Ilmu adalah binatang Buruan.
Dan Pena yang menuliskan adalah tali Pengekangnya
-Imam Asy Syafi'i-

Thursday, 6 December 2012

Kejadian pertama : Beli makan, diwarung Cilacap, pake motor. Datang dengan motor, ngantri nunggu 1 orang dan ada yang duduk 3 orang.
Kejadian kedua : Beli Saus, di Ahad Mart, pake motor. Datang dengan motor, nyari sous, ngantri nunggu 1orang di kasir, nyimpen saus, liat liat bentar, ada 3 orang yang berdiri.

Ya, itulah 2 kejadian yang mungkin kalau dipikir pikir itu saling berkaitan. Kejadian pertama  yang terjadi sore hari, tanpa sadar telah menyerobot antrian untuk makan. Lah koq tanpa disadari ? ya, karena pas kejadian, ada 3 orang yang sedang duduk dan 1 yang lagi ngantri. Yang lagi ngantrinya itu perempuan. Yang 3 orang duduk itu diantaranya 1 perempuan dan 2 laki laki. Yang pasti perempuan yang sedang duduk itu temen yang ngantri. dan 2 orang lainnya yang duduk itu dikira sudah selesai makan, eh malah dia juga lagi ngantri. Alhasil, pas beres bungkus makanan, 2 orang itu kemudian menyusul untuk pesen makanan.

Yang kejadian kedua pas Malam hari, itu ngantri di kasir, karena yang didepan belanjaannya banyak, maka barang belanjaannya disimpen dulu, dan keluar sebentar dari antrian, pas beres yang didepan itu, eh ada 2 orang yang ngantri baru, dan kurang beruntungnya malah 2 orang itu yang dilayani duluan, dan akhirnya nunggu lagi dan kesel juga sih.

Tapi, dijalan pulang di motor biasanya bengong bengong ga jelas, kepikiran antara 2 kejadian itu. Ya, mungkin itu tegoran untuk taat dalam antrian. Ya, mungkin itu sedikit renungan tentang "Mukmin satu adalah cermin bagi sesamanya. Saat kita lihat ada yang tak beres pada bayangan di kaca; diri kitalah yang dibenahi pertama-tama" (SAF). YA, sebelum kita kesel akan suatu hal, coba diinget inget dah, apakah kita juga ngelakuin itu ke orang lain  ? :D

Setiap telunjuk mengarah, empat jari menunjuk diri. Setiap lisan mengucap, telinga sendirilah yang paling dekat. Nasehat kita; untuk kita., Ada bagian tubuh yang tak bisa kita lihat tanpa kebeningan kaca. Ada bagian jiwa yang tak bisa kita kenali tanpa bercermin pada saudara. (Salim A Fillah)


Ya, kadang kita selalu merasa benar, kadang kita selalu merasa terdzolimi, dan kadang kita selalu merasa terhakimi, tetapi apakah kita pernah berpikir bahwa kita lah yang salah, yang mendzholimi dan yang menghakimi.

Pernahkan kalian merasakan yang demikian ?

Kejadian pertama : Beli makan, diwarung Cilacap, pake motor. Datang dengan motor, ngantri nunggu 1 orang dan ada yang duduk 3 orang.
Kejadian kedua : Beli Saus, di Ahad Mart, pake motor. Datang dengan motor, nyari sous, ngantri nunggu 1orang di kasir, nyimpen saus, liat liat bentar, ada 3 orang yang berdiri.

Ya, itulah 2 kejadian yang mungkin kalau dipikir pikir itu saling berkaitan. Kejadian pertama  yang terjadi sore hari, tanpa sadar telah menyerobot antrian untuk makan. Lah koq tanpa disadari ? ya, karena pas kejadian, ada 3 orang yang sedang duduk dan 1 yang lagi ngantri. Yang lagi ngantrinya itu perempuan. Yang 3 orang duduk itu diantaranya 1 perempuan dan 2 laki laki. Yang pasti perempuan yang sedang duduk itu temen yang ngantri. dan 2 orang lainnya yang duduk itu dikira sudah selesai makan, eh malah dia juga lagi ngantri. Alhasil, pas beres bungkus makanan, 2 orang itu kemudian menyusul untuk pesen makanan.

Yang kejadian kedua pas Malam hari, itu ngantri di kasir, karena yang didepan belanjaannya banyak, maka barang belanjaannya disimpen dulu, dan keluar sebentar dari antrian, pas beres yang didepan itu, eh ada 2 orang yang ngantri baru, dan kurang beruntungnya malah 2 orang itu yang dilayani duluan, dan akhirnya nunggu lagi dan kesel juga sih.

Tapi, dijalan pulang di motor biasanya bengong bengong ga jelas, kepikiran antara 2 kejadian itu. Ya, mungkin itu tegoran untuk taat dalam antrian. Ya, mungkin itu sedikit renungan tentang "Mukmin satu adalah cermin bagi sesamanya. Saat kita lihat ada yang tak beres pada bayangan di kaca; diri kitalah yang dibenahi pertama-tama" (SAF). YA, sebelum kita kesel akan suatu hal, coba diinget inget dah, apakah kita juga ngelakuin itu ke orang lain  ? :D

Setiap telunjuk mengarah, empat jari menunjuk diri. Setiap lisan mengucap, telinga sendirilah yang paling dekat. Nasehat kita; untuk kita., Ada bagian tubuh yang tak bisa kita lihat tanpa kebeningan kaca. Ada bagian jiwa yang tak bisa kita kenali tanpa bercermin pada saudara. (Salim A Fillah)


Ya, kadang kita selalu merasa benar, kadang kita selalu merasa terdzolimi, dan kadang kita selalu merasa terhakimi, tetapi apakah kita pernah berpikir bahwa kita lah yang salah, yang mendzholimi dan yang menghakimi.

Pernahkan kalian merasakan yang demikian ?

Wednesday, 14 November 2012

"Jangan Jatuh cinta pada pandangan pertama, akan tetapi Bagun cintalah pada pandangan terakhir". Pandangan pertama itu biasanya menipu dan pandangan terakhir itu biasanya apa adanya. Ya, itulah kalimat awal pembukaan DM edisi 2 kita kali ini.Kemudian pada hakekatnya "Cinta itu pengorbanan, tapi kita tidak boleh menjadikan korban orang lain". Itu, dua kalimat yang merupakan pembukaan dari sesi pertemuan kita malam ini.

Setelah pertemuan pertama membicarakan tentang Motivasi dan Kriteria dalam mencari calon, insyaAllah kita sekarang akan mengulang kembali atau memaparkan kembali mengenai Tipologi Rumah Tangga. Kalian tau perkomplekan kan ? Tahu kan ada rumah type 45, Type 72 dan seterusnya ? Terus Type rumah itu standard kan ? Misalnya, Type 45 itu memuat 2 kamar, 1 kamar mandi, 1 dapur, 1 Ruang tamu dan tempat parkit. Secara umum, type 45 itu seperti itu.

Nah, begitu juga dalam typologi Rumah tangga, ada beberapa type. Tetapi sebelum membahas type itu, apasih manfaat dari kita mengetahui mengenai Type Type rumah atau Rumah tangga ?. Manfaatnya ini nih ,,,

  1. Untuk mengacu pada tujuan
  2. untuk menentukan bahan
  3. untuk menentukan masa pembangunan
  4. untuk menentukan fungsi rumah
  5. untuk menentukan aktifitas
  6. untuk menentukan kontraktor/ insinyur/ yang ngebangun
Nah, itulah beberapa manfaat dari mengetahui mengenai Type, baik itu type rumah maupun rumah tangga. Bagaimana jika kita tidak mengetahuinya ? Yah, klo ga tau, maka bisa bisa ntar bertentangan dengan keenam hal diatas. Nah, sekarang lanjut ke type type yang ada di dalam rumah tangga, diantaranya :

1. Rumah Tangga Kita, Rumah tangga Ilmu.

Rumah tangga kita, sebagai rumah tangga ilmu, maksudnya adalah Rumah tangga kita itu menjadikan ilmu sebagai dasar dari segala aktifitas yang kita lakukan, bukan karena perasaan, bukan karena naluri, dan bukan karena lain lain, akan tetapi hanya karena ilmu. Mengapa harus ilmu ? Karena, ada beberapa keutamaan dari Ilmu, diantara :

  • Ilmu adalah pondasi Tauhid. Karena pondasi tauhid, maka iapun merupakan pondasi atas amalan amalan lainnya.
  • Ilmu meningkatkan keimanan.
  • Ilmu menjadikan amal menjadi berkualitas
  • Ilmu menjadi pembeda antara yang berilmu dan yang tidak berilmu

Kemudian, apa Karakteristik dari Rumah tangga Ilmu ?
  1. Memiliki orientasi dan Tujuan Ilmiah. Ketika kita mendidik anak, didik ia untuk mendapatkan ilmu, dan ingatkan ia jika ia belajar hanya untuk mendapat kerja atau gelar
  2. Memperhatikan masalah akademis
  3. Terciptanya suasana dialogis
  4. Terhindarnya "debat Kusir" dalam keluarga
  5. Yang benar dirumah adalah yang benar dalilnya.
  6. Berargumen dengan dalil dan dasar yang kuat
  7. Terwujudnya suasana ilmiah
  8. Terciptanya budaya membaca
  9. Tersedianya Perpustakaan di Rumah
  10. Terlaksananya program program ilmiah. Seperti anak anak mesti sekolah, kunjungan ke toko buku.
itulah beberapa karakteristik mohon maaf tak dipanjang lebarkan, dikarenakan sedang ada kesibukan.
insyaAllah untuk lainnya disambung di DM 3

Disampaikan Oleh Ustad Masturi Istamar
Dauroh Munakahat pertemuan Kedua
Senin, 12 November 2012
Pukul 20:00 - 22:00

"Jangan Jatuh cinta pada pandangan pertama, akan tetapi Bagun cintalah pada pandangan terakhir". Pandangan pertama itu biasanya menipu dan pandangan terakhir itu biasanya apa adanya. Ya, itulah kalimat awal pembukaan DM edisi 2 kita kali ini.Kemudian pada hakekatnya "Cinta itu pengorbanan, tapi kita tidak boleh menjadikan korban orang lain". Itu, dua kalimat yang merupakan pembukaan dari sesi pertemuan kita malam ini.

Setelah pertemuan pertama membicarakan tentang Motivasi dan Kriteria dalam mencari calon, insyaAllah kita sekarang akan mengulang kembali atau memaparkan kembali mengenai Tipologi Rumah Tangga. Kalian tau perkomplekan kan ? Tahu kan ada rumah type 45, Type 72 dan seterusnya ? Terus Type rumah itu standard kan ? Misalnya, Type 45 itu memuat 2 kamar, 1 kamar mandi, 1 dapur, 1 Ruang tamu dan tempat parkit. Secara umum, type 45 itu seperti itu.

Nah, begitu juga dalam typologi Rumah tangga, ada beberapa type. Tetapi sebelum membahas type itu, apasih manfaat dari kita mengetahui mengenai Type Type rumah atau Rumah tangga ?. Manfaatnya ini nih ,,,

  1. Untuk mengacu pada tujuan
  2. untuk menentukan bahan
  3. untuk menentukan masa pembangunan
  4. untuk menentukan fungsi rumah
  5. untuk menentukan aktifitas
  6. untuk menentukan kontraktor/ insinyur/ yang ngebangun
Nah, itulah beberapa manfaat dari mengetahui mengenai Type, baik itu type rumah maupun rumah tangga. Bagaimana jika kita tidak mengetahuinya ? Yah, klo ga tau, maka bisa bisa ntar bertentangan dengan keenam hal diatas. Nah, sekarang lanjut ke type type yang ada di dalam rumah tangga, diantaranya :

1. Rumah Tangga Kita, Rumah tangga Ilmu.

Rumah tangga kita, sebagai rumah tangga ilmu, maksudnya adalah Rumah tangga kita itu menjadikan ilmu sebagai dasar dari segala aktifitas yang kita lakukan, bukan karena perasaan, bukan karena naluri, dan bukan karena lain lain, akan tetapi hanya karena ilmu. Mengapa harus ilmu ? Karena, ada beberapa keutamaan dari Ilmu, diantara :

  • Ilmu adalah pondasi Tauhid. Karena pondasi tauhid, maka iapun merupakan pondasi atas amalan amalan lainnya.
  • Ilmu meningkatkan keimanan.
  • Ilmu menjadikan amal menjadi berkualitas
  • Ilmu menjadi pembeda antara yang berilmu dan yang tidak berilmu

Kemudian, apa Karakteristik dari Rumah tangga Ilmu ?
  1. Memiliki orientasi dan Tujuan Ilmiah. Ketika kita mendidik anak, didik ia untuk mendapatkan ilmu, dan ingatkan ia jika ia belajar hanya untuk mendapat kerja atau gelar
  2. Memperhatikan masalah akademis
  3. Terciptanya suasana dialogis
  4. Terhindarnya "debat Kusir" dalam keluarga
  5. Yang benar dirumah adalah yang benar dalilnya.
  6. Berargumen dengan dalil dan dasar yang kuat
  7. Terwujudnya suasana ilmiah
  8. Terciptanya budaya membaca
  9. Tersedianya Perpustakaan di Rumah
  10. Terlaksananya program program ilmiah. Seperti anak anak mesti sekolah, kunjungan ke toko buku.
itulah beberapa karakteristik mohon maaf tak dipanjang lebarkan, dikarenakan sedang ada kesibukan.
insyaAllah untuk lainnya disambung di DM 3

Disampaikan Oleh Ustad Masturi Istamar
Dauroh Munakahat pertemuan Kedua
Senin, 12 November 2012
Pukul 20:00 - 22:00

Monday, 12 November 2012

Motivasi. Satu kata yang sering didengar dan diucap tapi agak sulit untuk diilhami. Motivasi mempunyai arti yang sama dengan Niat. Ya hampir hampir sama lah antara Motivasi dan niat. Sekarang kita bicarakan soal Niat. Niat lebih baik dari pada amal. Amal seseorang itu dilihat dari niatnya. Bahkan dalam suatu hadits, jika kita telah berniat melakukan kebaikan, tapi belum kesampaian melakukannya, maka niat kita sudah mendapat pahala. Dahsyatkan ??

Diibaratkan ada beberapa kayu yang ingin disatukan dengan tali, maka niat ini seperti tali yang mengikat kayu kayu tersebut. Semakin banyak tali yang digunakan, maka kayu kayu tersebut akan terikat semakin kuat. Ada beberapa penggolongan Niat atau Motivasi, diantaranya :

  • Niat yang benar, menjadikan seseorang menjadi militasi (kekeuh) untuk mendapatkan sesuatu yang diniatkan tersebut
  • Niat yang salah, Menyebabkan aplikasi yang salah
  • Niat yang kuat, menyebabkan seseorang lebih kuat dalam menjalani hidup
  • Niat yang lemah, akan membuat seseorang menjadi mudah putus asa
  • Niat yang baik, akan membuat seorang atau sepasang kekasih saling melengkapi and make a proyek together
Berbicara mengenai niat atau Motivasi ini, ada beberapa Motivasi dalam melaksanakan Pernikahan, diantaranya :
  1. Nikah sebagai Ibadah (Adz Dzariat : 56)
  2. Mengikuti Sunah Rasulullah
  3. Mendapatkan keturunan yang Shalih dan Shalihah
  4. Menjaga kehormatan diri
  5. Memperluar Jangkauan dakwah atau lapangan Ibadah
  6. Menegakan rumah tangga Dakwah
  7. Mendapatkan Janji Allah (SaMaRa) Sakinah, Mawadah, Warahmah
  8. Mencari Rizky, atau Meluaskan Rezeky
Nah, Bila Motivasi atau niatnya udah bener, terus bagaimana untuk mencari atau Kiat kiat dalam mencari pasangan ?

  1. Tentukan tujuan anda. Tujuan anda untuk menikah itu apa. Klo tujuan udah, lanjut ke yang kedua. Misalnya anda bepergian, tapi tidak tau mau kemana, kan itu repot. Nah, begitu juga dengan menikah. kita mesti, harus, kudu tau tujuannya dulu
  2. Pilihlah sifat, jangan pilih orang apalagi nama apalagi yang lain. Dalam memilih pasangan hidup pilihlah berdasarkan sifat, jangan pilih orang or nama. Karena, kalau kita pilih nama atau orang, ketika dia bukan jodoh kita, terus dia nikah sama orang lain, kan urusannya jadi berabe tuh, Galau aja yang ada, hhe
  3. Kenalilah calon anda, Cari info yang sebanyak-banyaknya. Usahakan cari yang Jujur, Mau ngikuti kita, dan Bisa mengalah.
  4. Minta tolong dengan orang yang dipercaya untuk menyelidikinya. Nah, kriteria orang yang mau diminta tolongi itu harus, Bisa Cari Informasi, Bisa menjaga harga diri kita dan Bisa menjaga Rahasia
  5. Jangan tergesa-gesa menentukan pilihan
  6. Cari yang satu Fikrah. Takutnya ada perdebatan, jika yang satu mesti nyunah, yang satu mesti Khilafah, yang satu mesti ini lah, mesti itu lah. Jadi usahakan satu Fikrah, Supaya SAMARA.
  7. Lakukan Istighasah (doa + Sholat) untuk mencari ketenangan hari
  8. Pikirkan dengan pikiran yang jernih
  9. Pikirkan dengan logika yang logis
  10. Lakukan dengan Proses yang benar
  11. Jangan Merugikan diri sendiri dan orang lain
  12. Cinta itu harus memiliki. Dan memiliki itu harus mencintai
Nah, insyaAllah nanti dilanjut di DM2 ya :)

Disampaikan Oleh Ustad Masturi Istamar
Dauroh Munakahat pertemuan Pertama
Senin, 22 Oktober 2012
Pukul 20:00 - 22:00

Motivasi. Satu kata yang sering didengar dan diucap tapi agak sulit untuk diilhami. Motivasi mempunyai arti yang sama dengan Niat. Ya hampir hampir sama lah antara Motivasi dan niat. Sekarang kita bicarakan soal Niat. Niat lebih baik dari pada amal. Amal seseorang itu dilihat dari niatnya. Bahkan dalam suatu hadits, jika kita telah berniat melakukan kebaikan, tapi belum kesampaian melakukannya, maka niat kita sudah mendapat pahala. Dahsyatkan ??

Diibaratkan ada beberapa kayu yang ingin disatukan dengan tali, maka niat ini seperti tali yang mengikat kayu kayu tersebut. Semakin banyak tali yang digunakan, maka kayu kayu tersebut akan terikat semakin kuat. Ada beberapa penggolongan Niat atau Motivasi, diantaranya :

  • Niat yang benar, menjadikan seseorang menjadi militasi (kekeuh) untuk mendapatkan sesuatu yang diniatkan tersebut
  • Niat yang salah, Menyebabkan aplikasi yang salah
  • Niat yang kuat, menyebabkan seseorang lebih kuat dalam menjalani hidup
  • Niat yang lemah, akan membuat seseorang menjadi mudah putus asa
  • Niat yang baik, akan membuat seorang atau sepasang kekasih saling melengkapi and make a proyek together
Berbicara mengenai niat atau Motivasi ini, ada beberapa Motivasi dalam melaksanakan Pernikahan, diantaranya :
  1. Nikah sebagai Ibadah (Adz Dzariat : 56)
  2. Mengikuti Sunah Rasulullah
  3. Mendapatkan keturunan yang Shalih dan Shalihah
  4. Menjaga kehormatan diri
  5. Memperluar Jangkauan dakwah atau lapangan Ibadah
  6. Menegakan rumah tangga Dakwah
  7. Mendapatkan Janji Allah (SaMaRa) Sakinah, Mawadah, Warahmah
  8. Mencari Rizky, atau Meluaskan Rezeky
Nah, Bila Motivasi atau niatnya udah bener, terus bagaimana untuk mencari atau Kiat kiat dalam mencari pasangan ?

  1. Tentukan tujuan anda. Tujuan anda untuk menikah itu apa. Klo tujuan udah, lanjut ke yang kedua. Misalnya anda bepergian, tapi tidak tau mau kemana, kan itu repot. Nah, begitu juga dengan menikah. kita mesti, harus, kudu tau tujuannya dulu
  2. Pilihlah sifat, jangan pilih orang apalagi nama apalagi yang lain. Dalam memilih pasangan hidup pilihlah berdasarkan sifat, jangan pilih orang or nama. Karena, kalau kita pilih nama atau orang, ketika dia bukan jodoh kita, terus dia nikah sama orang lain, kan urusannya jadi berabe tuh, Galau aja yang ada, hhe
  3. Kenalilah calon anda, Cari info yang sebanyak-banyaknya. Usahakan cari yang Jujur, Mau ngikuti kita, dan Bisa mengalah.
  4. Minta tolong dengan orang yang dipercaya untuk menyelidikinya. Nah, kriteria orang yang mau diminta tolongi itu harus, Bisa Cari Informasi, Bisa menjaga harga diri kita dan Bisa menjaga Rahasia
  5. Jangan tergesa-gesa menentukan pilihan
  6. Cari yang satu Fikrah. Takutnya ada perdebatan, jika yang satu mesti nyunah, yang satu mesti Khilafah, yang satu mesti ini lah, mesti itu lah. Jadi usahakan satu Fikrah, Supaya SAMARA.
  7. Lakukan Istighasah (doa + Sholat) untuk mencari ketenangan hari
  8. Pikirkan dengan pikiran yang jernih
  9. Pikirkan dengan logika yang logis
  10. Lakukan dengan Proses yang benar
  11. Jangan Merugikan diri sendiri dan orang lain
  12. Cinta itu harus memiliki. Dan memiliki itu harus mencintai
Nah, insyaAllah nanti dilanjut di DM2 ya :)

Disampaikan Oleh Ustad Masturi Istamar
Dauroh Munakahat pertemuan Pertama
Senin, 22 Oktober 2012
Pukul 20:00 - 22:00

Sunday, 11 November 2012

Satu, dua, tiga, empat, dan seterusnya sampai sebelas kalau ga salah, kira kira ada "Janur Kuning" yang melengkung. Mungkin sekarang lagi musimnya disamping musim hujan. Diperjalanan pulang menuju kampus tercinta (STAN) kira kira ada sebelas Janur Kuning yang melengkung, yang disetiap Janur Kuning itu pasti arus lalu lintas sedikit tersendak. Entah itu karena orang yang nyebrang atau mobil yang parkir untuk ke Undangan. Intinya, pulang kali ini membutuhkan waktu yang lama dikarenakan janur kuning (jalan tersendak) dan akhirnya kejebak hujan. tapi dari pada mengeluh yang ngga ada hasilnya, mendingan nulis di blog ini, hhe.

Secara umum, kebanyakan orang dalam masalah percintaan, #eits (mentang-mentang lagi hujan, ngegalau dikit) biasanya mengalami tiga fase. Fase Pacaran or Penjajakan, Fase Pernikahan, dan Fase Penantian Buah Hati.

Masih ingat kan kemaren tanggalnya bagus. 10 November 2012 atau angka bagusnya 10-11-12. Terus hari Pahlawan lagi. Melihat dari status temen-temen di FB dan berita di televisi, biasanya moment tersebut atau tanggal bagus tersebut di jadikan sebagai Moment untuk menentukan ketiga Fase tersebut.

Yang pertama, fase Pacaran atau penjajakan. Ada salah seorang temen di FB yang pasang status kurang lebih seperti ini. "Yang mau Jadian atau yang mau putus, hari ini aja, mumpung tanggalnya bagus". Haha, ada ada saja, ya mungkin supaya bisa mudah diingat kali ya. Biasanya kan orang yang jatuh cinta itu ada yang namanya selebrasi jadian. Entah itu bulanan, 3 bulanan, Tahunan, 100 harian #eh dan lain lainnya.

Yang kedua, Fase Pernikahan. Nah ini yang mantap. Kalo ga salah (karena belum mengalami) ada juga kan yang ngerayain ulang tahun pernikahannya. Ya, mungkin berhubung tanggal 10 November hari Sabtu, mungkin akadnya hari Sabtu dan Walimahnya hari Minggu. Udah tanggalnya bagus, hari Pahlawan lagi.

Untuk yang pertama dan kedua, ini kan berhubungan dengan Cinta. Ada ungkapan yang menarik di Dalam buku Jalan Cinta Para Pejuang karya Ustd Salim A Fillah yang mana isinya seperti ini nih ..

Ada dua pilihan ketika kita bertemu cinta. Jatuh cinta atau bangun cinta. Padamu, aku memilih yg kedua. Agar cinta kita menjadi istana -Salim A Fillah-

Yang pertama itu saya sebut sebagai Jatuh Cinta. Bagaimana jika seseorang jatuh ? tentu akan sakit kan ? Tidak akan ada hasilnya kan? terus tanggal itu teringat ingat karena tanggal yang bagus dan bersejarah. Sakit hatinya pun karena "jatuh" mungkin akan bersejarah. Hhe. Jadi saran saya, udah jangan PAcaran !!!, Segera Nikahi pacarnya !!! #eh

Yang kedua itu saya sebut sebagai Fase Bangun Cinta. Bagaimana seseorang yang membangun cinta (tanpa pacaran) yang dengan kesabarannya, dengan perbaikannya dan dengan ketaatannya, ia membangun sebuah istana cinta, yang nantinya ia nikmati mendapat pahala. Itulah logikanya. Jika kita pacaran berarti Jatuh Cinta dan jika kita Sabar, tidak pacaran, memantaskan diri, udah ada yang cocok langsung nikahi itu berarti membangun cinta. Hayoo, pilih yang mana ?

Kemudian untuk Fase yang ketiga itu Fase Penantian Buah Hati. Saya sempat kaget dengan berita di TV yang mana ada anak yang sesar (sengaja) supaya lahir tanggal 10-11-12 itu. Apakah itu tidak memaksakan kehendak ? Bukankah buah yang enak itu, buah yang matang di pohon ? bagaimana jika sebelum ia matang sudah diambil ? Pasti kurang enak kan ? Trus soal anak itu ? Perlu kajian lebih lanjut mengenai hal itu, dan saya tidak berkompeten dalam hal itu.

Nah, nyambung ke sini lagi :

Ada dua pilihan ketika kita bertemu cinta. Jatuh cinta atau bangun cinta. Padamu, aku memilih yg kedua. Agar cinta kita menjadi istana -Salim A Fillah-

Bukankah tujuan pacaran itu untuk menikah ? Apakah ada yang mau dipacari hanya untuk pelampiasan nafsu birahi ? Semua orang pasti tidak mau hanya sebagai  pengganti atau bukan yang inti. Lantas, bagaimana dengan penantian selama ini ? Bukankah sabar lebih baik. Bukankah buah yang matang dipohon itu lebih enak dan nikmat dari pada buah yang diambil tidak pada waktunya ?
Bagaimana dengan orang yang pacaran ? bukankah itu memetik buah yang belum matang dari pohonnya ? Bagaimana jika kita memakan buah yang tidak enak ? pasti langsung di buang kan ? #eh

-Maka, mari kita pantaskanlah diri untuk teman sejati agar dapat menggapai ridho Ilahi- 

Bintoro, Pinggir Jalan
Ditulis diatas motor yang sedang menanti hujan berhenti

Satu, dua, tiga, empat, dan seterusnya sampai sebelas kalau ga salah, kira kira ada "Janur Kuning" yang melengkung. Mungkin sekarang lagi musimnya disamping musim hujan. Diperjalanan pulang menuju kampus tercinta (STAN) kira kira ada sebelas Janur Kuning yang melengkung, yang disetiap Janur Kuning itu pasti arus lalu lintas sedikit tersendak. Entah itu karena orang yang nyebrang atau mobil yang parkir untuk ke Undangan. Intinya, pulang kali ini membutuhkan waktu yang lama dikarenakan janur kuning (jalan tersendak) dan akhirnya kejebak hujan. tapi dari pada mengeluh yang ngga ada hasilnya, mendingan nulis di blog ini, hhe.

Secara umum, kebanyakan orang dalam masalah percintaan, #eits (mentang-mentang lagi hujan, ngegalau dikit) biasanya mengalami tiga fase. Fase Pacaran or Penjajakan, Fase Pernikahan, dan Fase Penantian Buah Hati.

Masih ingat kan kemaren tanggalnya bagus. 10 November 2012 atau angka bagusnya 10-11-12. Terus hari Pahlawan lagi. Melihat dari status temen-temen di FB dan berita di televisi, biasanya moment tersebut atau tanggal bagus tersebut di jadikan sebagai Moment untuk menentukan ketiga Fase tersebut.

Yang pertama, fase Pacaran atau penjajakan. Ada salah seorang temen di FB yang pasang status kurang lebih seperti ini. "Yang mau Jadian atau yang mau putus, hari ini aja, mumpung tanggalnya bagus". Haha, ada ada saja, ya mungkin supaya bisa mudah diingat kali ya. Biasanya kan orang yang jatuh cinta itu ada yang namanya selebrasi jadian. Entah itu bulanan, 3 bulanan, Tahunan, 100 harian #eh dan lain lainnya.

Yang kedua, Fase Pernikahan. Nah ini yang mantap. Kalo ga salah (karena belum mengalami) ada juga kan yang ngerayain ulang tahun pernikahannya. Ya, mungkin berhubung tanggal 10 November hari Sabtu, mungkin akadnya hari Sabtu dan Walimahnya hari Minggu. Udah tanggalnya bagus, hari Pahlawan lagi.

Untuk yang pertama dan kedua, ini kan berhubungan dengan Cinta. Ada ungkapan yang menarik di Dalam buku Jalan Cinta Para Pejuang karya Ustd Salim A Fillah yang mana isinya seperti ini nih ..

Ada dua pilihan ketika kita bertemu cinta. Jatuh cinta atau bangun cinta. Padamu, aku memilih yg kedua. Agar cinta kita menjadi istana -Salim A Fillah-

Yang pertama itu saya sebut sebagai Jatuh Cinta. Bagaimana jika seseorang jatuh ? tentu akan sakit kan ? Tidak akan ada hasilnya kan? terus tanggal itu teringat ingat karena tanggal yang bagus dan bersejarah. Sakit hatinya pun karena "jatuh" mungkin akan bersejarah. Hhe. Jadi saran saya, udah jangan PAcaran !!!, Segera Nikahi pacarnya !!! #eh

Yang kedua itu saya sebut sebagai Fase Bangun Cinta. Bagaimana seseorang yang membangun cinta (tanpa pacaran) yang dengan kesabarannya, dengan perbaikannya dan dengan ketaatannya, ia membangun sebuah istana cinta, yang nantinya ia nikmati mendapat pahala. Itulah logikanya. Jika kita pacaran berarti Jatuh Cinta dan jika kita Sabar, tidak pacaran, memantaskan diri, udah ada yang cocok langsung nikahi itu berarti membangun cinta. Hayoo, pilih yang mana ?

Kemudian untuk Fase yang ketiga itu Fase Penantian Buah Hati. Saya sempat kaget dengan berita di TV yang mana ada anak yang sesar (sengaja) supaya lahir tanggal 10-11-12 itu. Apakah itu tidak memaksakan kehendak ? Bukankah buah yang enak itu, buah yang matang di pohon ? bagaimana jika sebelum ia matang sudah diambil ? Pasti kurang enak kan ? Trus soal anak itu ? Perlu kajian lebih lanjut mengenai hal itu, dan saya tidak berkompeten dalam hal itu.

Nah, nyambung ke sini lagi :

Ada dua pilihan ketika kita bertemu cinta. Jatuh cinta atau bangun cinta. Padamu, aku memilih yg kedua. Agar cinta kita menjadi istana -Salim A Fillah-

Bukankah tujuan pacaran itu untuk menikah ? Apakah ada yang mau dipacari hanya untuk pelampiasan nafsu birahi ? Semua orang pasti tidak mau hanya sebagai  pengganti atau bukan yang inti. Lantas, bagaimana dengan penantian selama ini ? Bukankah sabar lebih baik. Bukankah buah yang matang dipohon itu lebih enak dan nikmat dari pada buah yang diambil tidak pada waktunya ?
Bagaimana dengan orang yang pacaran ? bukankah itu memetik buah yang belum matang dari pohonnya ? Bagaimana jika kita memakan buah yang tidak enak ? pasti langsung di buang kan ? #eh

-Maka, mari kita pantaskanlah diri untuk teman sejati agar dapat menggapai ridho Ilahi- 

Bintoro, Pinggir Jalan
Ditulis diatas motor yang sedang menanti hujan berhenti

Saturday, 10 November 2012

Hewan apa yang huruf awalnya dari  A ? Ayam, Angsa. Terus Buah apa yang huruf awalnya dari D ? Duren, Duku, Djambu., hhe. Pernah maen kayak ginian ? Kalau belum pernah maen kaya ginian, berarti masa kecil kalian kurang bahagia. Lanjut ya, Buah apa yang Rasanya kaya rasa Mangga, rasa Jambu, Rasa kedonggong dan rasa Pedes ? *Mikir* Rujak. #kress, Garing. (maaf saya lupa lagi soal tebak tebakan yang jawabannya itu rujak, klo ada yang tahu boleh lah dikasih tau, ya, ya, ya :D )

RUJAK, satu kosa kata baru yang didapat dari pertemuan hari ini. Seperti biasa, Sabtu siang jam 10 itu ada pertemuan Rutin untuk perencanaan Bogor Barat yang Berbudi, Terutama untuk anak SMA yang mungkin sekarang ini sedang masa masanya Produktif, entah itu positif or negatif.

Kesibukan dari temen temen IMLC ini, ya mungkin sekarang baru bisa dibilang (kalo versi Indonesianya) BPUPKI, menyebabkan tidak bisa semuanya hadir. Cuma ada 7 yang bisa menghadiri, (yah ga beda jauh lah sama Panitia 9, cuma beda 2 orang, #apasih)

Rujak, satu kata yang enak di dengar, apalagi dirasakan apalagi dimakan. Rujak yang terdiri dari Jambu, Mangga, Nanas, Kedongdong dan lain lain, yang dicampuri dengan sambelnya. Tapi kita tidak akan membicarakan mengenai itu (makanan), yang akan kita bicarakan disini adalah mengenai singkatan dari RUJAK (Ruhiah, keUangan, Jasmani, Akademik/Aktivitas dan Keluarga).

 Sempat kaget, ketika ditanya seperti itu, karena pertama kalinya. Akan tetapi jika dipikir pikir bagus juga, ketika pertanyaan RUJAK itu ditanyakan kepada diri sendiri, setiap hari dan dimalam yang sunyi. Mungkin itu sebagai Introspeksi diri, bagaimana kita dalam menjalani hari ini. Apakah Ruhiah kita, keUangan kita, Jasmani kita, Akademis kita dan keluarga kita baik baik saja.

Mengenai Ruhian, mungkin dalam kehidupan ini ada kalanya Naik Turun. Untuk menjaganya ya mungkin amal Yaumilnya jangan sampai terlewat. Tilawahnya, tahajudnya, Dhuhanya, Sholatnya harus tetap dijaga. Keuangan mungkin aga dibatesi supaya jangan terlalu boros.

Jasmani, ini yang berhubungan dengan badan kita, kondisi fisik kita dan lain lain. Jangan lupa juga olahraga biar badas sehat, otot kuat. Akademis, mungkin sekarang itu lagi musim-musimnya UTS, atau yang sudah berlalu, tetapi kegalauannya yang masih belum berlalu. Dan keluarga, ini yang harus kita perhatikan. Sesibuk apapun kita, jangan sampai kita melupakan keluarga kita. Camkan itu nak !!! :)

Nah, Rujak ini mungkin juga bisa kita tanyakan kepada teman kita, sobat karib kita, teman akrab kita, or bahasa Bogornya, teman main gundu kita. Mungkin pertanyaannya cuma RUJAK (sepele), tetapi insyaAllah itu cukup berkesan untuk teman yang ditanya.

Dan yang paling penting lagi nih, kapan terakhir kali kamu makan Rujak ? yang terpenting lagi, kapan kamu (pembaca) akan membelikan saya Rujak ? hhe :D

Hewan apa yang huruf awalnya dari  A ? Ayam, Angsa. Terus Buah apa yang huruf awalnya dari D ? Duren, Duku, Djambu., hhe. Pernah maen kayak ginian ? Kalau belum pernah maen kaya ginian, berarti masa kecil kalian kurang bahagia. Lanjut ya, Buah apa yang Rasanya kaya rasa Mangga, rasa Jambu, Rasa kedonggong dan rasa Pedes ? *Mikir* Rujak. #kress, Garing. (maaf saya lupa lagi soal tebak tebakan yang jawabannya itu rujak, klo ada yang tahu boleh lah dikasih tau, ya, ya, ya :D )

RUJAK, satu kosa kata baru yang didapat dari pertemuan hari ini. Seperti biasa, Sabtu siang jam 10 itu ada pertemuan Rutin untuk perencanaan Bogor Barat yang Berbudi, Terutama untuk anak SMA yang mungkin sekarang ini sedang masa masanya Produktif, entah itu positif or negatif.

Kesibukan dari temen temen IMLC ini, ya mungkin sekarang baru bisa dibilang (kalo versi Indonesianya) BPUPKI, menyebabkan tidak bisa semuanya hadir. Cuma ada 7 yang bisa menghadiri, (yah ga beda jauh lah sama Panitia 9, cuma beda 2 orang, #apasih)

Rujak, satu kata yang enak di dengar, apalagi dirasakan apalagi dimakan. Rujak yang terdiri dari Jambu, Mangga, Nanas, Kedongdong dan lain lain, yang dicampuri dengan sambelnya. Tapi kita tidak akan membicarakan mengenai itu (makanan), yang akan kita bicarakan disini adalah mengenai singkatan dari RUJAK (Ruhiah, keUangan, Jasmani, Akademik/Aktivitas dan Keluarga).

 Sempat kaget, ketika ditanya seperti itu, karena pertama kalinya. Akan tetapi jika dipikir pikir bagus juga, ketika pertanyaan RUJAK itu ditanyakan kepada diri sendiri, setiap hari dan dimalam yang sunyi. Mungkin itu sebagai Introspeksi diri, bagaimana kita dalam menjalani hari ini. Apakah Ruhiah kita, keUangan kita, Jasmani kita, Akademis kita dan keluarga kita baik baik saja.

Mengenai Ruhian, mungkin dalam kehidupan ini ada kalanya Naik Turun. Untuk menjaganya ya mungkin amal Yaumilnya jangan sampai terlewat. Tilawahnya, tahajudnya, Dhuhanya, Sholatnya harus tetap dijaga. Keuangan mungkin aga dibatesi supaya jangan terlalu boros.

Jasmani, ini yang berhubungan dengan badan kita, kondisi fisik kita dan lain lain. Jangan lupa juga olahraga biar badas sehat, otot kuat. Akademis, mungkin sekarang itu lagi musim-musimnya UTS, atau yang sudah berlalu, tetapi kegalauannya yang masih belum berlalu. Dan keluarga, ini yang harus kita perhatikan. Sesibuk apapun kita, jangan sampai kita melupakan keluarga kita. Camkan itu nak !!! :)

Nah, Rujak ini mungkin juga bisa kita tanyakan kepada teman kita, sobat karib kita, teman akrab kita, or bahasa Bogornya, teman main gundu kita. Mungkin pertanyaannya cuma RUJAK (sepele), tetapi insyaAllah itu cukup berkesan untuk teman yang ditanya.

Dan yang paling penting lagi nih, kapan terakhir kali kamu makan Rujak ? yang terpenting lagi, kapan kamu (pembaca) akan membelikan saya Rujak ? hhe :D

Friday, 9 November 2012

Alhamdulilah, kita masih bertemu dengan hari Jum'at, mudah mudahan kita masih bisa bertemu untuk hari Jum'at hari Jum'at selanjutnya. Taukah teman bahwa hari Jum'at itu sangat istimewa ? Tahukah teman, bahwa hari Jum'at itu Hari paling utama, dan Tahukah kau teman bahwa di Hari Jum'at banyak kejadian besar yang telah terjadi ?

Terus apa sih keutamaan-keutamaan dari Hari Jum'at ? ini dia beberapa keutamaan pada Hari Jum'at, diantaranya :

  1. Hari paling utama di dunia 
  2. Hari bagi kaum muslimin 
  3. Hari yang paling mulia dan merupakan penghulu dari hari-hari
  4. Waktu yang mustajab untuk berdo’a 
  5. Dosa-dosanya diampuni antara jum’at tersebut dengan jum’at sebelumnya 


Nah, kita kan udah tau tuh keutamaan keutamaannya, terus apasih amalan amalan yang disyariatkan dihari Jum'at ? Ada beberapa Amalan yang disyariatkan di hari Jum'at, diantaranya :

  1. Memperbanyak shalawat 
  2. Membaca surat Al Kahfi 
  3. Memperbanyak do’a 
  4. Amalan-amalan shalat jum’at (wajib bagi laki-laki)


Nah, itulah keutamaan dan Amalan amalan yang disyariatkan di Hari Jum'at, untuk penjelesannya bisa dibaca di bawah ini : 

Alhamdulilah, kita masih bertemu dengan hari Jum'at, mudah mudahan kita masih bisa bertemu untuk hari Jum'at hari Jum'at selanjutnya. Taukah teman bahwa hari Jum'at itu sangat istimewa ? Tahukah teman, bahwa hari Jum'at itu Hari paling utama, dan Tahukah kau teman bahwa di Hari Jum'at banyak kejadian besar yang telah terjadi ?

Terus apa sih keutamaan-keutamaan dari Hari Jum'at ? ini dia beberapa keutamaan pada Hari Jum'at, diantaranya :

  1. Hari paling utama di dunia 
  2. Hari bagi kaum muslimin 
  3. Hari yang paling mulia dan merupakan penghulu dari hari-hari
  4. Waktu yang mustajab untuk berdo’a 
  5. Dosa-dosanya diampuni antara jum’at tersebut dengan jum’at sebelumnya 


Nah, kita kan udah tau tuh keutamaan keutamaannya, terus apasih amalan amalan yang disyariatkan dihari Jum'at ? Ada beberapa Amalan yang disyariatkan di hari Jum'at, diantaranya :

  1. Memperbanyak shalawat 
  2. Membaca surat Al Kahfi 
  3. Memperbanyak do’a 
  4. Amalan-amalan shalat jum’at (wajib bagi laki-laki)


Nah, itulah keutamaan dan Amalan amalan yang disyariatkan di Hari Jum'at, untuk penjelesannya bisa dibaca di bawah ini : 

Thursday, 8 November 2012

Alhamdulillah, Ujian tengah semester sudah dilalui. Banyak hal hal yang terjadi dan menarik selama melewati masa Ujian tengah semester tersebut, mulai dari Datang telat pas ujian, Ketiduran pas belajar, ditegur pengawas dan lain sebagainya.

UTS (ujian tengah semester) kali ini cukup memberikan kabar duka yang mendalam, Mulai kabar dari Sekre, sampai teman satu kelas tingkat 2 yang telah tiada. Semoga Amal ibadahnya diterima disisi Allah yang maha Kuasa.

UTS kali ini ada 8 mata kuliah. Mulai dari Analisis Laporan Keuangan sampai dengan Etika Profesi. Analisis Laporan keuangan dengan Potensi Pajaknya, KSPK dengan Etiketnya, Auditing dengan Wajar Tanpa Pengecualiannya, PPSP dengan Juru Sitanya, Lap PPh dengan Kredit pajaknya, Lab PPN dengan jumlah pajak yang disetornya, Komdit dengan Pengendalian Internalnya dan Etprof dengan Moral, Etika, Etiket, Nilai dan Normanya.

Alhamdulilah semua dilalui dengan izinNya dan mudah mudahan mendapat hasil yang maksimal. Pada masa Ujian, semua kegiatan berhenti (organisasi). Semua fokus kepada Ujian (belajar). Dirasa rasa, sebenernya kualitas hubungan kita ketika Ujian dengan sang Pencipta lebih intens dari pada saat diluar Ujian.

Diambil dari buku "Ujian Sukses Tanpa Stress!" yang ditulis oleh bang Fatan Fantastik ada salah satu bagian yang menurut saya sangat bagus, yaitu Kenapa si Ujian harus datang kepada kita ?.Ini ada beberapa alasannya yang dituangkan dalam buku tersebut :

  1. Mengetes Kemampuan
  2. Mengukur Keberhasilan Belajar
  3. Sarana Pembeda
  4. Memotivasi diri untuk lebih berprestasi
  5. Sarana Mendekatkan diri pada Allah
  Ya, UTS kemaren merupakan sarana untuk mengetes kemampuan kita dan mengukur keberhasilan belajar kita selama 8 minggu. Apakah berhasil ? apakah raga kita yang hanya masuk ruang kuliah, sedangkan hati entah kemana? #eaaa.

Kemudian Ujian pun menjadi sarana pembeda antara orang yang tahu dan tidak tahu. Orang yang belajar dan tidak belajar. Orang yang pintar dan kurang pintar. Pasti bedakan ?. Terus pas ujian datang, biasanya itu menjadikan diri untuk lebih berprestasi kan ? *ngitung IP langsung.

Dan yang terakhir, yang diliat liat, pasti Masjid ketika Ujian itu lebih rame dari pada bukan pas Ujian ? Bener kan ?. Jadi Alhamdulilah ada ujian itu datang donk,, hhe.

Owh iya, ada satu lagi. yang menjadi judul tulisan ini.  Ujian sebagai sarana menjadi Penulis ,, hhe, Kenapa begitu ? *jeng jeng. Kalian pernah ga, pas Ujian ada soal yang harus di jawab, sedangkan kalian tidak tau jawabannya apa? Pasti pernah kan. Terus kalo ga diisi sayang kan ? klo diisi kan lumayan dapet kuli tinta. :D

Ya, ketika kita ngisi soal yang entah jawabannya apa, biasanya kita ngasal dan biasanya itu jawabannya ga sedikit. Tulisannya dipanjang panjangi dengan mengeluarkan semua ide yang ada diotak yang dituangkan dalam bentuk tulisan. Entah itu yang nyambung atau yang nyerempet nyerempet dikit lah. (Curhatan Pribadi, hhe)

Ya, Mudah mudahan Ujian itu datang kembali, dan kita mempersiapkan diri, siap untuk menempa diri ,siap untuk memperbaiki diri dan siap untuk unjuk gigi :D

Alhamdulillah, Ujian tengah semester sudah dilalui. Banyak hal hal yang terjadi dan menarik selama melewati masa Ujian tengah semester tersebut, mulai dari Datang telat pas ujian, Ketiduran pas belajar, ditegur pengawas dan lain sebagainya.

UTS (ujian tengah semester) kali ini cukup memberikan kabar duka yang mendalam, Mulai kabar dari Sekre, sampai teman satu kelas tingkat 2 yang telah tiada. Semoga Amal ibadahnya diterima disisi Allah yang maha Kuasa.

UTS kali ini ada 8 mata kuliah. Mulai dari Analisis Laporan Keuangan sampai dengan Etika Profesi. Analisis Laporan keuangan dengan Potensi Pajaknya, KSPK dengan Etiketnya, Auditing dengan Wajar Tanpa Pengecualiannya, PPSP dengan Juru Sitanya, Lap PPh dengan Kredit pajaknya, Lab PPN dengan jumlah pajak yang disetornya, Komdit dengan Pengendalian Internalnya dan Etprof dengan Moral, Etika, Etiket, Nilai dan Normanya.

Alhamdulilah semua dilalui dengan izinNya dan mudah mudahan mendapat hasil yang maksimal. Pada masa Ujian, semua kegiatan berhenti (organisasi). Semua fokus kepada Ujian (belajar). Dirasa rasa, sebenernya kualitas hubungan kita ketika Ujian dengan sang Pencipta lebih intens dari pada saat diluar Ujian.

Diambil dari buku "Ujian Sukses Tanpa Stress!" yang ditulis oleh bang Fatan Fantastik ada salah satu bagian yang menurut saya sangat bagus, yaitu Kenapa si Ujian harus datang kepada kita ?.Ini ada beberapa alasannya yang dituangkan dalam buku tersebut :

  1. Mengetes Kemampuan
  2. Mengukur Keberhasilan Belajar
  3. Sarana Pembeda
  4. Memotivasi diri untuk lebih berprestasi
  5. Sarana Mendekatkan diri pada Allah
  Ya, UTS kemaren merupakan sarana untuk mengetes kemampuan kita dan mengukur keberhasilan belajar kita selama 8 minggu. Apakah berhasil ? apakah raga kita yang hanya masuk ruang kuliah, sedangkan hati entah kemana? #eaaa.

Kemudian Ujian pun menjadi sarana pembeda antara orang yang tahu dan tidak tahu. Orang yang belajar dan tidak belajar. Orang yang pintar dan kurang pintar. Pasti bedakan ?. Terus pas ujian datang, biasanya itu menjadikan diri untuk lebih berprestasi kan ? *ngitung IP langsung.

Dan yang terakhir, yang diliat liat, pasti Masjid ketika Ujian itu lebih rame dari pada bukan pas Ujian ? Bener kan ?. Jadi Alhamdulilah ada ujian itu datang donk,, hhe.

Owh iya, ada satu lagi. yang menjadi judul tulisan ini.  Ujian sebagai sarana menjadi Penulis ,, hhe, Kenapa begitu ? *jeng jeng. Kalian pernah ga, pas Ujian ada soal yang harus di jawab, sedangkan kalian tidak tau jawabannya apa? Pasti pernah kan. Terus kalo ga diisi sayang kan ? klo diisi kan lumayan dapet kuli tinta. :D

Ya, ketika kita ngisi soal yang entah jawabannya apa, biasanya kita ngasal dan biasanya itu jawabannya ga sedikit. Tulisannya dipanjang panjangi dengan mengeluarkan semua ide yang ada diotak yang dituangkan dalam bentuk tulisan. Entah itu yang nyambung atau yang nyerempet nyerempet dikit lah. (Curhatan Pribadi, hhe)

Ya, Mudah mudahan Ujian itu datang kembali, dan kita mempersiapkan diri, siap untuk menempa diri ,siap untuk memperbaiki diri dan siap untuk unjuk gigi :D

Wednesday, 7 November 2012

Tulisan ini, merupakan tulisan Ustd Salim A Fillah dengan judul Menulis, dari Makna Hingga Daya yang ada di sini  . Mudah mudahan menjadi bahan renungan khususnya bagi pribadi dan umumnya untuk kita semua.


kata-kata kita menjelma boneka lilin
saat kita mati untuk memperjuangkannya
kala itulah ruh kan merambahnya
dan kalimat-kalimat itupun hidup selamanya
-Sayyid Quthb-
 Menulis adalah mengikat jejak pemahaman. Akal kita sebagai karunia Allah ‘Azza wa Jalla, begitu agung dayanya menampung sedemikian banyak data. Tetapi kita kadang kesulitan memanggil apa yang telah tersimpan lama. Ilmu masa lalu itu berkeliaran dan bersembunyi di jalur rumit otak. Maka menulis adalah menyusun kata kunci untuk membuka khazanah akal; sekata menunjukkan sealinea, satu kalimat untuk satu bab, sebuah paragraf mewakili berrangkai kitab. Demikianlah kita fahami kalimat indah Imam Asy-Syafi’i; ilmu adalah binatang buruan, dan pena yang menuliskan adalah tali pengikatnya.

Menulis juga jalan merekam jejak pemahaman. Kita lalui usia dengan memohon ditambah ilmu dan dikaruniai pengertian; maka adakah kemajuan? Itu boleh kita tahu jika kita rekam sang ilmu dalam lembaran; kita bisa melihat perkembangannya hari demi hari, bulan demi bulan. Jika tulisan kita tiga bulan lalu telah bisa kita tertawai; maka terbaca adanya kemajuan. Jika anggitan setahun lewat masih terkagumi juga; itu menyedihkan.


Lebih lanjut; menulis adalah mengujikan pemahaman kepada khalayak; yang dari berbagai sisi bisa memberi penyaksamaan dan penilaian. Kita memang membaca buku, menyimak kajian, hadir dalam seminar dan sarasehan. Tetapi kebenaran pemahaman kita belum tentu terjaminkan. Maka menulislah; agar jutaan pembaca menjadi guru yang meluruskan kebengkokan, mengingatkan keterluputan, dan membetulkan kekeliruan.


Penulis hakikatnya menyapa dengan ilmu; maka ia berbalas tambahan pengertian; makin bening, makin luas, kian dalam, dan kian tajam. Agungnya lagi; sang penulis merentangkan ilmunya melampaui batas-batas waktu dan ruang. Ia tak dipupus masa dan usia, ia tak terhalang ruang dan jarak. Adagium Latin itu tak terlalu salah; Verba Volant, Scripta Manent. Yang terucap kan lenyap tak berjejak, yang tertulis kan adi mengabadi. Tetapi bagi kita, makna keabadian karya bukan hanya soal masyhurnya nama; ia tentang pewarisan nilai. Apakah kemaslahatan yang kita lungsurkan, atau justru kerusakan.

 Andaikan benar bahwa II Principe yang dipersembahkan Niccolo Machiavelli pada Cesare de Borgia itu jadi kawan tidur para tiran seperti terisyu tentang Napoleon, Hitler, dan Stalin; akankah dia bertanggung jawab atas berbagai kezaliman yang terilham bukunya? Sebab bukan hanya pahala yang bersifat ‘jariyah’; melainkan ada juga dosa yang terus mengalir. Menjadi penulis adalah pertaruhan. Mungkin tak separah II Principe; tapi tiap kata yang mengalir dari jemari ini juga berpeluang menjadi keburukan berrantai-rantai.

Dan bahagialah bakda pengingat; huruf bisa menjelma dzarrah kebajikan; percikan ilhamnya tak putus mencahaya sampai kiamat tiba. Lalu terkejutlah para penulis kebenaran, kelak ketika catatan amal diserahkan, “Ya Rabbi, bagaimana bisa pahalaku sebanyak ini?” Moga kelak dijawab-Nya, “Ya, amalmu sedikit, dosamu berbukit; tapi inilah pahala tak putus dari ilham kebajikan yang kautebarkan.” Tulisan shahih dan mushlih; jadi jaring yang melintas segala batas; menjerat pahala orang terilham, tanpa mengurangi ganjaran si bersangkutan.

Menulis juga bagian dari tugas iman; sebab makhluk pertama ialah pena, ilmu pertama ialah bahasa, dan ayat pertama berbunyi “Baca!” Tersebut dalam hadis riwayat Imam Ahmad dan ditegaskan Ibnu Taimiyah dalam Fatawa, “Makhluk pertama yang dicipta-Nya ialah pena, lalu Dia berfirman, “Tulislah!” Tanya Pena, “Apa yang kutulis, wahai Rabbi?” Maka Allah titahkan, “Tulislah segala ketentuan yang Kutakdirkan bagi semua makhluk-Ku sejak awal zaman hingga akhir waktu.”
Demikianpun ilmu yang diajarkan pada Adam hingga membuat dia unggul atas malaikat yang diperintahkan bersujud padanya adalah bahasa; adalah kosa kata; adalah nama-nama (QS Al-Baqarah [2} ayat 31).



Dan “Baca!”; adalah wahyu pertama. Bangsa Arab dahulu mengukur kecerdasan dari kuatnya hafalan hingga memandang rendah tulis-baca. Sebab, menulis—kata mereka—hanyalah alat bantu bagi yang hafalannya di bawah rata-rata. Namun begitu ayat itu nuzul di Bukit Cahaya, hanya dalam 2 dasawarsa, para penggembala kambing dan penunggang unta itu meloncat ke ufuk, menjadi guru bagi semesta.

Muhammad, Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, hadir bukan dengan mukjizat yang membelalakkan. Dia datang dengan kata-kata yang menukik-menghunjam, disebut ‘Al Quran’, yang bermakna 'bacaan'. Maka Islam menjelma diri menjadi peradaban ilmiah, dengan pena sebagai pilarnya; hingga berbagai wawasan tertebar mengantar kemaslahatan ke segenap penjuru bumi.

Semoga Allah berkahi tiap kata yang mengalir dari ujung jemari kita. Sungguh, sesusun kalimat dapat menggugah jiwa manusia dan mengubah arah laju dunia. Maka bagaimana sebuah tulisan bisa mengilhami; tak tersia, tak jadi tragika, dan tak menjatuhkan penulisnya dalam gelimang kemalangan? Saya mencermati setidaknya ada tiga kekuatan yang harus dimiliki seorang penulis menggugah; Daya Ketuk, Daya Isi, dan Daya Memahamkan.

Daya Ketuk

Daya ketuk ini yang paling berat dibahas. Yang mericau ini pun masih jauh darinya dan tertatih belajar merengkuhnya. Ia masalah hati; terkait niat dan keikhlasan. Tapi pertama-tama, marilah kita jawab ketiga pertanyaan ini: 1) Mengapa saya harus menulis? 2) Mengapa hal ini harus ditulis? 3) Mengapa harus saya yang menuliskannya?

Seberapa kuat makna jawaban kita atas ke-3 soalan ini, menentukan seberapa besar daya tahan kita melewati berrupa-rupa tantangan menulis. Alasan kuat tentang diri, tema, dan akibat dunia-akhirat yang akan kita tanggung jika ia tak ditulis; akan menggairahkan, menguatkan, dan menekunkan. Keterlibatan hati dan jiwa dengan niat menyala itulah yang mengantarkan tulisan ke hati pembaca; mengetuk, menyentuh, menggerakkan.
 
Tetapi, tak cukup hanya hati bergairah dan semangat menyala saja jika yang kita kehendaki adalah keinsyafan suci di nurani pembaca. Menulis memerlukan kata yang agung dan berat itu; IKHLAS. Kemurnian. Harap dan takut yang hanya pada-Nya. Cinta terhadap kebenaran di atas segala-galanya.
Allah menggambarkan keikhlasan sejati bagaikan susu; terancam kotoran dan darah, tapi terupayakan. Ia murni, bergizi, mengandung tenaga inti. Ia mudah diasup, nyaman ditelan, lancar dicerna oleh peminum-peminumnya, menjadi daya untuk bertaat dan bertakwa (Q.s. an-Nahl [16] ayat 66). Maka menjadi penulis yang ikhlas sungguh payah dan tak mudah, ada goda kotoran dan darah, ada rayuan kekayaan dan kemasyhuran, ada jebakan riya’ dan sum’ah.

               Jika ia berhasil dilampaui; jadilah tulisan, ucapan dan perbuatan sang penulis bergizi, memberi arti, mudah dicerna jadi amal suci. Sebaliknya; penulis tak ikhlas itu; tulisannya bagai susu dicampur kotoran dan darah, racun dan limbah; lalu disajikan pada pembaca. Ya Rabbi; ampuni bengkoknya niat dalam hati, ampuni bocornya syahwat itu dan ini, di tiap kali kami gerakkan jemari menulis dan berbagi.

               Sebab susu tak murni, tulisan tak ikhlas, memungkinkan 2 hal: a) pembaca muak, mual, dan muntah bahkan saat baru mengamati awalnya. Atau lebih parah: b) pembaca begitu rakus melahap tulisan kita; tapi yang tumbuh di tubuhnya justru penyakit-penyakit berbahaya. Menulis berkeikhlasan, menabur benih kemurnian; agar Allah tumbuhkan di hati pembaca pohon ketakwaan. Itulah daya ketuk sejati.

Daya sentuh, daya ketuk, daya sapa di hati pembaca; bukan didapat dari wudhu dan shalat yang dilakukan semata karena niat menoreh kata. Ia ada ketika kegiatan menghubungkan diri dengan Dzat Mahaperkasa, semuanya, bukan rekayasa, tapi telah menyatu dengan jiwa. Lalu menulis itu sekadar satu dari berbagai pancaran cahaya yang kemilau dari jiwanya; menggenapi semua keshalihan yang mengemuka.


Daya Isi

Setelah daya ketuk, penulis sejati harus ber-Daya Isi. Mengetuk tanpa mengisi membuat pembaca ternganga, tapi lalu bingung harus berbuat apa. Daya Ketuk memang membuat pembaca terinsyaf dan tergugah. Tapi jika isi yang kemudian dilahap ternyata cacat, timpang, dan rusak; jadilah masalah baru.

                Daya Isi adalah soal ilmu. Mahfuzhat Arab itu sungguh benar; “Fakidusy syai’, laa yu’thi: yang tak punya, takkan dapat memberi”. Menjadi penulis adalah menempuh jalan ilmu dan berbagi; membaca ayat-ayat tertulis; menjala hikmah-hikmah tertebar. Semuanya sebagai mujahadah tanpa henti.

                Dia menyimak apa yang difirmankan Tuhannya, mencermati apa yang memancar dari hidup Rasul-Nya; dan membawakan makna ke alam tinggalnya. Dia pahami ilmu tanpa mendikotomi; tapi tetap tahu di mana menempatkan yang mutlak terhadap yang nisbi; terus mencoba mencerahkan akal dan hati.
  
              Penulis sejati memiliki rujukan yang kuat, tetapi bukan tukang kutip. Segala yang disajikan telah melalui proses penghayatan dan internalisasi. Penulis sejati kokoh berdalil bukan hanya atas yang tampak pada teks; tapi disertai kepahaman latar belakang dan kedalaman tafsir. Dengan internalisasi itu; semua data dan telaah yang disajikan jadi matang dan lezat dikunyah. Pembacanya mengasup ramuan bergizi dengan amat berselera hati.

Sebab konon ‘tak ada yang baru di bawah matahari’; tugas penulis mungkin memang hanya meramu hal-hal lama agar segar kembali. Atau mengungkap hal-hal yang sudah ada, tapi belum luas dikenali. Diperlukan ketekunan untuk melihat satu masalah dari banyak sisi. Atau mengingatkan kembali hal-hal yang sesungguhnya telah luas difahami; agar jiwa-jiwa yang baik tergerak kuat untuk bertindak. Maka penulis sejati lihai menghubungkan titik temu aneka ilmu dengan pemaknaan segar dan baru, dengan tetap berpegang pada kaidah shahih dan tertentu.

                Dia hubungkan makna yang kaya; fikih dan tarikh; dalil dan kisah; teks dan konteks; fakta dan sastra; penelitian ilmiah dan kecenderungan insaniyah. Dia menularkan jalan ilmu untuk tak henti menggal. Tulisannya tak membuat orang mengangguk berdiam diri; tapi kian haus dan terus mencari. Dia membawakan pemaknaan penuh warna; beda bagi masing-masing pembaca; beda pula bagi pembaca yang sama di saat lainnya. Tulisannya membaru dan mengilhami selalu. Maka karyanya melahirkan karya; syarah dan penjelasan, catatan tepi dan catatan kaki, juga sisi lain pembahasan, dan bahkan bantahan.

Daya Memahamkan

Seorang penulis menggugah memulai daya memahamkan-nya dengan satu pengakuan jujur; dia bukanlah yang terpandai di antara manusia. Sang penulis sejati juga memahami; banyak di antara pembacanya yang jauh lebih berilmu dan berwawasan dibandingkan dirinya sendiri. Maka dalam hati, dia mencegah munculnya rasa lebih dibanding pembaca: “Aku tahu. Kamu tidak tahu. Maka bacalah agar kuberitahu.”

                Setiap tulisan dan buku yang disusun dengan sikap jiwa penulis “Aku tahu! Kamu tak tahu!” pasti berat dan membuat penat. Kadang senioritas atau lebih tingginya jenjang pendidikan tak sengaja melahirkan sikap jiwa itu. Sang penulis merasa lebih tahu. Sungguh, sikap jiwa seorang penulis harus diubah; dari “Aku tahu! Kamu tak tahu!” menjadi suatu rasa yang lebih adil, haus ilmu, dan rendah hati.
      
          Penulis sejati mengukirkan semboyan, “Hanya sedikit ini yang kutahu, kutulis ia untukmu, maka berbagilah denganku apa yang kautahu.” Penulis sejati sama sekali tak berniat mengajari. Dia cuma berbagi; menunjukkan kebodohannya pada pembaca agar mereka mengoreksi. Penulis sejati berhasrat untuk diluruskan kebengkokannya, ditunjukkan kekeliruannya, diluaskan pemahamannya, dilengkapi kekurangannya. Penulis sejati menjadikan dirinya seakan murid yang mengajukan hasil karangan pada gurunya. Maka berribu pembaca menjadi pengajar baginya, berjuta ilmu akan menyapanya.
                
 Inilah yang menjadikan tulisan akrab dan lezat disantap; pertama-tama sebab penulisnya adil menilai pembaca, haus ilmu, dan rendah hati.
Pada sikap sebaliknya, kita akan menemukan tulisan yang beribu kali membuat berkerut dahi, tapi pembacanya tak kunjung memahami. Lebih parahnya; keinginan untuk tampil lebih pandai dan tampak berilmu di mata pembaca sering membuat akal macet dan jemari terhenti. Jika lolos tertulis; ianya menjadi kegenitan intelektual; inginnya dianggap cerdas dengan banyak istilah yang justru membuat mual.




Kesantunan Allah menjadi pelajaran bagi kita. Rasul-Nya menegaskan keindahan surga itu belum pernah ada mata yang melihatnya, telinga yang mendengarnya, dan angan yang membayangkannya. Tetapi dalam firman-Nya, Dia menjelaskan dengan paparan yang mudah dihayati. Dia gambarkan surga dalam paparan yang mudah dicerna akal manusia; taman hijau, sungai mengalir, naungan rindang, bebuahan dekat, duduk bertelekan di atas dipan, dipakaikan sutra halus dan tebal, pelayan hilir mudik siap sedia, bidadari cantik bermata jeli.


Inilah Allah yang Mahatahu, Dia tak bersombong dengan ilmu. Bahkan Dia kenalkan diri-Nya bukan sebagai “Ilah” di awal-awal, melainkan sebagai “Rabb” yang lebih dikenal.
                
 Penulis sejati menghayati pesan Nabi; bicaralah pada kaum sesuai kadar pemahamannya, bicaralah dengan bahasa yang dimengerti oleh mereka. Penulis sejati memahami; dalam keterbatasan ilmu yang dimiliki, tugasnya menyederhanakan yang pelik, bukan merumitkan yang bersahaja. Itu pun tidak dalam rangka mengajari; tapi berbagi. Dia haus tuk menjala umpan balik dari pembaca; kritik, koreksi, dan tambahan data.
               
 Penulis sejati juga tahu; yang paling berhak mengamalkan isi anggitannya adalah dirinya sendiri. Daya memahamkan hakikatnya berhulu di sini. Sebab seringkali kegagalan penulis memahamkan pembaca disebabkan dia pun tak memahami apa yang ditulisnya itu dalam amal nyata. Begitulah daya memahamkan; dimulai dengan sikap jiwa yang adil, haus ilmu, dan rendah hati terhadap pembaca kita, lalu dikuatkan dengan tekad bulat untuk menjadi orang pertama yang mengamalkan tulisan, dan berbagi pada pembaca dengan hangat, akrab, serta penuh cinta.
               
Kali ini, tercukup sekian bincang kita tentang menulis. Maafkan tak melangkah ke hal-hal yang bersifat teknis, sebab banyak yang lebih ahli tentangnya. Semoga kita lalu tahu; menulis bukanlah profesi tunggal dan mandiri. Ia lekat pada kesejatian hidup seorang mukmin untuk menebar cahaya pada dunia. Maka menulis hanya salah satu konsekuensi sekaligus sarana bagi si mukmin untuk menguatkan iman, amal shalih, dan saling menasehati. Jika ada amal lain yang lebih utama dan lebih kuat dampaknya dalam ketiga perkara itu; maka kita tak boleh ragu; tinggalkan menulis untuk menujunya.

Tulisan ini, merupakan tulisan Ustd Salim A Fillah dengan judul Menulis, dari Makna Hingga Daya yang ada di sini  . Mudah mudahan menjadi bahan renungan khususnya bagi pribadi dan umumnya untuk kita semua.


kata-kata kita menjelma boneka lilin
saat kita mati untuk memperjuangkannya
kala itulah ruh kan merambahnya
dan kalimat-kalimat itupun hidup selamanya
-Sayyid Quthb-
 Menulis adalah mengikat jejak pemahaman. Akal kita sebagai karunia Allah ‘Azza wa Jalla, begitu agung dayanya menampung sedemikian banyak data. Tetapi kita kadang kesulitan memanggil apa yang telah tersimpan lama. Ilmu masa lalu itu berkeliaran dan bersembunyi di jalur rumit otak. Maka menulis adalah menyusun kata kunci untuk membuka khazanah akal; sekata menunjukkan sealinea, satu kalimat untuk satu bab, sebuah paragraf mewakili berrangkai kitab. Demikianlah kita fahami kalimat indah Imam Asy-Syafi’i; ilmu adalah binatang buruan, dan pena yang menuliskan adalah tali pengikatnya.

Menulis juga jalan merekam jejak pemahaman. Kita lalui usia dengan memohon ditambah ilmu dan dikaruniai pengertian; maka adakah kemajuan? Itu boleh kita tahu jika kita rekam sang ilmu dalam lembaran; kita bisa melihat perkembangannya hari demi hari, bulan demi bulan. Jika tulisan kita tiga bulan lalu telah bisa kita tertawai; maka terbaca adanya kemajuan. Jika anggitan setahun lewat masih terkagumi juga; itu menyedihkan.


Lebih lanjut; menulis adalah mengujikan pemahaman kepada khalayak; yang dari berbagai sisi bisa memberi penyaksamaan dan penilaian. Kita memang membaca buku, menyimak kajian, hadir dalam seminar dan sarasehan. Tetapi kebenaran pemahaman kita belum tentu terjaminkan. Maka menulislah; agar jutaan pembaca menjadi guru yang meluruskan kebengkokan, mengingatkan keterluputan, dan membetulkan kekeliruan.


Penulis hakikatnya menyapa dengan ilmu; maka ia berbalas tambahan pengertian; makin bening, makin luas, kian dalam, dan kian tajam. Agungnya lagi; sang penulis merentangkan ilmunya melampaui batas-batas waktu dan ruang. Ia tak dipupus masa dan usia, ia tak terhalang ruang dan jarak. Adagium Latin itu tak terlalu salah; Verba Volant, Scripta Manent. Yang terucap kan lenyap tak berjejak, yang tertulis kan adi mengabadi. Tetapi bagi kita, makna keabadian karya bukan hanya soal masyhurnya nama; ia tentang pewarisan nilai. Apakah kemaslahatan yang kita lungsurkan, atau justru kerusakan.

 Andaikan benar bahwa II Principe yang dipersembahkan Niccolo Machiavelli pada Cesare de Borgia itu jadi kawan tidur para tiran seperti terisyu tentang Napoleon, Hitler, dan Stalin; akankah dia bertanggung jawab atas berbagai kezaliman yang terilham bukunya? Sebab bukan hanya pahala yang bersifat ‘jariyah’; melainkan ada juga dosa yang terus mengalir. Menjadi penulis adalah pertaruhan. Mungkin tak separah II Principe; tapi tiap kata yang mengalir dari jemari ini juga berpeluang menjadi keburukan berrantai-rantai.

Dan bahagialah bakda pengingat; huruf bisa menjelma dzarrah kebajikan; percikan ilhamnya tak putus mencahaya sampai kiamat tiba. Lalu terkejutlah para penulis kebenaran, kelak ketika catatan amal diserahkan, “Ya Rabbi, bagaimana bisa pahalaku sebanyak ini?” Moga kelak dijawab-Nya, “Ya, amalmu sedikit, dosamu berbukit; tapi inilah pahala tak putus dari ilham kebajikan yang kautebarkan.” Tulisan shahih dan mushlih; jadi jaring yang melintas segala batas; menjerat pahala orang terilham, tanpa mengurangi ganjaran si bersangkutan.

Menulis juga bagian dari tugas iman; sebab makhluk pertama ialah pena, ilmu pertama ialah bahasa, dan ayat pertama berbunyi “Baca!” Tersebut dalam hadis riwayat Imam Ahmad dan ditegaskan Ibnu Taimiyah dalam Fatawa, “Makhluk pertama yang dicipta-Nya ialah pena, lalu Dia berfirman, “Tulislah!” Tanya Pena, “Apa yang kutulis, wahai Rabbi?” Maka Allah titahkan, “Tulislah segala ketentuan yang Kutakdirkan bagi semua makhluk-Ku sejak awal zaman hingga akhir waktu.”
Demikianpun ilmu yang diajarkan pada Adam hingga membuat dia unggul atas malaikat yang diperintahkan bersujud padanya adalah bahasa; adalah kosa kata; adalah nama-nama (QS Al-Baqarah [2} ayat 31).



Dan “Baca!”; adalah wahyu pertama. Bangsa Arab dahulu mengukur kecerdasan dari kuatnya hafalan hingga memandang rendah tulis-baca. Sebab, menulis—kata mereka—hanyalah alat bantu bagi yang hafalannya di bawah rata-rata. Namun begitu ayat itu nuzul di Bukit Cahaya, hanya dalam 2 dasawarsa, para penggembala kambing dan penunggang unta itu meloncat ke ufuk, menjadi guru bagi semesta.

Muhammad, Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, hadir bukan dengan mukjizat yang membelalakkan. Dia datang dengan kata-kata yang menukik-menghunjam, disebut ‘Al Quran’, yang bermakna 'bacaan'. Maka Islam menjelma diri menjadi peradaban ilmiah, dengan pena sebagai pilarnya; hingga berbagai wawasan tertebar mengantar kemaslahatan ke segenap penjuru bumi.

Semoga Allah berkahi tiap kata yang mengalir dari ujung jemari kita. Sungguh, sesusun kalimat dapat menggugah jiwa manusia dan mengubah arah laju dunia. Maka bagaimana sebuah tulisan bisa mengilhami; tak tersia, tak jadi tragika, dan tak menjatuhkan penulisnya dalam gelimang kemalangan? Saya mencermati setidaknya ada tiga kekuatan yang harus dimiliki seorang penulis menggugah; Daya Ketuk, Daya Isi, dan Daya Memahamkan.

Daya Ketuk

Daya ketuk ini yang paling berat dibahas. Yang mericau ini pun masih jauh darinya dan tertatih belajar merengkuhnya. Ia masalah hati; terkait niat dan keikhlasan. Tapi pertama-tama, marilah kita jawab ketiga pertanyaan ini: 1) Mengapa saya harus menulis? 2) Mengapa hal ini harus ditulis? 3) Mengapa harus saya yang menuliskannya?

Seberapa kuat makna jawaban kita atas ke-3 soalan ini, menentukan seberapa besar daya tahan kita melewati berrupa-rupa tantangan menulis. Alasan kuat tentang diri, tema, dan akibat dunia-akhirat yang akan kita tanggung jika ia tak ditulis; akan menggairahkan, menguatkan, dan menekunkan. Keterlibatan hati dan jiwa dengan niat menyala itulah yang mengantarkan tulisan ke hati pembaca; mengetuk, menyentuh, menggerakkan.
 
Tetapi, tak cukup hanya hati bergairah dan semangat menyala saja jika yang kita kehendaki adalah keinsyafan suci di nurani pembaca. Menulis memerlukan kata yang agung dan berat itu; IKHLAS. Kemurnian. Harap dan takut yang hanya pada-Nya. Cinta terhadap kebenaran di atas segala-galanya.
Allah menggambarkan keikhlasan sejati bagaikan susu; terancam kotoran dan darah, tapi terupayakan. Ia murni, bergizi, mengandung tenaga inti. Ia mudah diasup, nyaman ditelan, lancar dicerna oleh peminum-peminumnya, menjadi daya untuk bertaat dan bertakwa (Q.s. an-Nahl [16] ayat 66). Maka menjadi penulis yang ikhlas sungguh payah dan tak mudah, ada goda kotoran dan darah, ada rayuan kekayaan dan kemasyhuran, ada jebakan riya’ dan sum’ah.

               Jika ia berhasil dilampaui; jadilah tulisan, ucapan dan perbuatan sang penulis bergizi, memberi arti, mudah dicerna jadi amal suci. Sebaliknya; penulis tak ikhlas itu; tulisannya bagai susu dicampur kotoran dan darah, racun dan limbah; lalu disajikan pada pembaca. Ya Rabbi; ampuni bengkoknya niat dalam hati, ampuni bocornya syahwat itu dan ini, di tiap kali kami gerakkan jemari menulis dan berbagi.

               Sebab susu tak murni, tulisan tak ikhlas, memungkinkan 2 hal: a) pembaca muak, mual, dan muntah bahkan saat baru mengamati awalnya. Atau lebih parah: b) pembaca begitu rakus melahap tulisan kita; tapi yang tumbuh di tubuhnya justru penyakit-penyakit berbahaya. Menulis berkeikhlasan, menabur benih kemurnian; agar Allah tumbuhkan di hati pembaca pohon ketakwaan. Itulah daya ketuk sejati.

Daya sentuh, daya ketuk, daya sapa di hati pembaca; bukan didapat dari wudhu dan shalat yang dilakukan semata karena niat menoreh kata. Ia ada ketika kegiatan menghubungkan diri dengan Dzat Mahaperkasa, semuanya, bukan rekayasa, tapi telah menyatu dengan jiwa. Lalu menulis itu sekadar satu dari berbagai pancaran cahaya yang kemilau dari jiwanya; menggenapi semua keshalihan yang mengemuka.


Daya Isi

Setelah daya ketuk, penulis sejati harus ber-Daya Isi. Mengetuk tanpa mengisi membuat pembaca ternganga, tapi lalu bingung harus berbuat apa. Daya Ketuk memang membuat pembaca terinsyaf dan tergugah. Tapi jika isi yang kemudian dilahap ternyata cacat, timpang, dan rusak; jadilah masalah baru.

                Daya Isi adalah soal ilmu. Mahfuzhat Arab itu sungguh benar; “Fakidusy syai’, laa yu’thi: yang tak punya, takkan dapat memberi”. Menjadi penulis adalah menempuh jalan ilmu dan berbagi; membaca ayat-ayat tertulis; menjala hikmah-hikmah tertebar. Semuanya sebagai mujahadah tanpa henti.

                Dia menyimak apa yang difirmankan Tuhannya, mencermati apa yang memancar dari hidup Rasul-Nya; dan membawakan makna ke alam tinggalnya. Dia pahami ilmu tanpa mendikotomi; tapi tetap tahu di mana menempatkan yang mutlak terhadap yang nisbi; terus mencoba mencerahkan akal dan hati.
  
              Penulis sejati memiliki rujukan yang kuat, tetapi bukan tukang kutip. Segala yang disajikan telah melalui proses penghayatan dan internalisasi. Penulis sejati kokoh berdalil bukan hanya atas yang tampak pada teks; tapi disertai kepahaman latar belakang dan kedalaman tafsir. Dengan internalisasi itu; semua data dan telaah yang disajikan jadi matang dan lezat dikunyah. Pembacanya mengasup ramuan bergizi dengan amat berselera hati.

Sebab konon ‘tak ada yang baru di bawah matahari’; tugas penulis mungkin memang hanya meramu hal-hal lama agar segar kembali. Atau mengungkap hal-hal yang sudah ada, tapi belum luas dikenali. Diperlukan ketekunan untuk melihat satu masalah dari banyak sisi. Atau mengingatkan kembali hal-hal yang sesungguhnya telah luas difahami; agar jiwa-jiwa yang baik tergerak kuat untuk bertindak. Maka penulis sejati lihai menghubungkan titik temu aneka ilmu dengan pemaknaan segar dan baru, dengan tetap berpegang pada kaidah shahih dan tertentu.

                Dia hubungkan makna yang kaya; fikih dan tarikh; dalil dan kisah; teks dan konteks; fakta dan sastra; penelitian ilmiah dan kecenderungan insaniyah. Dia menularkan jalan ilmu untuk tak henti menggal. Tulisannya tak membuat orang mengangguk berdiam diri; tapi kian haus dan terus mencari. Dia membawakan pemaknaan penuh warna; beda bagi masing-masing pembaca; beda pula bagi pembaca yang sama di saat lainnya. Tulisannya membaru dan mengilhami selalu. Maka karyanya melahirkan karya; syarah dan penjelasan, catatan tepi dan catatan kaki, juga sisi lain pembahasan, dan bahkan bantahan.

Daya Memahamkan

Seorang penulis menggugah memulai daya memahamkan-nya dengan satu pengakuan jujur; dia bukanlah yang terpandai di antara manusia. Sang penulis sejati juga memahami; banyak di antara pembacanya yang jauh lebih berilmu dan berwawasan dibandingkan dirinya sendiri. Maka dalam hati, dia mencegah munculnya rasa lebih dibanding pembaca: “Aku tahu. Kamu tidak tahu. Maka bacalah agar kuberitahu.”

                Setiap tulisan dan buku yang disusun dengan sikap jiwa penulis “Aku tahu! Kamu tak tahu!” pasti berat dan membuat penat. Kadang senioritas atau lebih tingginya jenjang pendidikan tak sengaja melahirkan sikap jiwa itu. Sang penulis merasa lebih tahu. Sungguh, sikap jiwa seorang penulis harus diubah; dari “Aku tahu! Kamu tak tahu!” menjadi suatu rasa yang lebih adil, haus ilmu, dan rendah hati.
      
          Penulis sejati mengukirkan semboyan, “Hanya sedikit ini yang kutahu, kutulis ia untukmu, maka berbagilah denganku apa yang kautahu.” Penulis sejati sama sekali tak berniat mengajari. Dia cuma berbagi; menunjukkan kebodohannya pada pembaca agar mereka mengoreksi. Penulis sejati berhasrat untuk diluruskan kebengkokannya, ditunjukkan kekeliruannya, diluaskan pemahamannya, dilengkapi kekurangannya. Penulis sejati menjadikan dirinya seakan murid yang mengajukan hasil karangan pada gurunya. Maka berribu pembaca menjadi pengajar baginya, berjuta ilmu akan menyapanya.
                
 Inilah yang menjadikan tulisan akrab dan lezat disantap; pertama-tama sebab penulisnya adil menilai pembaca, haus ilmu, dan rendah hati.
Pada sikap sebaliknya, kita akan menemukan tulisan yang beribu kali membuat berkerut dahi, tapi pembacanya tak kunjung memahami. Lebih parahnya; keinginan untuk tampil lebih pandai dan tampak berilmu di mata pembaca sering membuat akal macet dan jemari terhenti. Jika lolos tertulis; ianya menjadi kegenitan intelektual; inginnya dianggap cerdas dengan banyak istilah yang justru membuat mual.




Kesantunan Allah menjadi pelajaran bagi kita. Rasul-Nya menegaskan keindahan surga itu belum pernah ada mata yang melihatnya, telinga yang mendengarnya, dan angan yang membayangkannya. Tetapi dalam firman-Nya, Dia menjelaskan dengan paparan yang mudah dihayati. Dia gambarkan surga dalam paparan yang mudah dicerna akal manusia; taman hijau, sungai mengalir, naungan rindang, bebuahan dekat, duduk bertelekan di atas dipan, dipakaikan sutra halus dan tebal, pelayan hilir mudik siap sedia, bidadari cantik bermata jeli.


Inilah Allah yang Mahatahu, Dia tak bersombong dengan ilmu. Bahkan Dia kenalkan diri-Nya bukan sebagai “Ilah” di awal-awal, melainkan sebagai “Rabb” yang lebih dikenal.
                
 Penulis sejati menghayati pesan Nabi; bicaralah pada kaum sesuai kadar pemahamannya, bicaralah dengan bahasa yang dimengerti oleh mereka. Penulis sejati memahami; dalam keterbatasan ilmu yang dimiliki, tugasnya menyederhanakan yang pelik, bukan merumitkan yang bersahaja. Itu pun tidak dalam rangka mengajari; tapi berbagi. Dia haus tuk menjala umpan balik dari pembaca; kritik, koreksi, dan tambahan data.
               
 Penulis sejati juga tahu; yang paling berhak mengamalkan isi anggitannya adalah dirinya sendiri. Daya memahamkan hakikatnya berhulu di sini. Sebab seringkali kegagalan penulis memahamkan pembaca disebabkan dia pun tak memahami apa yang ditulisnya itu dalam amal nyata. Begitulah daya memahamkan; dimulai dengan sikap jiwa yang adil, haus ilmu, dan rendah hati terhadap pembaca kita, lalu dikuatkan dengan tekad bulat untuk menjadi orang pertama yang mengamalkan tulisan, dan berbagi pada pembaca dengan hangat, akrab, serta penuh cinta.
               
Kali ini, tercukup sekian bincang kita tentang menulis. Maafkan tak melangkah ke hal-hal yang bersifat teknis, sebab banyak yang lebih ahli tentangnya. Semoga kita lalu tahu; menulis bukanlah profesi tunggal dan mandiri. Ia lekat pada kesejatian hidup seorang mukmin untuk menebar cahaya pada dunia. Maka menulis hanya salah satu konsekuensi sekaligus sarana bagi si mukmin untuk menguatkan iman, amal shalih, dan saling menasehati. Jika ada amal lain yang lebih utama dan lebih kuat dampaknya dalam ketiga perkara itu; maka kita tak boleh ragu; tinggalkan menulis untuk menujunya.

Monday, 5 November 2012

Dalam kehidupan ini ada suatu sistem keseimbangan yang menjaga kestabilan. Ada Air dan api, ada Gunung dan laut, ada dataran rendah dan dataran tinggi, ada Bulan dan matahari ada siang dan malam. Kemudian dalam hal apapun, biasanya selalu ada pasangannya. Ada senang ada sedih, Ada Suka ada Duka, ada Laki laki dan Perempuan.

Ya, semua itu telah dipasangkan dan silih bergantikan. Terutama untuk hari ini. Mungkin sebagian orang ada sangat menyukai hari ini karena ujiannya lancar, ada pula yang merasa tersedihkan karena ujiannya yang kurang lancar, entah itu karena ngga baca kisi kisi atau karena soalnya yang bejibun banyak.

Untuk yang menyukai hari ini karena ujiannya lancar, saya ucapkan selamat, dan silahkan untuk banyak bersyukur. Bersyukur atas nikmat yang Allah berikan kepada Anda semua. Kemudian untuk yang kurang menyenangi hari ini atau tersedihkan, jangan terlalu khawatir dan gerogi,  tapi segeralan introspeksi.

Mungkin ketika kita diuji dengan hal hal yang tidak enak, itu dikarenakan dosa dosa yang telah kita perbuat. Jangan terlalu menyalahkan keadaan, tetapi segeralah untuk mengintrospeksi diri, ingat dosa akan hari ini dan yang lalu, dan segeralah beristighfar dan taubat.

Yah, mungkin ini saja untuk hari ini yang cukup kurang menyenangkan, ketika beberapa orang dengan mudah mengerjakan soal, akan tetapi diri ini kesulitan dalam melaksankannya, mungkin karena kurangnya strategi dan banyaknya dosa yang telah dilalui.

Ada sebuah Syair dari Imam Syafi'i yang membuat untuk Move on kembali :

Biarkan hari berlalu dengan segala lakunya,
Lapangkan dada atas segala Takdir-Nya

Janganlah gundah dengan segala derita
Karena cobaan dunia hanya sementara

Tangguhkan jiwa atas segala nestapa
Hiasi diri dengan maaf dan sikap setia

Semua aib akan dapat tertutup dengan kelapangan dada
Layaknya kedermawanan menutupi cela manusia

Tak ada kesedihan yang abadi, begitupun suka ria
Dan tak ada pula cobaan yang kekal, begitupun riang gembira

Di depan musuh, janganlah engkau bersikap lemah
Karena hinaan dari seteru adalah bencana

Dan jangan pernah berharap dari kikir durjana
Karena api takkan menyediakan air untuk si haus dahaga

Rizkimu takkan berkurang karena ditunda
Dan takkan bertambah karena lelah mencarinya

Bila engkau punya hati qona'ah bersahaja
Tak ada bedanya engkau dengan pemilik dunia

Bila kematian sudah datang waktunya
Tak ada lagi langit dan bumi yang bisa membela

Ingatlah, dunia Allah sangat luas tak terhingga
Tapi bila takdir tiba, angkasa pun sempit terasa

Maka biarkanlah hari berlalu setiap masanya
Karena kematian tak ada obat penawarnya

(Imam Syafi'i)

Taqwa itu di hati. Maka ia terbukti kala sendiri & sepi. Saat godaan menari-nari & diri merasa tiada yang mengawasi. Ya Rabbi, jagalah kami. (Ustd Salim A Fillah)

Kupanjatkan Doa padaMu ya Rabbi, dan mohon Ampun atas Dosa yang telah terlalui apalagi dikala menyendiri. Ya Rabbi jagalah kami

Dalam kehidupan ini ada suatu sistem keseimbangan yang menjaga kestabilan. Ada Air dan api, ada Gunung dan laut, ada dataran rendah dan dataran tinggi, ada Bulan dan matahari ada siang dan malam. Kemudian dalam hal apapun, biasanya selalu ada pasangannya. Ada senang ada sedih, Ada Suka ada Duka, ada Laki laki dan Perempuan.

Ya, semua itu telah dipasangkan dan silih bergantikan. Terutama untuk hari ini. Mungkin sebagian orang ada sangat menyukai hari ini karena ujiannya lancar, ada pula yang merasa tersedihkan karena ujiannya yang kurang lancar, entah itu karena ngga baca kisi kisi atau karena soalnya yang bejibun banyak.

Untuk yang menyukai hari ini karena ujiannya lancar, saya ucapkan selamat, dan silahkan untuk banyak bersyukur. Bersyukur atas nikmat yang Allah berikan kepada Anda semua. Kemudian untuk yang kurang menyenangi hari ini atau tersedihkan, jangan terlalu khawatir dan gerogi,  tapi segeralan introspeksi.

Mungkin ketika kita diuji dengan hal hal yang tidak enak, itu dikarenakan dosa dosa yang telah kita perbuat. Jangan terlalu menyalahkan keadaan, tetapi segeralah untuk mengintrospeksi diri, ingat dosa akan hari ini dan yang lalu, dan segeralah beristighfar dan taubat.

Yah, mungkin ini saja untuk hari ini yang cukup kurang menyenangkan, ketika beberapa orang dengan mudah mengerjakan soal, akan tetapi diri ini kesulitan dalam melaksankannya, mungkin karena kurangnya strategi dan banyaknya dosa yang telah dilalui.

Ada sebuah Syair dari Imam Syafi'i yang membuat untuk Move on kembali :

Biarkan hari berlalu dengan segala lakunya,
Lapangkan dada atas segala Takdir-Nya

Janganlah gundah dengan segala derita
Karena cobaan dunia hanya sementara

Tangguhkan jiwa atas segala nestapa
Hiasi diri dengan maaf dan sikap setia

Semua aib akan dapat tertutup dengan kelapangan dada
Layaknya kedermawanan menutupi cela manusia

Tak ada kesedihan yang abadi, begitupun suka ria
Dan tak ada pula cobaan yang kekal, begitupun riang gembira

Di depan musuh, janganlah engkau bersikap lemah
Karena hinaan dari seteru adalah bencana

Dan jangan pernah berharap dari kikir durjana
Karena api takkan menyediakan air untuk si haus dahaga

Rizkimu takkan berkurang karena ditunda
Dan takkan bertambah karena lelah mencarinya

Bila engkau punya hati qona'ah bersahaja
Tak ada bedanya engkau dengan pemilik dunia

Bila kematian sudah datang waktunya
Tak ada lagi langit dan bumi yang bisa membela

Ingatlah, dunia Allah sangat luas tak terhingga
Tapi bila takdir tiba, angkasa pun sempit terasa

Maka biarkanlah hari berlalu setiap masanya
Karena kematian tak ada obat penawarnya

(Imam Syafi'i)

Taqwa itu di hati. Maka ia terbukti kala sendiri & sepi. Saat godaan menari-nari & diri merasa tiada yang mengawasi. Ya Rabbi, jagalah kami. (Ustd Salim A Fillah)

Kupanjatkan Doa padaMu ya Rabbi, dan mohon Ampun atas Dosa yang telah terlalui apalagi dikala menyendiri. Ya Rabbi jagalah kami

Friday, 2 November 2012

Hari ini, hari dimana penghulunya para Hari, hari berkumpulnya orang orang dalam satu tempat dan hari yang diberkahi. Mungkin hari ini bisa jadi hari yang begitu menggembirakan bagi sebagian orang, bisa saja hari yang biasa biasa saja, atau bisa saja hari yang menyedihkan.

Masih dalam masa masa UTS, Lab PPh dengan Norma Penghitungan Penghasilan Nettonya yang menyebabkan sebagian besar anak pajak (angkatan 2010) mungkin menggalami keNettoan dalam tenaganya, dalam pikirannya, dalam jiwanya, aaargh.

Tapi itu sudah terlewati, sampai tiba waktunya Isya menghampiri, dan setelah itu terdengan kabar, kabar duka, kabar yang membuat keNettoan hilang, yang menghampiri keNettoan lain dalam hati. Ketika seorang kawan hendak pergi untuk selamanya, menemui Rabbul Izzati. Ada rasa haru yang menderu karena mungkin ini yang terbaik untuknya, ada rasa sesal karena banyaknya membuat dia bebal kepada diri ini, ada rasa Sedih karena kurangnya kasih kepadanya.

"Apabila seorang manusia meninggal maka putuslah amalnya, kecuali tiga hal: Sedekah jariyah, anak yang shalih yang mendo'akannya atau ilmu yang bermanfaat sesudahnya" (HR Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Nasa'i dan Ahmad).


Seseorang yang terdepan, yang memegang foto, itulah sosok yang periang, easy Going, Supel, Asyik, berprinsip, suka memberi, berjiwa sosial tinggi, berpotensi, berenergi, yang penting itu suka bagi bagi choki choki,,, :D Mudah mudahan kebaikannya menjadikan Sedekah Jariyyah yang tidak terputus putus,,,





Seseorang yang mengenakan baju biru itu (Biru muda) orang yang peduli pada sesama, mementingkan kepentingan umum dari pada kepentingan pribadi, mementingkan hal hal yang kadang kadang diacuhkan oleh sebagian orang. Bagaimana tidak dia itu 1 dari kira kira 5 frontier guru asuh untuk anak jalanan di bekasi :). Anak jalanan Coy, Bekasi lagi, yang notabene bukan kampung halamannya. Semoga ini menjadi Ilmu yang bermanfaat yang amalannya tidak terputus putus.


Nah, ini dia, tadinya mau dimasukin tentang  anak yang shalih yang mendo'akanny, tetapi berhubung masih single, kita rubah ke pertemanannya yang unik dengan Fudhol.
ini curhatan fudhol tentang Fajar :

  • Terlalu cepat engkau pergi...meninggalkan tawa yg tak sempat kita akhiri..sobat,bibir ini rasanya belum rapat akan canda mu.. 
  • Tanganmu masih terasa hangat menyentuh bahu ini,kehangatan yg tak ingin kuakhiri,terimakasih sobat atas hal tak tergantikan itu  
  • Kalo cape gw tinggal bilang "jar pijetin gw yaa :D" dan ga pake nunggu lama dia langsung mijetin gw,dan pijetannya itu loh "wow" banget 
  • Sampe gw sering bilang "coba lu cewe jar,gw nikahin lu biar bisa mijet gw sering2" :'  
  • "Sinau le.. eling keluarga, tanggung jawab, amanah."

Selamat Jalan kawan satu doa terakhir yang kupanjatkan untukmu :

` Ya Allah ampunilah dosanya, sayangilah dia, maafkanlah dia, muliakanlah tempat tinggalnya, luaskanlah kuburannya, mandikanlah dia dengan air es dan air embun, bersihkanlah dari segala kesalahan sebagaimana kain putih bersih dari kotoran, gantikanlah untuknya tempat tinggal yang lebih baik dari tempat tinggalnya, keluarga yang lebih baik dari keluarganya, pasangan yang lebih baik dari pasangannya dan peliharalah dia dari siksa kubur dan siksa neraka." 

Hari ini, hari dimana penghulunya para Hari, hari berkumpulnya orang orang dalam satu tempat dan hari yang diberkahi. Mungkin hari ini bisa jadi hari yang begitu menggembirakan bagi sebagian orang, bisa saja hari yang biasa biasa saja, atau bisa saja hari yang menyedihkan.

Masih dalam masa masa UTS, Lab PPh dengan Norma Penghitungan Penghasilan Nettonya yang menyebabkan sebagian besar anak pajak (angkatan 2010) mungkin menggalami keNettoan dalam tenaganya, dalam pikirannya, dalam jiwanya, aaargh.

Tapi itu sudah terlewati, sampai tiba waktunya Isya menghampiri, dan setelah itu terdengan kabar, kabar duka, kabar yang membuat keNettoan hilang, yang menghampiri keNettoan lain dalam hati. Ketika seorang kawan hendak pergi untuk selamanya, menemui Rabbul Izzati. Ada rasa haru yang menderu karena mungkin ini yang terbaik untuknya, ada rasa sesal karena banyaknya membuat dia bebal kepada diri ini, ada rasa Sedih karena kurangnya kasih kepadanya.

"Apabila seorang manusia meninggal maka putuslah amalnya, kecuali tiga hal: Sedekah jariyah, anak yang shalih yang mendo'akannya atau ilmu yang bermanfaat sesudahnya" (HR Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Nasa'i dan Ahmad).


Seseorang yang terdepan, yang memegang foto, itulah sosok yang periang, easy Going, Supel, Asyik, berprinsip, suka memberi, berjiwa sosial tinggi, berpotensi, berenergi, yang penting itu suka bagi bagi choki choki,,, :D Mudah mudahan kebaikannya menjadikan Sedekah Jariyyah yang tidak terputus putus,,,





Seseorang yang mengenakan baju biru itu (Biru muda) orang yang peduli pada sesama, mementingkan kepentingan umum dari pada kepentingan pribadi, mementingkan hal hal yang kadang kadang diacuhkan oleh sebagian orang. Bagaimana tidak dia itu 1 dari kira kira 5 frontier guru asuh untuk anak jalanan di bekasi :). Anak jalanan Coy, Bekasi lagi, yang notabene bukan kampung halamannya. Semoga ini menjadi Ilmu yang bermanfaat yang amalannya tidak terputus putus.


Nah, ini dia, tadinya mau dimasukin tentang  anak yang shalih yang mendo'akanny, tetapi berhubung masih single, kita rubah ke pertemanannya yang unik dengan Fudhol.
ini curhatan fudhol tentang Fajar :

  • Terlalu cepat engkau pergi...meninggalkan tawa yg tak sempat kita akhiri..sobat,bibir ini rasanya belum rapat akan canda mu.. 
  • Tanganmu masih terasa hangat menyentuh bahu ini,kehangatan yg tak ingin kuakhiri,terimakasih sobat atas hal tak tergantikan itu  
  • Kalo cape gw tinggal bilang "jar pijetin gw yaa :D" dan ga pake nunggu lama dia langsung mijetin gw,dan pijetannya itu loh "wow" banget 
  • Sampe gw sering bilang "coba lu cewe jar,gw nikahin lu biar bisa mijet gw sering2" :'  
  • "Sinau le.. eling keluarga, tanggung jawab, amanah."

Selamat Jalan kawan satu doa terakhir yang kupanjatkan untukmu :

` Ya Allah ampunilah dosanya, sayangilah dia, maafkanlah dia, muliakanlah tempat tinggalnya, luaskanlah kuburannya, mandikanlah dia dengan air es dan air embun, bersihkanlah dari segala kesalahan sebagaimana kain putih bersih dari kotoran, gantikanlah untuknya tempat tinggal yang lebih baik dari tempat tinggalnya, keluarga yang lebih baik dari keluarganya, pasangan yang lebih baik dari pasangannya dan peliharalah dia dari siksa kubur dan siksa neraka." 

Thursday, 1 November 2012

Mati listrik (atau orang lebih sering menyebutnya mati lampu) ? mungkin suatu kejadian yang lumrah yang biasa terjadi di Negeri kita ini. Tapi apa rasanya, kalian sedang Ujian dan belum belajar, tiba tiba mati lampu ???

ya, semua pasti punya jawabannya masing masing. Kita tidak akan membahas itu. Itu hanyalah sarana yang menuntun langkah ini untuk ke suatu tempat. yaitu Fatahillah.  Toko buku ini yang dijadikan pelabuhan ketika mati lampu ini. Seperti biasanya, sangat sayang ketika mampir di tempat ini tapi tidak baca baca ,, (Gratisan).

Entah kenapa, saya tertarik dengan buku SUper Murabbi yang ditulis oleh kang Solikin abu Izzudin. Didalamnya saya mendapatkan Syair dari Imam Ali bin Abi Thalib ra. yang menurut saya juga mungkin anda, sangat amat menyentuh. ini dia syairnya,,,,

DIMANAKAH AKU BERADA … ??

Aku khawatir terhadap suatu masa yang roda kehidupannya dapat menggilas keimanan, keimanan hanya tinggal pemikiran yang tak berbekas dalam perbuatan …

Banyak orang yang baik tapi tak berakal, ada orang yang berakal tapi tak beriman …

Ada lidah fasih tapi berhati lalai, ada yang khusyuk tapi sibuk dalam kesendirian …

Ada ahli ibadah tapi mewarisi kesombongan iblis, ada ahli maksiat rendah hati bagaikan sufi …

Ada yang banyak tertawa hingga hatinya berkarat, dan ada yang menangis karena kufur nikmat …

Ada yang murah senyum tapi hatinya mengumpat, ada yang berhati tulus tapi wajahnya cemberut …

Ada yang berlisan bijak tapi tak memberi teladan, dan ada pelacur yang tampil jadi figur …

Ada orang yang punya ilmu tapi tak faham, ada yang faham tapi tak menjalankan …

Ada yang pintar tapi membodohi, ada yang bodoh tak tahu diri …

Ada orang beragama tapi tak berakhlak, ada yang berakhlak tapi tak bertuhan …

Lalu di antara semua itu, dimanakah aku berada … ?? 

ALI BIN ABI THALIB, RA

#jleb banget dah.
untuk mengawali November ini :D

Mati listrik (atau orang lebih sering menyebutnya mati lampu) ? mungkin suatu kejadian yang lumrah yang biasa terjadi di Negeri kita ini. Tapi apa rasanya, kalian sedang Ujian dan belum belajar, tiba tiba mati lampu ???

ya, semua pasti punya jawabannya masing masing. Kita tidak akan membahas itu. Itu hanyalah sarana yang menuntun langkah ini untuk ke suatu tempat. yaitu Fatahillah.  Toko buku ini yang dijadikan pelabuhan ketika mati lampu ini. Seperti biasanya, sangat sayang ketika mampir di tempat ini tapi tidak baca baca ,, (Gratisan).

Entah kenapa, saya tertarik dengan buku SUper Murabbi yang ditulis oleh kang Solikin abu Izzudin. Didalamnya saya mendapatkan Syair dari Imam Ali bin Abi Thalib ra. yang menurut saya juga mungkin anda, sangat amat menyentuh. ini dia syairnya,,,,

DIMANAKAH AKU BERADA … ??

Aku khawatir terhadap suatu masa yang roda kehidupannya dapat menggilas keimanan, keimanan hanya tinggal pemikiran yang tak berbekas dalam perbuatan …

Banyak orang yang baik tapi tak berakal, ada orang yang berakal tapi tak beriman …

Ada lidah fasih tapi berhati lalai, ada yang khusyuk tapi sibuk dalam kesendirian …

Ada ahli ibadah tapi mewarisi kesombongan iblis, ada ahli maksiat rendah hati bagaikan sufi …

Ada yang banyak tertawa hingga hatinya berkarat, dan ada yang menangis karena kufur nikmat …

Ada yang murah senyum tapi hatinya mengumpat, ada yang berhati tulus tapi wajahnya cemberut …

Ada yang berlisan bijak tapi tak memberi teladan, dan ada pelacur yang tampil jadi figur …

Ada orang yang punya ilmu tapi tak faham, ada yang faham tapi tak menjalankan …

Ada yang pintar tapi membodohi, ada yang bodoh tak tahu diri …

Ada orang beragama tapi tak berakhlak, ada yang berakhlak tapi tak bertuhan …

Lalu di antara semua itu, dimanakah aku berada … ?? 

ALI BIN ABI THALIB, RA

#jleb banget dah.
untuk mengawali November ini :D

Thursday, 18 October 2012

Pernah ga sih, kalian merasakan minder, takut, grogi pas mau ngomong sama orang yang lebih, dalam hal ini atasan ? entah itu dosen, Orang yang lebih tua, atau Atasan tempat anda bekerja ? ya, saya rasa, semua orang pernah mengalami hal yang semacam itu.

ya, ada beberapa tips yang di Sampaikan dibuku KSPK yang ditulis oleh Satria Hadi Lubis (hal 180) disitu ada 8 tips seputar cara berkomunikasi kepada atasan, 

1. Memberi salam. Ketika akan memulai pembicaraan dengan atasan anda, usahakan buka pembicaraan dengan salam pembuka seperti: selamat pagi, selamat malam, tergantung waktunya. Hal ini menunjukkan kesopanan anda dalam berbicara. Tidak ada salahnya juga menyisipkan pertanyaan personal yang ringan dan menyenangkan seperti: masih suka main tenis tiap jumat, pak? Namun hindari pertanyaan yang terlalu pribadi.

2 Utarakan siapa anda. Atasan anda tidak menghapal semua nama, wajah, dan jabatan bawahannya. Jangan berbicara panjang lebar tanpa menyebutkan siapa anda di awal pembicaraan. Hal ini dapat membingungkan atasan.

3 Utarakan maksud dan tujuan pembicaraan dengan jelas, ringkas, tidak bertele-tele.
Atasan anda bukan orang yang memiliki banyak waktu luang untuk mengobrol dengan anda. Gunakan waktu yang telah disisihkannya seefektif mungkin. Jelaskan apa tujuan anda berbicara dengan jelas. Gunakan kata-kata yang baku yang mudah dimengerti umum. Jangan memperpanjang kalimat dengan hal-hal tidak penting.

4 Jangan „takut‟. Atasan bukanlah dewa yang harus ditakuti. Sebagian orang merasa kesal jika lawan bicaranya gelisah, gemetar, dan tidak ada kontak mata saat berbicara. Lakukan kontak mata secukupnya sehingga menimbulkan kesan percaya diri. Jika pendapat anda ditentang, berikan argument yang masuk akal namun tidak memaksa. Jika berbicara sambil duduk, tegakkan punggung anda dan jangan terus-terusan menunduk. Beri kesan kalau anda adalah pegawai yang percaya diri, bisa diandalkan, dan bertanggung jawab.

5 Jangan gunakan intonasi tinggi.
Hal ini memberi kesan „memerintah‟, sehingga cenderung kasar dan tidak sopan.

ya, lima hal tersebut yang terdapat dalam buku KSPK tersebut. Mudah mudahan menjadikan modal untuk kita, ketika kita berkomunikasi dengan atasan.

Presentasi KSPK dalam hal Etiket Berkomunikasi 3T Pajak, Rabu @c201 jam 09.00

Pernah ga sih, kalian merasakan minder, takut, grogi pas mau ngomong sama orang yang lebih, dalam hal ini atasan ? entah itu dosen, Orang yang lebih tua, atau Atasan tempat anda bekerja ? ya, saya rasa, semua orang pernah mengalami hal yang semacam itu.

ya, ada beberapa tips yang di Sampaikan dibuku KSPK yang ditulis oleh Satria Hadi Lubis (hal 180) disitu ada 8 tips seputar cara berkomunikasi kepada atasan, 

1. Memberi salam. Ketika akan memulai pembicaraan dengan atasan anda, usahakan buka pembicaraan dengan salam pembuka seperti: selamat pagi, selamat malam, tergantung waktunya. Hal ini menunjukkan kesopanan anda dalam berbicara. Tidak ada salahnya juga menyisipkan pertanyaan personal yang ringan dan menyenangkan seperti: masih suka main tenis tiap jumat, pak? Namun hindari pertanyaan yang terlalu pribadi.

2 Utarakan siapa anda. Atasan anda tidak menghapal semua nama, wajah, dan jabatan bawahannya. Jangan berbicara panjang lebar tanpa menyebutkan siapa anda di awal pembicaraan. Hal ini dapat membingungkan atasan.

3 Utarakan maksud dan tujuan pembicaraan dengan jelas, ringkas, tidak bertele-tele.
Atasan anda bukan orang yang memiliki banyak waktu luang untuk mengobrol dengan anda. Gunakan waktu yang telah disisihkannya seefektif mungkin. Jelaskan apa tujuan anda berbicara dengan jelas. Gunakan kata-kata yang baku yang mudah dimengerti umum. Jangan memperpanjang kalimat dengan hal-hal tidak penting.

4 Jangan „takut‟. Atasan bukanlah dewa yang harus ditakuti. Sebagian orang merasa kesal jika lawan bicaranya gelisah, gemetar, dan tidak ada kontak mata saat berbicara. Lakukan kontak mata secukupnya sehingga menimbulkan kesan percaya diri. Jika pendapat anda ditentang, berikan argument yang masuk akal namun tidak memaksa. Jika berbicara sambil duduk, tegakkan punggung anda dan jangan terus-terusan menunduk. Beri kesan kalau anda adalah pegawai yang percaya diri, bisa diandalkan, dan bertanggung jawab.

5 Jangan gunakan intonasi tinggi.
Hal ini memberi kesan „memerintah‟, sehingga cenderung kasar dan tidak sopan.

ya, lima hal tersebut yang terdapat dalam buku KSPK tersebut. Mudah mudahan menjadikan modal untuk kita, ketika kita berkomunikasi dengan atasan.

Presentasi KSPK dalam hal Etiket Berkomunikasi 3T Pajak, Rabu @c201 jam 09.00

Wednesday, 17 October 2012

Ada yang perlu kita cermati 5 perkara, sebelum datangnya lima perkara.

“Dari Ibnu Abbas dia berkata: telah bersabda Rasululloh, seraya menasehati seseorang: Jagalah olehmu lima perkara sebelum datang lima perkara yang lainnya, jaga masa mudamu sebelum tuamu, jaga masa sehatmu sebelum datang waktu sakit, jaga masa kayamu sebelum jatuh miskin, jaga masa lapangmu sebelum sempit, dan jaga masa hidupmu sebelum datang kematian”.(Mustadrok Hakim kitab roqooq :4/306)

 Jaga masa lapangmu sebelum sempit. Ini, ini yang akan menjadi bahasan kita untuk selanjutnya. Kita menyadari bahwasannya Kewajiban kewajiban kita itu lebih banyak dari pada waktu yang kita miliki. Orang arab biasanya menyatakan   “Al-Wajibat aktsaru minal Awqat” (‘Kewajiban kita lebih banyak dibandingkan waktu yang tersedia’).Yang pertama harus kita tanamkan dalam diri, bahwa kita harus menjaga masa lapang, sebelum masa sempit dan yang kedua, kita menyadari bahwa kewajiban kita lebih banyak dari pada waktu yang tersedia. 

Kemudian, berbahaya jika ketika kita telah tanamkan dalam diri kita point 1 dan 2, kemudian timbul pertanyaan , enaknya ngapain ya ? haha, pertanyaan ini seakan akan bertentangan dengan 2 point di atas ? anda pernah bertanya demikian ? jika saya ditanya, maka saya akan menjawab ya. (Astagfirullah)

Mengelola Kesibukan itu "not just a science, but also an art". ucap salah seorang dengan tatapan teduh, kepada kami berlima yang sedang duduk duduk melingkar. Kemudian beliau (yang dengan kesibukannya yang supet extra) melanjutkan perbincangan yang ringannya dengan memberikan kami 12 kebiasaan Produktif yang di Anjurkan, yang beliau ambil dari buku Model Manusia Muslim Abad XXI yang di tulis oleh Ustd  Anis Matta LC.
1. Sediakan lebih banyak waktu untuk membaca dan sediakanlah waktu untuk memikirkan dan mengendapkan bacaan Anda.

Setiap kali Anda selesai membaca, itu berarti Anda telah menyerap sutu informasi dan akan meningkat ke tahap selanjutnya yaitu seleksi. Karena itu sisakanlah waktu 15 menit untuk memikirkan kembali apa yang barusan Anda baca dan endapkan.

2. Luangkan waktu selama 20 menit dalam sehari untuk menyendiri dan merenung.

Waktu paling tepat untuk merenung adalah sebelum subuh. Duduklah dengan rileks supaya nafas Anda keluar secara teratur. Pejamkan mata. Aturlah nafas secara teratur. Tarik nafas dari hidung dan keluarkan melalui mulut. Ikuti pernapasan itu dengan pikiran Anda. Mulailah merenung; merenung tentang apa saja, tidak perlu ditentukan ‘judulnya’. Efek dari kebiasaan ini adalah Anda akan terbiasa melakukan pemikiran vertikal; berpikir ke atas. Selain itu, kebiasaan tersebut juga akan meluaskan dan melegakan perasaan Anda, serta ketenangan yang luar biasa.

3. Pertahankan stamina spiritual Anda melalui ibadah mahdhah yang rutin
Dengan melaksanakan ibadah mahdhah secara rutin, maka Anda akan memilki nuansa spiritual sebagai kekuatan untuk mengontrol gerak pikiran dan gerak emosi.

4.Jagalah kondisi fisik Anda
 
Menjaga kondisi fisik melalui :
a.Makan secara teratur dan bergizi.
b.Istirahat yang cukup.
c.Olahraga ringan yang rutin

5.Tingkatkan apresiasi Anda melalui seni dan alam

Terkadang hidup akan terasa keringjika kita tidak punya rasa seni yang baik. Selain itu, menikmati seni dan alam juga dapat meningkatkan sifat humoris kita.

6. Buatlah rencana perjalanan wisata

Jalan-jalanlah di muka bumi dan makanlah rizki dari Tuhanmu. Semakin banyak yang kita lihat semakin banyak pula yang dapat kita banding-bandingkan.

7. Luaskanlah wilayah pergaulan Anda

Salah satu ciri orang dewasa ialah dapat bergaul dengan banyak orang. Sedangkan ciri remaja ialah hanya dapat bergaul dengan sekelompok orang yang sangat terbatas yang biasanya disebut dengan peers group.

8. Tingkatkan kontrol terhadap pikiran-pikiran yang memenuhi benak Anda
Pikiran-pikiran yang muncul dalam benak kita harus dikontrol secara ketat. Sebab, pikiran itulah yang mempengaruhi suasana jiwa; pikiran-pikiran akan melahirkan tindakan.

9. Biasakanlah mencatat gagasan secara teratur

Suatu ide atau gagasan memerlukan proses pematangan. Dengan mencatat, berarti Anda telah melakukan proses pematangan. Mencatat gagasan yang muncul dalam benak kita perlu dilakukan karena proses pematangan suatu gagasan tidak terjadi sekaligus.

10. Biasakanlah lebih banyak diam dan mendengar daripada bicara

Pada umumnya orang yang banyak bicara adalah orang yang lemah kepribadiannya. Ciri orang intelek menurut Islam yang disebutkan Al Qur’an adalah Alladziina yastami’uunalqaul; orang yang mendengarkan perkataan orang lain, fayattabiuuna ahsanah; dan mengikuti yang baik dari perkataan itu. Yaitu orang yang mau mendengarkan dan menganalisa

11. Kontrol emosi agar tetap tenang, tidak mudah terpengaruh sanjungan dan kritikan
Biasakan agar ekspresi emosi Anda tidak mudah terlihat melalui wajah, apalagi melalui ucapan atau tangan.

12. Lakukan latihan pernafasan secara teratur

Tarik nafas melalui hidung, keluarkan melalui mulut; tarik nafas dalam-dalam melalui hidung, kemudian turunkan ke dada terus ke perut, naik kembali ke dada, turun lagi ke perut. Itu sudah cukup, asalkan rutin. Yang kita butuhkan di sini bukan tenaga dalamnya, tetapi keseimbangan peredaran darah dan kebugaran internal.
ya, mudah mudahan 12 kebiasaan produktif ini dapat diterapkan oleh yang post disini, yang post dari sumbernya, dan oleh para pemampir semua, hhe

Selasa, 16 Oktober 2012, Dipojok kanan Masjid pukul 20.00

Ada yang perlu kita cermati 5 perkara, sebelum datangnya lima perkara.

“Dari Ibnu Abbas dia berkata: telah bersabda Rasululloh, seraya menasehati seseorang: Jagalah olehmu lima perkara sebelum datang lima perkara yang lainnya, jaga masa mudamu sebelum tuamu, jaga masa sehatmu sebelum datang waktu sakit, jaga masa kayamu sebelum jatuh miskin, jaga masa lapangmu sebelum sempit, dan jaga masa hidupmu sebelum datang kematian”.(Mustadrok Hakim kitab roqooq :4/306)

 Jaga masa lapangmu sebelum sempit. Ini, ini yang akan menjadi bahasan kita untuk selanjutnya. Kita menyadari bahwasannya Kewajiban kewajiban kita itu lebih banyak dari pada waktu yang kita miliki. Orang arab biasanya menyatakan   “Al-Wajibat aktsaru minal Awqat” (‘Kewajiban kita lebih banyak dibandingkan waktu yang tersedia’).Yang pertama harus kita tanamkan dalam diri, bahwa kita harus menjaga masa lapang, sebelum masa sempit dan yang kedua, kita menyadari bahwa kewajiban kita lebih banyak dari pada waktu yang tersedia. 

Kemudian, berbahaya jika ketika kita telah tanamkan dalam diri kita point 1 dan 2, kemudian timbul pertanyaan , enaknya ngapain ya ? haha, pertanyaan ini seakan akan bertentangan dengan 2 point di atas ? anda pernah bertanya demikian ? jika saya ditanya, maka saya akan menjawab ya. (Astagfirullah)

Mengelola Kesibukan itu "not just a science, but also an art". ucap salah seorang dengan tatapan teduh, kepada kami berlima yang sedang duduk duduk melingkar. Kemudian beliau (yang dengan kesibukannya yang supet extra) melanjutkan perbincangan yang ringannya dengan memberikan kami 12 kebiasaan Produktif yang di Anjurkan, yang beliau ambil dari buku Model Manusia Muslim Abad XXI yang di tulis oleh Ustd  Anis Matta LC.
1. Sediakan lebih banyak waktu untuk membaca dan sediakanlah waktu untuk memikirkan dan mengendapkan bacaan Anda.

Setiap kali Anda selesai membaca, itu berarti Anda telah menyerap sutu informasi dan akan meningkat ke tahap selanjutnya yaitu seleksi. Karena itu sisakanlah waktu 15 menit untuk memikirkan kembali apa yang barusan Anda baca dan endapkan.

2. Luangkan waktu selama 20 menit dalam sehari untuk menyendiri dan merenung.

Waktu paling tepat untuk merenung adalah sebelum subuh. Duduklah dengan rileks supaya nafas Anda keluar secara teratur. Pejamkan mata. Aturlah nafas secara teratur. Tarik nafas dari hidung dan keluarkan melalui mulut. Ikuti pernapasan itu dengan pikiran Anda. Mulailah merenung; merenung tentang apa saja, tidak perlu ditentukan ‘judulnya’. Efek dari kebiasaan ini adalah Anda akan terbiasa melakukan pemikiran vertikal; berpikir ke atas. Selain itu, kebiasaan tersebut juga akan meluaskan dan melegakan perasaan Anda, serta ketenangan yang luar biasa.

3. Pertahankan stamina spiritual Anda melalui ibadah mahdhah yang rutin
Dengan melaksanakan ibadah mahdhah secara rutin, maka Anda akan memilki nuansa spiritual sebagai kekuatan untuk mengontrol gerak pikiran dan gerak emosi.

4.Jagalah kondisi fisik Anda
 
Menjaga kondisi fisik melalui :
a.Makan secara teratur dan bergizi.
b.Istirahat yang cukup.
c.Olahraga ringan yang rutin

5.Tingkatkan apresiasi Anda melalui seni dan alam

Terkadang hidup akan terasa keringjika kita tidak punya rasa seni yang baik. Selain itu, menikmati seni dan alam juga dapat meningkatkan sifat humoris kita.

6. Buatlah rencana perjalanan wisata

Jalan-jalanlah di muka bumi dan makanlah rizki dari Tuhanmu. Semakin banyak yang kita lihat semakin banyak pula yang dapat kita banding-bandingkan.

7. Luaskanlah wilayah pergaulan Anda

Salah satu ciri orang dewasa ialah dapat bergaul dengan banyak orang. Sedangkan ciri remaja ialah hanya dapat bergaul dengan sekelompok orang yang sangat terbatas yang biasanya disebut dengan peers group.

8. Tingkatkan kontrol terhadap pikiran-pikiran yang memenuhi benak Anda
Pikiran-pikiran yang muncul dalam benak kita harus dikontrol secara ketat. Sebab, pikiran itulah yang mempengaruhi suasana jiwa; pikiran-pikiran akan melahirkan tindakan.

9. Biasakanlah mencatat gagasan secara teratur

Suatu ide atau gagasan memerlukan proses pematangan. Dengan mencatat, berarti Anda telah melakukan proses pematangan. Mencatat gagasan yang muncul dalam benak kita perlu dilakukan karena proses pematangan suatu gagasan tidak terjadi sekaligus.

10. Biasakanlah lebih banyak diam dan mendengar daripada bicara

Pada umumnya orang yang banyak bicara adalah orang yang lemah kepribadiannya. Ciri orang intelek menurut Islam yang disebutkan Al Qur’an adalah Alladziina yastami’uunalqaul; orang yang mendengarkan perkataan orang lain, fayattabiuuna ahsanah; dan mengikuti yang baik dari perkataan itu. Yaitu orang yang mau mendengarkan dan menganalisa

11. Kontrol emosi agar tetap tenang, tidak mudah terpengaruh sanjungan dan kritikan
Biasakan agar ekspresi emosi Anda tidak mudah terlihat melalui wajah, apalagi melalui ucapan atau tangan.

12. Lakukan latihan pernafasan secara teratur

Tarik nafas melalui hidung, keluarkan melalui mulut; tarik nafas dalam-dalam melalui hidung, kemudian turunkan ke dada terus ke perut, naik kembali ke dada, turun lagi ke perut. Itu sudah cukup, asalkan rutin. Yang kita butuhkan di sini bukan tenaga dalamnya, tetapi keseimbangan peredaran darah dan kebugaran internal.
ya, mudah mudahan 12 kebiasaan produktif ini dapat diterapkan oleh yang post disini, yang post dari sumbernya, dan oleh para pemampir semua, hhe

Selasa, 16 Oktober 2012, Dipojok kanan Masjid pukul 20.00

Tuesday, 16 October 2012

Sistem, dalam kamus Besar Bahasa Indonesia berarti Perangkat unsur yang secara teratur saling berkaitan, sehingga membentuk suatu totalis. atau Susunan yang teratur dari pandangan, teori, asas dan sebagainya. Bisa juga Metode.

 Tiga deskripsi tentang sistem tersebut, saya rasa cukup untuk menjelaskan mengenai Sistem. Terus, apa yang akan kita bicarakan selanjutnya ? apakah akan membicarakan Sistem di Indonesia yang kata sebagian orang "sudah Bobrok" ? ahhh, itu terlalu tinggi, terlalu kejauhan kita untuk memikirkan itu, yang menjadi fokus kita sekarang ialah sistem yang berlaku atau yang kita rasakan secara langsung saja. Akan tetapi, penting juga untuk mengetahui sistem Indonesia, agar bisa melakukan perbaikan terus menurus.

 Tiga minggu berturut turut, Auditing (salah satu mata Kuliah semester 5) membicarakan mengenai sistem, mulai dari Sistem Akuntansi Penjualan, Sistem Akuntansi Pembelian dan Sistem Akuntansi Aktiva Tetap. Dari ketiga sistem yang dibahas diatas, dapat ditarik suatu benang merah, bahwa ketika Suatu sistem telah terbentuk, kemudian bagian yang terpenting dari suatu sistem tersebut yaitu pengendalian Internal (control Intern).

Membangun suatu Sistem, itu berarti merencanakan suatu kegiatan, yang mana nantinya dapat berjalan sesuai prosedur yang telah dibuat yang menghasilkan hasil yang maksimal. Ya, ketika suatu sistem telah dibentuk secara sempurna, atau orang zaman sekarang bilang "wow", pasti akan ada selalu celah dalam suatu sistem tersebut. Oleh karena itu sangat pentingnya pengendalian Internal yang mana untuk menutup celah tersebut.

Pernah liat Serial Kartun Shaun the Sheep. Di episode ketika Si Pemilik (manusia) sakit. Dan sang anjing menjaga si majikan. Kemudian tugas si Anjing itu deserahkan kepada salah satu kambing yang "paling cerdas". Apa tugas yang diserahkan sang anjing kepada kambing yang cerdas itu ?  Ya, sebuah kertas yang berisikan Job desk yang harus dilakukan si Anjing tersebut setiap harinya. Kisah selanjutnya, silahkan di liat sendiri ya di salah satu tivi swasta.

Ya, di serial Kartun tersebut kita bisa liat ada pengendalian Intern dari si Penjaga kambing tersebut. Itulah standard kinerja yang harus dilakukan olehnya setiap harinya.

Jika pengendalian Internal ini kita terapkan ke diri sendiri, bagaimana caranya ? ya, "Mutabaah". Lembah mutabaah sangat penting untuk pengendalian internal. Secara sistem, tubuh kita telah sempurna, sistem yang sangat bagus dan sempurna, cuma pertanyaannya, bagaimana agar kita dapat memaksimalkan sistem tubuh kita agar menghasilkan output yang maksimal ? Saya katakan dengan jelas "Mutabaah". Bagi yang belum melaksanakan, segera buat, target target harian, kemudian disiplin dalam mengevaluasi diri.

Kemudian jika pengendalian internal ini diterapkan diorganisasi, apa yang seharusnya dilaksanakan? ya, saya rasa anda lebih tau dari pada yang post ini. Ketika setiap orang di dalam organisasi mempunyai pikiran Apa yang dapat kamu berikan kepada organisasi bukan apa yang diberikan organisasi kepada kita, maka, insyaAllah, suatu sistem yang ada akan menghasilkan kelauran yang maksimal.

Kemudian Negara Indonesia. apakah kita akan tetap menyalahkan sistemnya ? atau kita akan melakukan perbaikan dengan melakukan perubahan didalam ? Dengan melakukan pengendalian internal agar menjadi output yang totalitas. haha, tidak sanggup lagi rasanya jari ini untuk menuliskan di bagian paragraf ini karena kurangnya ilmu dan pengetahuan.

Closing statement dari yang ngepost tulisan ini, Mari kita sama sama untuk menuntut ilmu, menambah wawasan, membuka cakrawala, melakukan perbaikan, melakukan pengendalian intern mulai dari diri sendiri, keluarga, organisasi dan Negara. Mari persiapkan diri untuk melakukan perbaikan demi perbaikan untuk Agama, Negara, dan Dunia.

Sistem, dalam kamus Besar Bahasa Indonesia berarti Perangkat unsur yang secara teratur saling berkaitan, sehingga membentuk suatu totalis. atau Susunan yang teratur dari pandangan, teori, asas dan sebagainya. Bisa juga Metode.

 Tiga deskripsi tentang sistem tersebut, saya rasa cukup untuk menjelaskan mengenai Sistem. Terus, apa yang akan kita bicarakan selanjutnya ? apakah akan membicarakan Sistem di Indonesia yang kata sebagian orang "sudah Bobrok" ? ahhh, itu terlalu tinggi, terlalu kejauhan kita untuk memikirkan itu, yang menjadi fokus kita sekarang ialah sistem yang berlaku atau yang kita rasakan secara langsung saja. Akan tetapi, penting juga untuk mengetahui sistem Indonesia, agar bisa melakukan perbaikan terus menurus.

 Tiga minggu berturut turut, Auditing (salah satu mata Kuliah semester 5) membicarakan mengenai sistem, mulai dari Sistem Akuntansi Penjualan, Sistem Akuntansi Pembelian dan Sistem Akuntansi Aktiva Tetap. Dari ketiga sistem yang dibahas diatas, dapat ditarik suatu benang merah, bahwa ketika Suatu sistem telah terbentuk, kemudian bagian yang terpenting dari suatu sistem tersebut yaitu pengendalian Internal (control Intern).

Membangun suatu Sistem, itu berarti merencanakan suatu kegiatan, yang mana nantinya dapat berjalan sesuai prosedur yang telah dibuat yang menghasilkan hasil yang maksimal. Ya, ketika suatu sistem telah dibentuk secara sempurna, atau orang zaman sekarang bilang "wow", pasti akan ada selalu celah dalam suatu sistem tersebut. Oleh karena itu sangat pentingnya pengendalian Internal yang mana untuk menutup celah tersebut.

Pernah liat Serial Kartun Shaun the Sheep. Di episode ketika Si Pemilik (manusia) sakit. Dan sang anjing menjaga si majikan. Kemudian tugas si Anjing itu deserahkan kepada salah satu kambing yang "paling cerdas". Apa tugas yang diserahkan sang anjing kepada kambing yang cerdas itu ?  Ya, sebuah kertas yang berisikan Job desk yang harus dilakukan si Anjing tersebut setiap harinya. Kisah selanjutnya, silahkan di liat sendiri ya di salah satu tivi swasta.

Ya, di serial Kartun tersebut kita bisa liat ada pengendalian Intern dari si Penjaga kambing tersebut. Itulah standard kinerja yang harus dilakukan olehnya setiap harinya.

Jika pengendalian Internal ini kita terapkan ke diri sendiri, bagaimana caranya ? ya, "Mutabaah". Lembah mutabaah sangat penting untuk pengendalian internal. Secara sistem, tubuh kita telah sempurna, sistem yang sangat bagus dan sempurna, cuma pertanyaannya, bagaimana agar kita dapat memaksimalkan sistem tubuh kita agar menghasilkan output yang maksimal ? Saya katakan dengan jelas "Mutabaah". Bagi yang belum melaksanakan, segera buat, target target harian, kemudian disiplin dalam mengevaluasi diri.

Kemudian jika pengendalian internal ini diterapkan diorganisasi, apa yang seharusnya dilaksanakan? ya, saya rasa anda lebih tau dari pada yang post ini. Ketika setiap orang di dalam organisasi mempunyai pikiran Apa yang dapat kamu berikan kepada organisasi bukan apa yang diberikan organisasi kepada kita, maka, insyaAllah, suatu sistem yang ada akan menghasilkan kelauran yang maksimal.

Kemudian Negara Indonesia. apakah kita akan tetap menyalahkan sistemnya ? atau kita akan melakukan perbaikan dengan melakukan perubahan didalam ? Dengan melakukan pengendalian internal agar menjadi output yang totalitas. haha, tidak sanggup lagi rasanya jari ini untuk menuliskan di bagian paragraf ini karena kurangnya ilmu dan pengetahuan.

Closing statement dari yang ngepost tulisan ini, Mari kita sama sama untuk menuntut ilmu, menambah wawasan, membuka cakrawala, melakukan perbaikan, melakukan pengendalian intern mulai dari diri sendiri, keluarga, organisasi dan Negara. Mari persiapkan diri untuk melakukan perbaikan demi perbaikan untuk Agama, Negara, dan Dunia.

Sunday, 14 October 2012


Jarkom,, Kumpul rapat di Taman CD jam 7, jangan ngaret ya, harap di prioritaskan. 

 Itu yang tertera di HP yang mana biasanya sering di dapat oleh orang orang yang biasa mengikuti organisasi. Kurang lebih seperti itu lah kontennya. Ada kata Jarkom, ada Tempatnya, ada Waktunya, ada agendanya dan ada pula peringatan dan himbauannya.

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa di Indonesia terkenal dengan jam karetnya. Mau masuk kuliah, ngaret, mau kumpul rapat, ngaret, mau jalan-jalan, ngaret, mau maen futsal, ngaret, mau naek angkot, ngaret, mau janjian kemana?, ngaret juga, tapi intinya, ketika kita sudah janjian untuk ketemu atau melakukan suatu agenda pada waktu tertentu, kenapa ngaret ini selalu menghantui ?

Ya, mungkin penyebab pertama seringnya terjadi ngaret itu karena kurangnya kepedulian dari kita sendiri. Kita hanya memikirkan diri kita sendiri, misalnya ketika telah janjian untuk bertemu , dan kita melakukan "ngaret" mungkin banyak yang berpikir ketika kita ngaret, hanya kita yang rugi tetapi patut disadari, bahwa orang lain pun merasa dirugikan oleh anda. Misalnya, ada rapat jam 7. Ketika itu anda datang jam 7.20. Ketahuilah oleh anda, bahwa anda telah membuat orang orang yang telah datang untuk menunda rapatnya sekitar 20 menit, hanya untuk menunggu anda. Apakah anda pikir orang lain tidak punya keperluan lain ?

Yang kedua mungkin kurangnya kita dalam mendisiplinkan diri untuk tepat waktu. ahhhh, kata disiplin itu sudah kita dengar, kita tulis, sudah kita lihat sejak kita Sekolah dasar, bahkan sejak kita kecil. Akan tetapi, ketika kita mendisiplinkan diri untuk tepat waktu, kadang kadang kita suka tertarik dengan kebanyakan orang yang telah. Misalnya, kita selalu On time jika janjian. akan tetapi yang lainnya selalu ngaret. lama kelamaan, kita aga mulai jenuh untuk on time, dan memutuskan untuk tidak on time seperti biasa. Ini yang bisa saya bilang salah. jika on time itu diibaratkan kebaikan maka "Tetaplah berbuat baik, walaupun disekelilingmu berbuat hal yang tidak baik."




Yang ketika mungkin Istiqomah. Ketika kita telah mengetahui bahwa dampak dari kengaretan diri kita akan merugikan orang lain, dan kita untuk mendisiplinkan diri untuk on time, maka selanjutnya itu kita harus mengkonsistenkan diri agar bisa selalu on time. Sangat mudah dalam On time, akan tetapi aga sulit untuk istiqomah dalam On time.

Biasanya ada cara cara yang digunakan, agar seseorang itu / sekolompok itu dapat menghargai waktu, dapat menghargai orang yang diajak kumpul, dan menghargai apa yang berharga yang lainnya. Disini akan saya coba tuangkan 3 metode yang terpikir di otak ini .

  1. Reward and Punishment. Dalam metode ini, seseorang yang datang tepat waktu akan dikasih penghargaan, dan seorang yang telah akan mendapat hukuman. Dalam metode ini adanya unsur pemaksaan yang bersifat mengikat, yang mengakibatkan adanya hukum sebab akibat. Disebabkan saya tidak terlambat, maka saya dapat hadiah, dan disebabkan saya terlambah, maka saya mendapat hukuman.
  2. Disiplin Ala Kopasus. Dalam metode ini, kita di paksa untuk mengikuti kedisiplinan dari kopasus atau sejenis yang lainnya. Ya, disini pun masih ada paksaan untuk melakukan sesuatu, yang walaupun hanya satu arah. Ketika saya tidak berdisiplin, maka saya akan kena hukuman. Mungkin singkatnya seperti itu
  3. Disiplin ala Salahudin Al Ayubi. Ketika hendak memimpin perang dalam penaklukan Palestina, beliau mendisiplinkan pasukannya dengan sholat berjamaah. Ya, sholat berjamaah.
    Sholat berjmaah merupakan metode yang paling ampuh untuk mendisiplinkan diri. Seseorang tidak dipaksa secara lahiriyah, akan tetapi itu berasal dari dalam hatinya. berbeda dengan no satu dan dua. Disiplin ala Salahudin Al Ayubi ini merupakan sebuah contoh yang patuh ditiru oleh semua orang untuk mendisiplinkan diri.
Ya mungkin hanya itu saya, tidak etis rasanya, ketika post ini dibuat, waktu sudah menunjukan 23.30 dengan ditemani lagi Shotul Harakah yang berjudul Lirih Pembebas yang mana itu sudah larut malem dan sudah tidak disiplin dalam hal tidur.








Jarkom,, Kumpul rapat di Taman CD jam 7, jangan ngaret ya, harap di prioritaskan. 

 Itu yang tertera di HP yang mana biasanya sering di dapat oleh orang orang yang biasa mengikuti organisasi. Kurang lebih seperti itu lah kontennya. Ada kata Jarkom, ada Tempatnya, ada Waktunya, ada agendanya dan ada pula peringatan dan himbauannya.

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa di Indonesia terkenal dengan jam karetnya. Mau masuk kuliah, ngaret, mau kumpul rapat, ngaret, mau jalan-jalan, ngaret, mau maen futsal, ngaret, mau naek angkot, ngaret, mau janjian kemana?, ngaret juga, tapi intinya, ketika kita sudah janjian untuk ketemu atau melakukan suatu agenda pada waktu tertentu, kenapa ngaret ini selalu menghantui ?

Ya, mungkin penyebab pertama seringnya terjadi ngaret itu karena kurangnya kepedulian dari kita sendiri. Kita hanya memikirkan diri kita sendiri, misalnya ketika telah janjian untuk bertemu , dan kita melakukan "ngaret" mungkin banyak yang berpikir ketika kita ngaret, hanya kita yang rugi tetapi patut disadari, bahwa orang lain pun merasa dirugikan oleh anda. Misalnya, ada rapat jam 7. Ketika itu anda datang jam 7.20. Ketahuilah oleh anda, bahwa anda telah membuat orang orang yang telah datang untuk menunda rapatnya sekitar 20 menit, hanya untuk menunggu anda. Apakah anda pikir orang lain tidak punya keperluan lain ?

Yang kedua mungkin kurangnya kita dalam mendisiplinkan diri untuk tepat waktu. ahhhh, kata disiplin itu sudah kita dengar, kita tulis, sudah kita lihat sejak kita Sekolah dasar, bahkan sejak kita kecil. Akan tetapi, ketika kita mendisiplinkan diri untuk tepat waktu, kadang kadang kita suka tertarik dengan kebanyakan orang yang telah. Misalnya, kita selalu On time jika janjian. akan tetapi yang lainnya selalu ngaret. lama kelamaan, kita aga mulai jenuh untuk on time, dan memutuskan untuk tidak on time seperti biasa. Ini yang bisa saya bilang salah. jika on time itu diibaratkan kebaikan maka "Tetaplah berbuat baik, walaupun disekelilingmu berbuat hal yang tidak baik."




Yang ketika mungkin Istiqomah. Ketika kita telah mengetahui bahwa dampak dari kengaretan diri kita akan merugikan orang lain, dan kita untuk mendisiplinkan diri untuk on time, maka selanjutnya itu kita harus mengkonsistenkan diri agar bisa selalu on time. Sangat mudah dalam On time, akan tetapi aga sulit untuk istiqomah dalam On time.

Biasanya ada cara cara yang digunakan, agar seseorang itu / sekolompok itu dapat menghargai waktu, dapat menghargai orang yang diajak kumpul, dan menghargai apa yang berharga yang lainnya. Disini akan saya coba tuangkan 3 metode yang terpikir di otak ini .

  1. Reward and Punishment. Dalam metode ini, seseorang yang datang tepat waktu akan dikasih penghargaan, dan seorang yang telah akan mendapat hukuman. Dalam metode ini adanya unsur pemaksaan yang bersifat mengikat, yang mengakibatkan adanya hukum sebab akibat. Disebabkan saya tidak terlambat, maka saya dapat hadiah, dan disebabkan saya terlambah, maka saya mendapat hukuman.
  2. Disiplin Ala Kopasus. Dalam metode ini, kita di paksa untuk mengikuti kedisiplinan dari kopasus atau sejenis yang lainnya. Ya, disini pun masih ada paksaan untuk melakukan sesuatu, yang walaupun hanya satu arah. Ketika saya tidak berdisiplin, maka saya akan kena hukuman. Mungkin singkatnya seperti itu
  3. Disiplin ala Salahudin Al Ayubi. Ketika hendak memimpin perang dalam penaklukan Palestina, beliau mendisiplinkan pasukannya dengan sholat berjamaah. Ya, sholat berjamaah.
    Sholat berjmaah merupakan metode yang paling ampuh untuk mendisiplinkan diri. Seseorang tidak dipaksa secara lahiriyah, akan tetapi itu berasal dari dalam hatinya. berbeda dengan no satu dan dua. Disiplin ala Salahudin Al Ayubi ini merupakan sebuah contoh yang patuh ditiru oleh semua orang untuk mendisiplinkan diri.
Ya mungkin hanya itu saya, tidak etis rasanya, ketika post ini dibuat, waktu sudah menunjukan 23.30 dengan ditemani lagi Shotul Harakah yang berjudul Lirih Pembebas yang mana itu sudah larut malem dan sudah tidak disiplin dalam hal tidur.









Ini merupakan Kultwuit yang ditulis oleh Ustd Salim A Fillah. Mudah mudahan dapat menjadi penyemangat ketika malas menjadi Motivasi ketika kehilangan asa, menjadi penyegar ketika lesu.



1. Menulis adalah mengikat ilmu & pemahaman. Akal kita sebagai kurniaNya, begitu agung dayanya menampung sedemikian banyak data-data. #Write

2. Tapi kita kadang sulit memanggil apa nan telah tersimpan lama; ilmu dahulu itu berkeliaran & bersembunyi di jalur rumit otak kita. #Write

3. Maka menulis adalah menyusun kata kunci tuk buka khazanah akal; sekata tuk sealinea, sekalimat tuk se-bab, separagraf tuk sekitab. #Write

4. Demikianlah kita fahami kalimat indah Asy Syafi’i; ilmu adalah binatang buruan, & pena yang menuliskan adalah tali pengikatnya. #Write

5. Menulis juga jalan merekam jejak pemahaman; kita lalui usia dengan memohon ditambah ilmu & dikaruniai pengertian; adakah kemajuan? #Write

6. Itu bisa kita tahu jika kita rekam sang ilmu dalam lembaran; kita bisa melihat perkembangannya hari demi hari, bulan demi bulan. #Write

7. Jika tulisan kita 3 bulan lalu telah bisa kita tertawai; maka terbaca adanya kemajuan. Jika masih terkagum juga; itu menyedihkan. #Write

8. Lebih lanjut; menulis adalah mengujikan pemahaman kepada khalayak; yang dari berbagai sisi bisa memberi penyeksamaan & penilaian. #Write

9. Kita memang membaca buku, menyimak kajian, hadir dalam seminar & sarasehan; tapi kebenaran pemahaman kita belum tentu terjaminkan. #Write

10. Maka menulislah; agar jutaan pembaca menjadi guru yang meluruskan kebengkokan, mengingatkan keterluputan, membetulkan kekeliruan. #Write

11. Penulis hakikatnya menyapa dengan ilmu; maka ia berbalas tambahan pengertian; kian bening, kian luas, kian dalam, kian tajam. #Write

12. Agungnya lagi; sang penulis merentangkan ilmunya melampaui batas-batas waktu & ruang. Ia tak dipupus usia, tak terhalang jarak. #Write

13. Adagium Latin itu tak terlalu salah; Verba Volant, Scripta Manent. Yang terucap kan lenyap tak berjejak, yang tertulis mengabadi. #Write

14. Tapi bagi kita, makna keabadian karya bukan hanya soal masyhurnya nama; ia tentang pewarisan nilai; kemaslahatan atau kerusakan. #Write

15. Andaikan benar bahwa Il Principe yang dipersembahkan Niccolo Machiavelli pada Cesare de Borgia itu jadi kawan tidur para tiran… #Write

16. ..seperti terisyu tentang Napoleon, Hitler, & Stalin; akankah dia bertanggungjawab atas berbagai kezhaliman nan terilham bukunya? #Write

17. Sebab bukan hanya pahala yang bersifat ‘jariyah’; melainkan ada juga dosa yang terus mengalir. Menjadi penulis adalah pertaruhan. #Write

18. Mungkin tak separah Il Principe; tapi tiap kata yang mengalir dari jemari ini juga berpeluang menjadi keburukan berrantai-rantai. #Write

19. Dan bahagialah bakda pengingat; huruf bisa menjelma dzarrah kebajikan; percikan ilhamnya tak putus mencahaya sampai kiamat tiba. #Write

20. Lalu terkejutlah para penulis kebenaran, kelak ketika catatan amal diserahkan, “Ya Rabbi, bagaimana bisa pahalaku sebanyak ini?” #Write

21. Moga kelak dijawabNya, “Ya, amalmu sedikit, dosamu berbukit; tapi inilah pahala tak putus dari ilham kebajikan nan kau tebarkan.” #Write

22. Tulisan sahih & mushlih; jadi jaring yang melintas segala batas; menjerat pahala orang terilham tanpa mengurangi si bersangkutan. #Write

23. Menulis juga bagian dari tugas iman; sebab makhluq pertama ialah pena, ilmu pertama ialah bahasa, & ayat pertama berbunyi “Baca!” #Write

24. Tersebut di HR Ahmad & ditegaskan Ibn Taimiyah dalam Fatawa, “Makhluq pertama yang diciptaNya ialah pena, lalu Dia berfirman… #Write

25. ..”Tulislah!” Tanya Pena; “Apa yang kutulis, Rabbi?” Kata Allah; “Tulis segala ketentuan yang Kutakdirkan bagi semua makhluqKu.” #Write

26. Adapun ilmu yang diajarkan pada Adam & membuatnya unggul atas malaikat nan lalu bersujud adalah bahasa; kosa kata. (QS 2: 31) #Write

27. Dan “Baca!”; wahyu pertama. Bangsa Arab nan mengukur kecerdasan dari kuatnya hafalan hingga memandang rendah tulis-baca , tiba-tiba meloncat ke ufuk, jadi guru semesta. #Write

29. Muhammad hadir bukan dengan mu’jizat yang membelalakkan; dia datang dengan kata-kata yang menukik-menghunjam, disebut ‘Bacaan’. #Write

30. Maka Islam menjelma peradaban Ilmiah, dengan pena sebagai pilarnya; wawasan tertebar mengantar kemaslahatan ke seantero dunia. #Write

31. Semoga Allah berkahi tiap kata yang mengalir dari ujung jemari kita; sungguh, buku dapat menggugah jiwa manusia & mengubah dunia. #Write

32. Bagaimana sebuah tulisan bisa mengilhami; tak tersia, tak jadi tragika, & tak menjatuhkan penulisnya dalam gelimang kemalangan? #Write

33. Saya mencermati setidaknya ada 3 kekuatan yang harus dimiliki seorang penulis menggugah; Daya Ketuk, Daya Isi, & Daya Memahamkan. #Write

34. Daya Ketuk ini paling berat dibahas; yang mericau ini pun masih jauh & terus belajar. Ia masalah hati; terkait niat & keikhlasan. #Write

35. Pertama, marilah jawab ini: 1} Mengapa saya harus menulis? 2} Mengapa ia harus ditulis? 3} Mengapa harus saya yang menuliskannya? #Write

36. Seberapa kuat makna jawaban kita atas ke-3 tanya ini, menentukan seberapa besar daya tahan kita melewati aneka tantangan menulis. #Write

37. Alasan kuat tentang diri, tema, & akibat dunia-akhirat jika tak ditulis; akan menggairahkan, menggerakkan, membakar, menekunkan. #Write

38. Keterlibatan hati & jiwa dengan niat menyala itulah yang mengantarkan tulisan ke hati pembaca; mengetuk, menyentuh, menggerakkan. #Write

39. Tetapi; tak cukup hanya hati bergairah & semangat menyala saja jika yang kita kehendaki adalah keinsyafan suci di hati pembaca. #Write

40. Menulis memerlukan kata yang agung & berat itu; IKHLAS. Kemurnian. Harap & takut hanya padaNya. Cinta kebenaran di atas segala. #Write

41. Allah gambarkan keikhlasan sejati bagai susu; terancam darah & kotoran, tapi terupayakan; murni, bergizi, memberi tenaga suci… #Write

42. …dan mudah diasup, nyaman ditelan, lancar dicerna oleh peminum-peminumnya, menjadi daya untuk bertaat & bertaqwa (QS 16: 66). #Write

43. Maka menjadi penulis yang ikhlas sungguh payah & tak mudah; ada goda kotoran & darah; kekayaan & kemasyhuran, riya’ & sum’ah. #Write

44. Jika ia berhasil dilampaui; jadilah tulisan, ucapan & perbuatan sang penulis bergizi, memberi arti, mudah dicerna jadi amal suci. #Write

45. Sebaliknya; penulis tak ikhlas itu; tulisannya bagai susu dicampur kotoran & darah, racun & limbah; lalu disajikan pada pembaca. #Write

46. Ya Rabbi; ampuni bengkoknya niat di hati, ampuni bocornya syahwat itu & ini, di tiap kali kami gerakkan jemari menulis & berbagi. #Write

47. Sebab susu tak murni, tulisan tak ikhlas, memungkinkan 2 hal: a) pembaca muak, mual, & muntah bahkan saat baru mengamati awalnya. #Write

48. Atau lebih parah: b) pembaca begitu rakus melahap tulisan kita; tapi yang tumbuh di jiwanya justru penyakit-penyakit berbahaya. #Write

49. Menulis berkeikhlasan, menabur benih kemurnian; agar Allah tumbuhkan di hati pembaca pohon ketaqwaan. Itulah daya ketuk sejati. #Write

50. Daya sentuh, daya ketuk, daya sapa di hati pembaca; bukan didapat dari wudhu’ & shalat yang dilakukan semata niat menoreh kata… #Write

51. …Ia ada ketika kegiatan menghubungkan diri dengan Dzat Maha Perkasa, semuanya; bukan rekayasa, tapi telah menyatu dengan jiwa.. #Write

52. …lalu menulis itu sekedar 1 dari berbagai pancaran cahaya yang kemilau dari jiwanya; menggenapi semua keshalihan nan mengemuka. #Write

53. Setelah Daya Ketuk, penulis harus ber-Daya Isi. Mengetuk tanpa mengisi membuat pembaca ternganga, tapi lalu bingung berbuat apa. #Write

54. Daya Ketuk membuat pembaca terinsyaf & tergugah; tapi jika isi yang kemudian dilahap cacat, timpang, rusak; jadilah masalah baru. #Write

55. Daya Isi adalah soal ilmu. Mahfuzhat Arab itu sungguh benar; “Faqidusy Syai’, Laa Yu’thi: yang tak punya, takkan bisa memberi.” #Write

56. Menjadi penulis adalah menempuh jalan ilmu & berbagi; membaca ayat-ayat tertulis; menjala hikmah-hikmah tertebar. Tanpa henti. #Write

57. Ia menyimak apa yang difirmankan Tuhannya, mencermati yang memancar dari hidup RasulNya; & membawakan makna ke alam tinggalnya. #Write

58. Dia fahami ilmu tanpa mendikotomi; tapi tetap tahu di mana menempatkan yang mutlak terhadap yang nisbi; mencerahkan akal & hati. #Write

59. Penulis sejati memiliki rujukan yang kuat, tetapi bukan tukang kutip. Segala yang disajikan telah melalui proses internalisasi. #Write

60. Penulis sejati kokoh berdalil bukan hanya atas yang tampak pada teks; tapi disertai kefahaman latar belakang & kedalaman tafsir. #Write

61. Dengan proses internalisasi; semua data & telaah yang disajikan jadi matang & lezat dikunyah; pembacanya mengasup ramuan bergizi. #Write

62. Sebab konon ‘tak ada yang baru di bawah matahari’; tugas penulis sebenarnya memang cuma meramu hal-hal lama agar segar kembali. #Write

63. Atau mengungkap hal-hal yang sudah ada, tapi belum luas dikenali. Diperlukan ketekunan untuk melihat 1 masalah dari banyak sisi. #Write

64. Atau mengingatkan kembali hal-hal yang sesungguhnya telah luas difahami; agar jiwa-jiwa yang baik tergerak kuat untuk bertindak. #Write

65. Maka dia suka menghubungkan titik temu aneka ilmu, penuh pemaknaan segar & baru, dengan tetap berpegang kaidah sahih & tertentu. #Write

66. Dia hubungkan makna nan kaya; fikih & tarikh; dalil & kisah; teks & konteks; fakta & sastra; penelitian ilmiah & rasa insaniyah. #Write

67. Dia menularkan jalan ilmu untuk tak henti menggali; tulisannya tak membuat orang mengangguk berdiam diri; tapi kian haus mencari. #Write

68. Ia bawakan pemaknaan penuh warna; beda bagi tiap pembaca; beda bagi pembaca sama di saat berbeda. Membaru & mengilhami selalu. #Write

69. Maka karyanya melahirkan karya; syarah & penjelasan, catatan tepi & catatan kaki, juga sisi lain pembahasan, & bahkan bantahan. #Write

70. Setelah Daya Ketuk & Daya Isi; seorang penulis kan kokoh & luas kemanfaatannya jika mampu menguasai Daya Memahamkan pada pembaca. #Write

71. Seorang penulis menggugah memulai Daya Memahamkan-nya dengan 1 pengakuan jujur; dia bukanlah yang terpandai di antara manusia. #Write

72. Sang penulis sejati juga memahami; banyak di antara pembacanya yang jauh lebih berilmu & berwawasan dibandingkan dirinya sendiri. #Write

73. Dalam hati, dia mencegah munculnya rasa lebih berilmu daripada pembacanya: “Aku tahu. Kamu tidak tahu. Maka bacalah, kuberitahu.” #Write

74. Setiap tulisan & buku yang disusun dengan sikap jiwa penulis “Aku tahu! Kamu tak tahu!” pasti berat & membuat penat saat dibaca. #Write

75. Kadang senioritas atau lebih tingginya jenjang pendidikan tak sengaja melahirkan sikap jiwa itu. Sang penulis merasa lebih tahu. #Write

76. Mungkin itu menjelaskan; mengapa beberapa textbook kuliahan tak ramah dibaca. Penulisnya Prof., pembacanya belum lama lulus SMA. #Write

77. Sikap jiwa kepenulisan harus diubah; dari “Aku tahu! Kamu tak tahu!” menjadi suatu rasa nan lebih adil, haus ilmu, & rendah hati. #Write

78. Penulis sejati ukirkan semboyan, “Hanya sedikit ini yang kutahu, kutulis ia untukmu, maka berbagilah denganku apa yang kau tahu.” #Write

79. Penulis sejati sama sekali tak berniat mengajari. Dia cuma berbagi; menunjukkan kebodohannya pada pembaca agar mereka mengoreksi. #Write

80. Penulis sejati berhasrat tuk diluruskan kebengkokannya, ditunjukkan kelirunya, diluaskan pemahamannya, dilengkapi kekurangannya. #Write

81. Penulis sejati jadikan dirinya bagai murid yang mengajukan hasil karangan pada guru; berribu pembaca menjelma dosen berjuta ilmu. #Write

82. Inilah yang jadikan tulisan akrab & lezat disantap; pertama-tama sebab penulisnya adil menilai pembaca, haus ilmu, & rendah hati. #Write

83. Pada sikap sebaliknya, kita akan menemukan tulisan yang berribu kali membuat berkerut dahi, tapi pembacanya tak kunjung memahami. #Write

84. Lebih parahnya; keinginan untuk tampil lebih pandai & tampak berilmu di mata pembaca sering membuat akal macet & jemari terhenti. #Write

85. Jika lolos tertulis; ianya jadi kegenitan intelektual; inginnya dianggap cerdas dengan banyak istilah yang justru membuat mual. #Write

86. Kesantunan Allah jadi pelajaran buat kita. RasulNya menegaskan surga itu tak terbayangkan. Tapi dalam firmanNya, Dia menjelaskan. #Write

87. Dia gambarkan surga dalam paparan yang mudah dicerna akal manusia; taman hijau, sungai mengalir, naungan rindang, buahan dekat.. #Write

88. ..duduk bertelekan di atas dipan, dipakaikan sutra halus & tebal, pelayan hilir mudik siap sedia, bidadari cantik bermata jeli.. #Write

89. Allah Maha Tahu, tak bersombong dengan ilmu; Dia kenalkan diriNya bukan sebagai Ilah awal-awal, melainkan Rabb nan lebih dikenal. #Write

90. Penulis sejati menghayati pesan Nabi; bicaralah pada kaum sesuai kadar pemahamannya, bicara dengan bahasa yang dimengerti mereka. #Write

91. Penulis sejati mengerti; dalam keterbatasan ilmu nan dimiliki, tugasnya menyederhanakan yang pelik, bukan merumitkan yang mudah. #Write

92. Itupun tidak dalam rangka mengajari; tapi berbagi. Dia haus tuk menjala umpan balik dari pembaca; kritik, koreksi, & tambah data. #Write

93. Penulis sejati juga tahu; yang paling berhak mengamalkan isi anggitannya adalah dirinya sendiri. Daya Memahamkan berhulu di sini. #Write

94. Sebab seringkali kegagalan penulis memahamkan pembaca disebabkan diapun tak memahami apa yang ditulisnya itu dalam amal nyata. #Write

95. Begitulah Daya Memahamkan; dimulai dengan sikap jiwa yang adil, haus ilmu, & rendah hati terhadap pembaca kita, lalu dikuatkan.. #Write

96. ..dengan tekad bulat tuk jadi orang pertama yang mengamalkan tulisan, & berbagi pada pembaca secara hangat, akrab, penuh cinta. #Write

97. Kali ini, tercukup sekian ya Shalih(in+at) bincang #Write. Maafkan tak melangkah ke hal teknis, sebab banyak nan lebih ahli tentangnya:)

98. Kita lalu tahu; menulis bukanlah profesi tunggal & mandiri. Ia lekat pada kesejatian hidup sang mukmin; tebar cahaya pada dunia. #Write

99. Maka menulis hanya salah satu konsekuensi sekaligus sarana bagi si mukmin tuk menguatkan iman, ‘amal shalih, & saling menasehati. #Write



Ini merupakan Kultwuit yang ditulis oleh Ustd Salim A Fillah. Mudah mudahan dapat menjadi penyemangat ketika malas menjadi Motivasi ketika kehilangan asa, menjadi penyegar ketika lesu.



1. Menulis adalah mengikat ilmu & pemahaman. Akal kita sebagai kurniaNya, begitu agung dayanya menampung sedemikian banyak data-data. #Write

2. Tapi kita kadang sulit memanggil apa nan telah tersimpan lama; ilmu dahulu itu berkeliaran & bersembunyi di jalur rumit otak kita. #Write

3. Maka menulis adalah menyusun kata kunci tuk buka khazanah akal; sekata tuk sealinea, sekalimat tuk se-bab, separagraf tuk sekitab. #Write

4. Demikianlah kita fahami kalimat indah Asy Syafi’i; ilmu adalah binatang buruan, & pena yang menuliskan adalah tali pengikatnya. #Write

5. Menulis juga jalan merekam jejak pemahaman; kita lalui usia dengan memohon ditambah ilmu & dikaruniai pengertian; adakah kemajuan? #Write

6. Itu bisa kita tahu jika kita rekam sang ilmu dalam lembaran; kita bisa melihat perkembangannya hari demi hari, bulan demi bulan. #Write

7. Jika tulisan kita 3 bulan lalu telah bisa kita tertawai; maka terbaca adanya kemajuan. Jika masih terkagum juga; itu menyedihkan. #Write

8. Lebih lanjut; menulis adalah mengujikan pemahaman kepada khalayak; yang dari berbagai sisi bisa memberi penyeksamaan & penilaian. #Write

9. Kita memang membaca buku, menyimak kajian, hadir dalam seminar & sarasehan; tapi kebenaran pemahaman kita belum tentu terjaminkan. #Write

10. Maka menulislah; agar jutaan pembaca menjadi guru yang meluruskan kebengkokan, mengingatkan keterluputan, membetulkan kekeliruan. #Write

11. Penulis hakikatnya menyapa dengan ilmu; maka ia berbalas tambahan pengertian; kian bening, kian luas, kian dalam, kian tajam. #Write

12. Agungnya lagi; sang penulis merentangkan ilmunya melampaui batas-batas waktu & ruang. Ia tak dipupus usia, tak terhalang jarak. #Write

13. Adagium Latin itu tak terlalu salah; Verba Volant, Scripta Manent. Yang terucap kan lenyap tak berjejak, yang tertulis mengabadi. #Write

14. Tapi bagi kita, makna keabadian karya bukan hanya soal masyhurnya nama; ia tentang pewarisan nilai; kemaslahatan atau kerusakan. #Write

15. Andaikan benar bahwa Il Principe yang dipersembahkan Niccolo Machiavelli pada Cesare de Borgia itu jadi kawan tidur para tiran… #Write

16. ..seperti terisyu tentang Napoleon, Hitler, & Stalin; akankah dia bertanggungjawab atas berbagai kezhaliman nan terilham bukunya? #Write

17. Sebab bukan hanya pahala yang bersifat ‘jariyah’; melainkan ada juga dosa yang terus mengalir. Menjadi penulis adalah pertaruhan. #Write

18. Mungkin tak separah Il Principe; tapi tiap kata yang mengalir dari jemari ini juga berpeluang menjadi keburukan berrantai-rantai. #Write

19. Dan bahagialah bakda pengingat; huruf bisa menjelma dzarrah kebajikan; percikan ilhamnya tak putus mencahaya sampai kiamat tiba. #Write

20. Lalu terkejutlah para penulis kebenaran, kelak ketika catatan amal diserahkan, “Ya Rabbi, bagaimana bisa pahalaku sebanyak ini?” #Write

21. Moga kelak dijawabNya, “Ya, amalmu sedikit, dosamu berbukit; tapi inilah pahala tak putus dari ilham kebajikan nan kau tebarkan.” #Write

22. Tulisan sahih & mushlih; jadi jaring yang melintas segala batas; menjerat pahala orang terilham tanpa mengurangi si bersangkutan. #Write

23. Menulis juga bagian dari tugas iman; sebab makhluq pertama ialah pena, ilmu pertama ialah bahasa, & ayat pertama berbunyi “Baca!” #Write

24. Tersebut di HR Ahmad & ditegaskan Ibn Taimiyah dalam Fatawa, “Makhluq pertama yang diciptaNya ialah pena, lalu Dia berfirman… #Write

25. ..”Tulislah!” Tanya Pena; “Apa yang kutulis, Rabbi?” Kata Allah; “Tulis segala ketentuan yang Kutakdirkan bagi semua makhluqKu.” #Write

26. Adapun ilmu yang diajarkan pada Adam & membuatnya unggul atas malaikat nan lalu bersujud adalah bahasa; kosa kata. (QS 2: 31) #Write

27. Dan “Baca!”; wahyu pertama. Bangsa Arab nan mengukur kecerdasan dari kuatnya hafalan hingga memandang rendah tulis-baca , tiba-tiba meloncat ke ufuk, jadi guru semesta. #Write

29. Muhammad hadir bukan dengan mu’jizat yang membelalakkan; dia datang dengan kata-kata yang menukik-menghunjam, disebut ‘Bacaan’. #Write

30. Maka Islam menjelma peradaban Ilmiah, dengan pena sebagai pilarnya; wawasan tertebar mengantar kemaslahatan ke seantero dunia. #Write

31. Semoga Allah berkahi tiap kata yang mengalir dari ujung jemari kita; sungguh, buku dapat menggugah jiwa manusia & mengubah dunia. #Write

32. Bagaimana sebuah tulisan bisa mengilhami; tak tersia, tak jadi tragika, & tak menjatuhkan penulisnya dalam gelimang kemalangan? #Write

33. Saya mencermati setidaknya ada 3 kekuatan yang harus dimiliki seorang penulis menggugah; Daya Ketuk, Daya Isi, & Daya Memahamkan. #Write

34. Daya Ketuk ini paling berat dibahas; yang mericau ini pun masih jauh & terus belajar. Ia masalah hati; terkait niat & keikhlasan. #Write

35. Pertama, marilah jawab ini: 1} Mengapa saya harus menulis? 2} Mengapa ia harus ditulis? 3} Mengapa harus saya yang menuliskannya? #Write

36. Seberapa kuat makna jawaban kita atas ke-3 tanya ini, menentukan seberapa besar daya tahan kita melewati aneka tantangan menulis. #Write

37. Alasan kuat tentang diri, tema, & akibat dunia-akhirat jika tak ditulis; akan menggairahkan, menggerakkan, membakar, menekunkan. #Write

38. Keterlibatan hati & jiwa dengan niat menyala itulah yang mengantarkan tulisan ke hati pembaca; mengetuk, menyentuh, menggerakkan. #Write

39. Tetapi; tak cukup hanya hati bergairah & semangat menyala saja jika yang kita kehendaki adalah keinsyafan suci di hati pembaca. #Write

40. Menulis memerlukan kata yang agung & berat itu; IKHLAS. Kemurnian. Harap & takut hanya padaNya. Cinta kebenaran di atas segala. #Write

41. Allah gambarkan keikhlasan sejati bagai susu; terancam darah & kotoran, tapi terupayakan; murni, bergizi, memberi tenaga suci… #Write

42. …dan mudah diasup, nyaman ditelan, lancar dicerna oleh peminum-peminumnya, menjadi daya untuk bertaat & bertaqwa (QS 16: 66). #Write

43. Maka menjadi penulis yang ikhlas sungguh payah & tak mudah; ada goda kotoran & darah; kekayaan & kemasyhuran, riya’ & sum’ah. #Write

44. Jika ia berhasil dilampaui; jadilah tulisan, ucapan & perbuatan sang penulis bergizi, memberi arti, mudah dicerna jadi amal suci. #Write

45. Sebaliknya; penulis tak ikhlas itu; tulisannya bagai susu dicampur kotoran & darah, racun & limbah; lalu disajikan pada pembaca. #Write

46. Ya Rabbi; ampuni bengkoknya niat di hati, ampuni bocornya syahwat itu & ini, di tiap kali kami gerakkan jemari menulis & berbagi. #Write

47. Sebab susu tak murni, tulisan tak ikhlas, memungkinkan 2 hal: a) pembaca muak, mual, & muntah bahkan saat baru mengamati awalnya. #Write

48. Atau lebih parah: b) pembaca begitu rakus melahap tulisan kita; tapi yang tumbuh di jiwanya justru penyakit-penyakit berbahaya. #Write

49. Menulis berkeikhlasan, menabur benih kemurnian; agar Allah tumbuhkan di hati pembaca pohon ketaqwaan. Itulah daya ketuk sejati. #Write

50. Daya sentuh, daya ketuk, daya sapa di hati pembaca; bukan didapat dari wudhu’ & shalat yang dilakukan semata niat menoreh kata… #Write

51. …Ia ada ketika kegiatan menghubungkan diri dengan Dzat Maha Perkasa, semuanya; bukan rekayasa, tapi telah menyatu dengan jiwa.. #Write

52. …lalu menulis itu sekedar 1 dari berbagai pancaran cahaya yang kemilau dari jiwanya; menggenapi semua keshalihan nan mengemuka. #Write

53. Setelah Daya Ketuk, penulis harus ber-Daya Isi. Mengetuk tanpa mengisi membuat pembaca ternganga, tapi lalu bingung berbuat apa. #Write

54. Daya Ketuk membuat pembaca terinsyaf & tergugah; tapi jika isi yang kemudian dilahap cacat, timpang, rusak; jadilah masalah baru. #Write

55. Daya Isi adalah soal ilmu. Mahfuzhat Arab itu sungguh benar; “Faqidusy Syai’, Laa Yu’thi: yang tak punya, takkan bisa memberi.” #Write

56. Menjadi penulis adalah menempuh jalan ilmu & berbagi; membaca ayat-ayat tertulis; menjala hikmah-hikmah tertebar. Tanpa henti. #Write

57. Ia menyimak apa yang difirmankan Tuhannya, mencermati yang memancar dari hidup RasulNya; & membawakan makna ke alam tinggalnya. #Write

58. Dia fahami ilmu tanpa mendikotomi; tapi tetap tahu di mana menempatkan yang mutlak terhadap yang nisbi; mencerahkan akal & hati. #Write

59. Penulis sejati memiliki rujukan yang kuat, tetapi bukan tukang kutip. Segala yang disajikan telah melalui proses internalisasi. #Write

60. Penulis sejati kokoh berdalil bukan hanya atas yang tampak pada teks; tapi disertai kefahaman latar belakang & kedalaman tafsir. #Write

61. Dengan proses internalisasi; semua data & telaah yang disajikan jadi matang & lezat dikunyah; pembacanya mengasup ramuan bergizi. #Write

62. Sebab konon ‘tak ada yang baru di bawah matahari’; tugas penulis sebenarnya memang cuma meramu hal-hal lama agar segar kembali. #Write

63. Atau mengungkap hal-hal yang sudah ada, tapi belum luas dikenali. Diperlukan ketekunan untuk melihat 1 masalah dari banyak sisi. #Write

64. Atau mengingatkan kembali hal-hal yang sesungguhnya telah luas difahami; agar jiwa-jiwa yang baik tergerak kuat untuk bertindak. #Write

65. Maka dia suka menghubungkan titik temu aneka ilmu, penuh pemaknaan segar & baru, dengan tetap berpegang kaidah sahih & tertentu. #Write

66. Dia hubungkan makna nan kaya; fikih & tarikh; dalil & kisah; teks & konteks; fakta & sastra; penelitian ilmiah & rasa insaniyah. #Write

67. Dia menularkan jalan ilmu untuk tak henti menggali; tulisannya tak membuat orang mengangguk berdiam diri; tapi kian haus mencari. #Write

68. Ia bawakan pemaknaan penuh warna; beda bagi tiap pembaca; beda bagi pembaca sama di saat berbeda. Membaru & mengilhami selalu. #Write

69. Maka karyanya melahirkan karya; syarah & penjelasan, catatan tepi & catatan kaki, juga sisi lain pembahasan, & bahkan bantahan. #Write

70. Setelah Daya Ketuk & Daya Isi; seorang penulis kan kokoh & luas kemanfaatannya jika mampu menguasai Daya Memahamkan pada pembaca. #Write

71. Seorang penulis menggugah memulai Daya Memahamkan-nya dengan 1 pengakuan jujur; dia bukanlah yang terpandai di antara manusia. #Write

72. Sang penulis sejati juga memahami; banyak di antara pembacanya yang jauh lebih berilmu & berwawasan dibandingkan dirinya sendiri. #Write

73. Dalam hati, dia mencegah munculnya rasa lebih berilmu daripada pembacanya: “Aku tahu. Kamu tidak tahu. Maka bacalah, kuberitahu.” #Write

74. Setiap tulisan & buku yang disusun dengan sikap jiwa penulis “Aku tahu! Kamu tak tahu!” pasti berat & membuat penat saat dibaca. #Write

75. Kadang senioritas atau lebih tingginya jenjang pendidikan tak sengaja melahirkan sikap jiwa itu. Sang penulis merasa lebih tahu. #Write

76. Mungkin itu menjelaskan; mengapa beberapa textbook kuliahan tak ramah dibaca. Penulisnya Prof., pembacanya belum lama lulus SMA. #Write

77. Sikap jiwa kepenulisan harus diubah; dari “Aku tahu! Kamu tak tahu!” menjadi suatu rasa nan lebih adil, haus ilmu, & rendah hati. #Write

78. Penulis sejati ukirkan semboyan, “Hanya sedikit ini yang kutahu, kutulis ia untukmu, maka berbagilah denganku apa yang kau tahu.” #Write

79. Penulis sejati sama sekali tak berniat mengajari. Dia cuma berbagi; menunjukkan kebodohannya pada pembaca agar mereka mengoreksi. #Write

80. Penulis sejati berhasrat tuk diluruskan kebengkokannya, ditunjukkan kelirunya, diluaskan pemahamannya, dilengkapi kekurangannya. #Write

81. Penulis sejati jadikan dirinya bagai murid yang mengajukan hasil karangan pada guru; berribu pembaca menjelma dosen berjuta ilmu. #Write

82. Inilah yang jadikan tulisan akrab & lezat disantap; pertama-tama sebab penulisnya adil menilai pembaca, haus ilmu, & rendah hati. #Write

83. Pada sikap sebaliknya, kita akan menemukan tulisan yang berribu kali membuat berkerut dahi, tapi pembacanya tak kunjung memahami. #Write

84. Lebih parahnya; keinginan untuk tampil lebih pandai & tampak berilmu di mata pembaca sering membuat akal macet & jemari terhenti. #Write

85. Jika lolos tertulis; ianya jadi kegenitan intelektual; inginnya dianggap cerdas dengan banyak istilah yang justru membuat mual. #Write

86. Kesantunan Allah jadi pelajaran buat kita. RasulNya menegaskan surga itu tak terbayangkan. Tapi dalam firmanNya, Dia menjelaskan. #Write

87. Dia gambarkan surga dalam paparan yang mudah dicerna akal manusia; taman hijau, sungai mengalir, naungan rindang, buahan dekat.. #Write

88. ..duduk bertelekan di atas dipan, dipakaikan sutra halus & tebal, pelayan hilir mudik siap sedia, bidadari cantik bermata jeli.. #Write

89. Allah Maha Tahu, tak bersombong dengan ilmu; Dia kenalkan diriNya bukan sebagai Ilah awal-awal, melainkan Rabb nan lebih dikenal. #Write

90. Penulis sejati menghayati pesan Nabi; bicaralah pada kaum sesuai kadar pemahamannya, bicara dengan bahasa yang dimengerti mereka. #Write

91. Penulis sejati mengerti; dalam keterbatasan ilmu nan dimiliki, tugasnya menyederhanakan yang pelik, bukan merumitkan yang mudah. #Write

92. Itupun tidak dalam rangka mengajari; tapi berbagi. Dia haus tuk menjala umpan balik dari pembaca; kritik, koreksi, & tambah data. #Write

93. Penulis sejati juga tahu; yang paling berhak mengamalkan isi anggitannya adalah dirinya sendiri. Daya Memahamkan berhulu di sini. #Write

94. Sebab seringkali kegagalan penulis memahamkan pembaca disebabkan diapun tak memahami apa yang ditulisnya itu dalam amal nyata. #Write

95. Begitulah Daya Memahamkan; dimulai dengan sikap jiwa yang adil, haus ilmu, & rendah hati terhadap pembaca kita, lalu dikuatkan.. #Write

96. ..dengan tekad bulat tuk jadi orang pertama yang mengamalkan tulisan, & berbagi pada pembaca secara hangat, akrab, penuh cinta. #Write

97. Kali ini, tercukup sekian ya Shalih(in+at) bincang #Write. Maafkan tak melangkah ke hal teknis, sebab banyak nan lebih ahli tentangnya:)

98. Kita lalu tahu; menulis bukanlah profesi tunggal & mandiri. Ia lekat pada kesejatian hidup sang mukmin; tebar cahaya pada dunia. #Write

99. Maka menulis hanya salah satu konsekuensi sekaligus sarana bagi si mukmin tuk menguatkan iman, ‘amal shalih, & saling menasehati. #Write

Friday, 12 October 2012


"Lu ngapain sih pulang, minggu kemaren baru aja pulang, masa minggu ini mau pulang lagi !!" ucap seorang sahabat kepada temannya.
Ya, perkuliahan di Kampus itu rata rata hanya dari Senin - Jum'at. Jadi rata rata mahasiswa yang domisili di Jabodetabek memanfaatkan sisa harinya (sabtu dan Minggu) untuk pulang ke Rumahnya.

Ya, mungkin di pikir pikir, orang/ mahasiswa yang asalnya dari Jabodetabek lebih sering pulang dari pada orang orang perantauan. Yaiyalah, mungkin pertimbangannya dari ongkos yang lebih murah atau bahasa elegantnya antara cost dan benefitnya lebih besar benefitnya, dan klo udah penempatan, takutnya agak susah untuk pulang sering sering (perkiraan Luar pulau jawa).

Mungkin, ini salah satu keunggulan yang dimiliki oleh mahasiswa yang disekitar Jakarta ya, ketika mereka bisa pulang setiap minggu. Terinspirasi dari tulisan ke Jamil Azzaini mengenai Cinta Perlu Bukti. di dalam tulisan itu di jelaskan bahwa dalam membuktikan cinta kita ada 3 hal yang harus kita penuhi :

  1. Memenuhi Keinginannya
  2. Sediakan waktu untuk mereka
  3. Kirimkan Pahala Untuk Mereka
Masih di dalam tulisan beliau, ketika kita ditanya mengenai kecintaan kita terhadap orang tua kita, misalnya ,  “Apakah Anda mencintai bapak dan ibu Anda?” Sebagian besar pasti menjawab, “Ya iyalah!” Tapi jika kemudian kita ditanya, “Apa buktinya bahwa Anda mencitai mereka?” Apa kira-kira jawaban kita? Berhentilah sejenak, renungkanlah apa bukti-bukti yang sudah kita lakukan sebagai perwujudan cinta Anda kepada orang tua.

Ya, pertanyaan diatas bisa kita jawab dengan 3 point diatas. yang pertama memenuhi keinginannya. tentunya keinginan disini tidak bertentangan dengan aturan Agama yah. nah yang ini masih bisa kita kita penuhi tanpa harus bertatap muka langsung dengan mereka.

Kemudian yang kedua, yaitu sediakan waktu untuk mereka. Bagaimana mungkin kita bisa sediakan waktu untuk mereka, jika kita tidak bertemu langsung ?  Iya, kita tahu mungkin dengan telepon juga bisa, tetapi itu berbeda antara bertemu langsung dengan telepon. Saya rasa kita sepakat semua dalam hal ini. Luangkanlah waktu kita untuk mereka sesibuk apapun kita. INGATLAH saat kita kecil, kita akan senang bila orang tua menemani kita. Saat kita sudah besar, orang tua sangat senang bila kita bisa sering menemani mereka. Saat mereka sakit, kehadiran kita sangatlah dirindukan. Sungguh terlalu bila orang tua sakit, kita tidak menyediakan waktu untuk menemaninya.

dan yang point yang ketiga, kirimlah Pahala untuk mereka. kita harus yakin bahwa setiap kebaikan dan amal sholeh yang kita lakukan, pahalanya juga akan mengalir kepada orang tua kita. karena merekalah yang mengajarkan kebaikan kepada kita. Sibukan diri kita dengan kebaikan. Ingatlah wajah mereka ketika kita akan melakukan maksiat, yang semoga dengannya kita akan mengurungkan maksiat itu karena teringat orang tua kita yang akan bersedih dengan apa yang kita lakukan.

Statement terakhir yang di tulis oleh kek Jamil Azzaini ini memberikan peringatan, bahwa :

Sadarilah, kita pasti tidak bisa membalas kebaikan orang tua. Walau seluruh ucapan terima kasih di dunia dijadikan satu kemudian dipersembahkan bagi mereka, itu amatlah sedikit dibandingkan dengan kasih sayang mereka. Lakukan tiga hal di atas, agar setidaknya kita tidak menyadang predikat anak durhaka.

Ya, Selagi kita dekat dengan orang tua kita, selagi belum dikirim ke penjuru Indonesia, sebelum merantau ke Daerah antah berantah, tidak ada salahnya untuk sering sering membersamai mereka.

untuk mereka yang selalu mendukung kita, kita katakan : kita mencintai dan menyayangi mereka (Ayah dan Ibu) karena Allah.


"Lu ngapain sih pulang, minggu kemaren baru aja pulang, masa minggu ini mau pulang lagi !!" ucap seorang sahabat kepada temannya.
Ya, perkuliahan di Kampus itu rata rata hanya dari Senin - Jum'at. Jadi rata rata mahasiswa yang domisili di Jabodetabek memanfaatkan sisa harinya (sabtu dan Minggu) untuk pulang ke Rumahnya.

Ya, mungkin di pikir pikir, orang/ mahasiswa yang asalnya dari Jabodetabek lebih sering pulang dari pada orang orang perantauan. Yaiyalah, mungkin pertimbangannya dari ongkos yang lebih murah atau bahasa elegantnya antara cost dan benefitnya lebih besar benefitnya, dan klo udah penempatan, takutnya agak susah untuk pulang sering sering (perkiraan Luar pulau jawa).

Mungkin, ini salah satu keunggulan yang dimiliki oleh mahasiswa yang disekitar Jakarta ya, ketika mereka bisa pulang setiap minggu. Terinspirasi dari tulisan ke Jamil Azzaini mengenai Cinta Perlu Bukti. di dalam tulisan itu di jelaskan bahwa dalam membuktikan cinta kita ada 3 hal yang harus kita penuhi :

  1. Memenuhi Keinginannya
  2. Sediakan waktu untuk mereka
  3. Kirimkan Pahala Untuk Mereka
Masih di dalam tulisan beliau, ketika kita ditanya mengenai kecintaan kita terhadap orang tua kita, misalnya ,  “Apakah Anda mencintai bapak dan ibu Anda?” Sebagian besar pasti menjawab, “Ya iyalah!” Tapi jika kemudian kita ditanya, “Apa buktinya bahwa Anda mencitai mereka?” Apa kira-kira jawaban kita? Berhentilah sejenak, renungkanlah apa bukti-bukti yang sudah kita lakukan sebagai perwujudan cinta Anda kepada orang tua.

Ya, pertanyaan diatas bisa kita jawab dengan 3 point diatas. yang pertama memenuhi keinginannya. tentunya keinginan disini tidak bertentangan dengan aturan Agama yah. nah yang ini masih bisa kita kita penuhi tanpa harus bertatap muka langsung dengan mereka.

Kemudian yang kedua, yaitu sediakan waktu untuk mereka. Bagaimana mungkin kita bisa sediakan waktu untuk mereka, jika kita tidak bertemu langsung ?  Iya, kita tahu mungkin dengan telepon juga bisa, tetapi itu berbeda antara bertemu langsung dengan telepon. Saya rasa kita sepakat semua dalam hal ini. Luangkanlah waktu kita untuk mereka sesibuk apapun kita. INGATLAH saat kita kecil, kita akan senang bila orang tua menemani kita. Saat kita sudah besar, orang tua sangat senang bila kita bisa sering menemani mereka. Saat mereka sakit, kehadiran kita sangatlah dirindukan. Sungguh terlalu bila orang tua sakit, kita tidak menyediakan waktu untuk menemaninya.

dan yang point yang ketiga, kirimlah Pahala untuk mereka. kita harus yakin bahwa setiap kebaikan dan amal sholeh yang kita lakukan, pahalanya juga akan mengalir kepada orang tua kita. karena merekalah yang mengajarkan kebaikan kepada kita. Sibukan diri kita dengan kebaikan. Ingatlah wajah mereka ketika kita akan melakukan maksiat, yang semoga dengannya kita akan mengurungkan maksiat itu karena teringat orang tua kita yang akan bersedih dengan apa yang kita lakukan.

Statement terakhir yang di tulis oleh kek Jamil Azzaini ini memberikan peringatan, bahwa :

Sadarilah, kita pasti tidak bisa membalas kebaikan orang tua. Walau seluruh ucapan terima kasih di dunia dijadikan satu kemudian dipersembahkan bagi mereka, itu amatlah sedikit dibandingkan dengan kasih sayang mereka. Lakukan tiga hal di atas, agar setidaknya kita tidak menyadang predikat anak durhaka.

Ya, Selagi kita dekat dengan orang tua kita, selagi belum dikirim ke penjuru Indonesia, sebelum merantau ke Daerah antah berantah, tidak ada salahnya untuk sering sering membersamai mereka.

untuk mereka yang selalu mendukung kita, kita katakan : kita mencintai dan menyayangi mereka (Ayah dan Ibu) karena Allah.