan Bismillah kita akan diarahkan pada kebaikan dan keberhasilan. Kita akan mempunyai kepercayaan diri yang tinggi karena anda bertindak atas nama Allah.

Berlayar dan berlabuhlah menuju cita-cita anda dengan menyebut nama Allah, pastilah anda akan mendapat kasih sayangNya.

Mulailah segala aktifitas dan perbuatan anda dengan menyebut nama Allah agar tidak sia-sia dan senantiasa mendapat berkah. Bukankah Rasulullah telah bersabda bahwa setiap urusan yang tidak dimulai dengan Bismillahirrahmanirrahim terputus berkahnya ?