Friday, 9 December 2011

Shalat Jenazah (Tatacara dan Do'a)

,
Shalat jenazah merupakan hal yang fardhu kifayah, jika sudah ada sekelompok kaum muslimin yang menyalatinya maka sudah gugur kewajiban dari yang lainnya. 

Shalat jenazah hanya berupa takbir dalam keadaan berdiri, tanpa ruku’ dan sujud. 

Mengenai jumlah takbir pada shalat jenazah, ada beberapa riwayat yang berbeda. Hadits Zaid di atas, menunjukkan bolehnya bertakbir sebanyak 5 kali walaupun kebanyakannya adalah 4 kali.  

Takbir pertama : Membaca Al Fatihah
Takbir kedua  : Membaca Sholawat (seperti dalam Sholat kita)
Takbir ketiga : membaca do'a (do'anya ada dibawah )
Takbir ke empat : disini ada perbedaan pendapat (ada yang membaca doa, ada juga yang tidak)

 Dari Abdurrahman bin Abi Laila rahimahullah dia berkata:

كَانَ زَيْدٌ يُكَبِّرُ عَلَى جَنَائِزِنَا أَرْبَعًا وَإِنَّهُ كَبَّرَ عَلَى جَنَازَةٍ خَمْسًا فَسَأَلْتُهُ فَقَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكَبِّرُهَا

 
“Zaid (bin Tsabit radhiallahu anhu) biasa bertakbir empat kali ketika (menyalati) jenazah kami. Namun suatu ketika ia bertakbir sebanyak lima kali. Maka saya pun bertanya tentangnya dan ia menjawab, “Sebanyak itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bertakbir.” (HR. Muslim no. 957)

Imam berdiri menghadap ke bagian tengah tubuh jenazah jika jenazahnya wanita, dan ini berlaku umum pada setiap wanita walaupun dia meninggal dalam keadaan nifas. Adapun jika jenazahnya lelaki maka imam menghadap ke bagian kepalanya, sebagaimana dalam hadits Anas bin Malik radhiallahu anhu riwayat At-Tirmizi no. 1034 dan selainnya, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Ahkam Al-Jana`iz hal. 109

Disunnahkan bagi keluarga mayit untuk tidak menyelenggarakan shalat jenazah kecuali setelah orang yang akan menyalatinya telah mencapai jumlah 40 orang bahkan kalau memungkinkan sampai 100 orang, berdasarkan keutamaan yang terdapat dalam hadits Ibnu Abbas dan Aisyah radhiallahu anhuma. Kecuali jika menunggu jamaah mengharuskan jenazah lambat dikuburkan dengan keterlambatan yang sangat, maka disunnahkan untuk segera menyalatinya berdasarkan perintah Nabi shallallahu alaihi wasallam untuk menyegerakan penyelenggaraan jenazah.
Kemudian, keutamaan dalam kedua hadits tersebut akan didapatkan oleh si mayit dengan syarat ke-40 orang yang menyalatinya itu adalah orang yang bertauhid kepada Allah dan tidak berbuat kesyirikan.

Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma bahwa anaknya telah meninggal di kawasan Qudaid atau ‘Asfan. Maka ia pun berkata, “Wahai Kuraib (budak beliau), lihatlah berapa orang yang telah berkumpul untuk menyalatkannya.” Kuraib berkata, “Maka aku pun keluar, ternyata orang-orang telah berkumpul untuknya. Lalu aku memberitahukannya kepada Ibnu Abbas.” Dia bertanya, “Apakah jumlah mereka telah mencapai empat puluh orang?” Kuraib menjawab, “Ya.” Kemudian Ibnu Abbas berkata, “Keluarkanlah mayatnya, karena aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


مَا مِنْ رَجُلٍ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيَقُومُ عَلَى جَنَازَتِهِ أَرْبَعُونَ رَجُلًا لَا يُشْرِكُونَ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلَّا شَفَّعَهُمْ اللَّهُ فِيهِ
 
 
‘Tidaklah seorang muslim meninggal dunia, dan dishalatkan oleh empat puluh orang, yang mana mereka semua ini tidak menyekutukan Allah, niscaya Allah akan memberikan syafaat mereka kepadnya.” (HR. Muslim no. 948)

Dari Aisyah radhiallahu anha dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:

مَا مِنْ مَيِّتٍ تُصَلِّي عَلَيْهِ أُمَّةٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ يَبْلُغُونَ مِائَةً كُلُّهُمْ يَشْفَعُونَ لَهُ إِلَّا شُفِّعُوا فِيهِ
 
 
“Tidak ada satupun mayat yang dishalatkan oleh kaum muslimin dengan jumlah mencapai seratus orang, dan semuanya mendo’akannya, kecuali do’a mereka untuknya akan dikabulkan.” (HR. Muslim no. 947)

Auf bin Malik radhiallahu anhu berkata:


صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى جَنَازَةٍ فَحَفِظْتُ مِنْ دُعَائِهِ وَهُوَ يَقُولُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّهِ مِنْ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنْ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ أَوْ مِنْ عَذَابِ النَّارِ قَالَ حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنْ أَكُونَ أَنَا ذَلِكَ الْمَيِّتَ
 
“Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menshalatkan jenazah, dan saya hafal do’a yang beliau ucapkan: “ALLAHUMMAGHFIR LAHU, WARHAMHU, WA ‘AAFIHI, WA’FU ‘ANHU. WA AKRIM NUZULAHU, WA WASSI’ MUDKHALAHU. WAGHSILHU BILMAA`I WATS TSALJI WAL BARADI, WA NAQQIHI MINAL KHATHAAYAA KAMAA NAQQAITATS TSAUBAL ABYADHA MINAD DANASI. WA ABDILHU DAARAN KHAIRAN MIN DAARIHI, WA AHLAN KHAIRAN MIN AHLIHI, WA ZAUJAN KHAIRAN MIN ZAUJIHI. WA ADKHILHUL JANNATA, WA A’IDZHU MIN ‘ADZAABIL QABRI, AU MIN ‘ADZAABIN NAAR. (Ya Allah, ampunilah dosa-dosanya, kasihanilah ia, lindungilah ia, dan maafkanlah ia. Muliakanlah tempat kembalinya, lapangkan kuburnya. Bersihkanlah ia dengan air, salju, dan air yang sejuk, dan bersihkanlah ia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau telah membersihkan pakaian putih dari kotoran. Gantilah rumahnya -di dunia- dengan rumah yang lebih baik -di akhirat- serta gantilah keluarganya -di dunia- dengan keluarga yang lebih baik, dan istri di dunia dengan istri yang lebih baik. Masukkanlah ia ke dalam surga-Mu dan lindungilah ia dari siksa kubur atau siksa api neraka).” Hingga saya (Auf) berangan-angan seandainya saya saja yang menjadi mayit itu.” (HR. Muslim no. 963)


Sahl bin Hunaif radhiallahu anhu dimana beliau berkata:

السنة في الصلاة على الجنازة أن يكبر ثم يقرأ بأم القرآن ثم يصلي على النبي صلى الله عليه وسلم ثم يخلص الدعاء للميت ولا يقرأ إلا في الأولى
 
 
“Yang menjadi sunnah dalam shalat jenazah adalah bertakbir (yang pertama) lalu membaca Al-Fatihah, kemudian (pada takbir kedua) bershalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, kemudian (pada takbir ketiga) mendoakan jenazah. Tidak boleh membaca Al-Qur`an kecuali pada takbir yang pertama.” (HR. Al-Hakim: 1/360, Al-Baihaqi: 4/39, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Ahkam Al-Jana`iz hal. 121)

Sementara pada takbir yang keempat tidak disyariatkan untuk membaca apa-apa karena tidak adanya dalil yang shahih dalam permasalahan. Jadi, setelah takbir yang keempat langsung salam.

Maka hadits Abu Umamah di atas merinci dua hadits (hadits Ibnu Abbas dan Anas) yang kami bawakan di atas. Yaitu bahwa Al-Fatihah dibaca pada takbir pertama dan doa kepada jenazah dibaca pada takbir yang ketiga. Adapun lafazh shalawat pada takbir yang kedua, maka disyariatkan untuk membaca shalawat yang biasa dibaca di dalam shalat. Wallahu a’lam.

http://al-atsariyyah.com/kaifiat-shalat-jenazah.html
http://al-atsariyyah.com/bacaan-dalam-shalat-jenazah.html

Read More..

Thursday, 8 December 2011

Types of Foods that Can Increase the Concentration

,
Kawan, begitu banyak orang sulit berkonsentrasi pada momen-momen penting, misalnya saat rapat ataupun belajar. Bila Anda termasuk orang yang sulit berkonsentrasi, cobalah makan makanan yang tinggi protein dan mengandung nutrisi tertentu dapat membantu Anda berkonsentrasi untuk waktu yang cukup lama. Apa saja makanan tersebut? Ehow dan Divavillage, melansir nutrisi yang dapat meningkatkan konsentrasi dan meningkatkan produktivitas.




1. Roti gandum

Orang yang makan sarapan roti gandum dapat berkonsentrasi, waspada dan juga memiliki kemampuan memecahkan masalah dengan lebih baik.Produk gandum utuh seperti sereal, kerupuk gandum atau roti gandum merupakan sumber utama karbohidrat yang sehat dan meningkatkan konsentrasi di pagi dan siang hari.

2. Ubi jalar

Ubi jalar mengandung karbohidrat yang sehat tanpa menyebabkan lonjakan gula. Aliran energi ini dapat membantu Anda konsentrasi atau fokus dan menjaga kadar energi.

3. Bayam


Sayuran hijau ini kaya akan antioksidan, mineral dan zat besi. Anda bisa makan bayam dengan mencampurnya ke dalam omelet atau sandwich di pagi hari dan menjadikannya sayur bening pada waktu makan siang atau malam hari.

4. Telur

Kandungan kolin dan nutrisi lain yang terkandung di dalam telur dapat meningkatkan fungsi otak. Makan telur secara teratur juga dapat melindungi otak dari penyakit degeneratif.

5. Ikan tuna dan salmon

Lemak ikan merupakan sumber asam lemak omega-3 dan memainkan peran penting dalam fungsi kognitif. Makan makanan tinggi omega-3 akan membuat Anda tetap fokus dan melindungi otak melawan penyakit degeneratif seperti Alzheimer.

6. Kacang merah

Vitamin B thiamin pada kacang merah dapat mengurangi gejala depresi, gangguan suasana hati dan juga mempertahankan fungsi kognitif yang prima. Tambahkan kacang merah sebagai salad di sore hari untuk memuat nutrisi dan serat di sore yang produktif. Anda juga dapat menikmati kacang merah untuk makan malam untuk meningkatkan kerja otak esok hari.

Selamat mencoba, kawan.
http://feel-healthy.blogspot.com/2011/12/types-of-foods-that-can-increase.html


Read More..

Wednesday, 7 December 2011

Bulan Muharram , "Kuetamaan, Mitos dan Bid'ah"

,
اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلاةُ وَالسَّلامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ إمَامِ المتقينَ وقائدِ المجاهدينَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ {أما بعد

dakwatuna.com - Alhamdulillah, kita memasuki bulan Muharram 1433 H, yang berarti mengawali tahun baru 1433 H dan meninggalkan tahun 1432 H. Kita bersyukur kepada Allah Ta’ala atas kesempatan hidup yang masih diberikan kepada kita. Semoga kita dapat melaksanakan risalah ibadah secara ikhlas dan benar. Dan semoga kita serta seluruh umat Islam di tahun ini lebih baik dari tahun yang lalu dan tahun yang akan datang akan lebih baik lagi dari tahun ini.

Keutamaan Bulan Muharram

Bulan Muharram adalah salah satu dari empat bulan haram atau bulan yang dimuliakan Allah. Empat bulan tersebut adalah, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

“Sesungguhnya jumlah bulan di Kitabullah (Al Quran) itu ada dua belas bulan sejak Allah menciptakan langit dan bumi, empat di antaranya adalah bulan-bulan haram” (QS. At Taubah: 36)

Kata Muharram artinya ‘dilarang’. Sebelum datangnya ajaran Islam, bulan Muharram sudah dikenal sebagai bulan suci dan dimuliakan oleh masyarakat Jahiliyah. Pada bulan ini dilarang untuk melakukan hal-hal seperti peperangan dan bentuk persengketaan lainnya. Kemudian ketika Islam datang kemuliaan bulan haram ditetapkan dan dipertahankan sementara tradisi jahiliyah yang lain dihapuskan termasuk kesepakatan tidak berperang.

Bulan Muharram memiliki banyak keutamaan, sehingga bulan ini disebut bulan Allah (syahrullah). Beribadah pada bulan haram pahalanya dilipatgandakan dan bermaksiat di bulan ini dosanya dilipatgandakan pula. Pada bulan ini tepatnya pada tanggal 10 Muharram Allah menyelamatkan nabi Musa as dan Bani Israil dari kejaran Firaun. Mereka memuliakannya dengan berpuasa. Kemudian Rasulullah saw. menetapkan puasa pada tanggal 10 Muharram sebagai kesyukuran atas pertolongan Allah. Masyarakat Jahiliyah sebelumnya juga berpuasa. Puasa 10 Muharram tadinya hukumnya wajib, kemudian berubah menjadi sunnah setelah turun kewajiban puasa Ramadhan. Rasulullah saw. bersabda:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ وَجَدَهُمْ يَصُومُونَ يَوْمًا يَعْنِي عَاشُورَاءَ فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ وَهُوَ يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَأَغْرَقَ آلَ فِرْعَوْنَ فَصَامَ مُوسَى شُكْرًا لِلَّهِ فَقَالَ أَنَا أَوْلَى بِمُوسَى مِنْهُمْ فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

Dari Ibnu Abbas RA, bahwa nabi saw. ketika datang ke Madinah, mendapatkan orang Yahudi berpuasa satu hari, yaitu ‘Asyuraa (10 Muharram). Mereka berkata, “ Ini adalah hari yang agung yaitu hari Allah menyelamatkan Musa dan menenggelamkan keluarga Firaun. Maka Nabi Musa as berpuasa sebagai bukti syukur kepada Allah. Rasul saw. berkata, “Saya lebih berhak mengikuti Musa as. dari mereka.” Maka beliau berpuasa dan memerintahkan (umatnya) untuk berpuasa” (HR Bukhari).


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ  الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ


Dari Abu Hurairah RA. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baiknya puasa setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah Muharram. Dan sebaik-baiknya ibadah setelah ibadah wajib adalah shalat malam.” (HR Muslim)

Walaupun ada kesamaan dalam ibadah, khususnya berpuasa, tetapi Rasulullah saw. memerintahkan pada umatnya agar berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Yahudi, apalagi oleh orang-orang musyrik. Oleh karena itu beberapa hadits menyarankan agar puasa hari ‘Asyura diikuti oleh puasa satu hari sebelum atau sesudah puasa hari ‘Asyura.

Secara umum, puasa Muharram dapat dilakukan dengan beberapa pilihan. Pertama, berpuasa tiga hari, sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya, yaitu puasa tanggal 9, 10 dan 11 Muharram. Kedua, berpuasa pada hari itu dan satu hari sesudah atau sebelumnya, yaitu puasa tanggal: 9 dan 10, atau 10 dan 11. Ketiga, puasa pada tanggal 10 saja, hal ini karena ketika Rasulullah memerintahkan untuk puasa pada hari ‘Asyura para sahabat berkata: “Itu adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani, beliau bersabda: “Jika datang tahun depan insya Allah kita akan berpuasa hari kesembilan, akan tetapi beliau meninggal pada tahun tersebut.” (HR. Muslim).

Landasan puasa tanggal 11 Muharram didasarkan pada keumuman dalil keutamaan berpuasa pada bulan Muharram. Di samping itu sebagai bentuk kehati-hatian jika terjadi kesalahan dalam penghitungan awal Muharram.

Selain berpuasa, umat Islam disarankan untuk banyak bersedekah dan menyediakan lebih banyak makanan untuk keluarganya pada 10 Muharram. Tradisi ini memang tidak disebutkan dalam hadits, namun ulama seperti Baihaqi dan Ibnu Hibban menyatakan bahwa hal itu baik untuk dilakukan.

Demikian juga sebagian umat Islam menjadikan bulan Muharram sebagai bulan anak yatim. Menyantuni dan memelihara anak yatim adalah sesuatu yang sangat mulia dan dapat dilakukan kapan saja. Dan tidak ada landasan yang kuat mengaitkan menyayangi dan menyantuni anak yatim hanya pada bulan Muharram.

Bulan Muharram adalah bulan pertama dalam sistem kalender Islam. Oleh karena itu salah satu momentum yang sangat penting bagi umat Islam yaitu menjadikan pergantian tahun baru Islam sebagai sarana umat Islam untuk muhasabah terhadap langkah-langkah yang telah dilakukan dan rencana ke depan yang lebih baik lagi. Momentum perubahan dan perbaikan menuju kebangkitan Islam sesuai dengan jiwa hijrah Rasulullah saw. dan sahabatnya dari Mekah dan Madinah.

Legenda Dan Mitos Muharram

Di samping keutamaan bulan Muharram yang sumbernya sangat jelas, baik disebutkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah, tetapi banyak juga legenda dan mitos yang terjadi di kalangan umat Islam menyangkut hari ‘Asyura.

Beberapa hal yang masih menjadi keyakinan di kalangan umat Islam adalah legenda bahwa pada hari ‘Asyura Nabi Adam diciptakan, Nabi Nuh as di selamatkan dari banjir besar, Nabi Ibrahim dilahirkan dan Allah Swt menerima taubatnya. Pada hari ‘Asyura Kiamat akan terjadi dan siapa yang mandi pada hari ‘Asyura diyakini tidak akan mudah terkena penyakit. Semua legenda itu sama sekali tidak ada dasarnya dalam Islam. Begitu juga dengan keyakinan bahwa disunnahkan bagi mereka untuk menyiapkan makanan khusus untuk hari ‘Asyura.

Sejumlah umat Islam mengaitkan kesucian hari ‘Asyura dengan kematian cucu Nabi Muhammad Saw, Husain saat berperang melawan tentara Suriah. Kematian Husain memang salah satu peristiwa tragis dalam sejarah Islam. Namun kesucian hari ‘Asyura tidak bisa dikaitkan dengan peristiwa ini dengan alasan yang sederhana bahwa kesucian hari ‘Asyura sudah ditegakkan sejak zaman Nabi Muhammad Saw jauh sebelum kelahiran Sayidina Husain. Sebaliknya, adalah kemuliaan bagi Husain yang kematiannya dalam pertempuran itu bersamaan dengan hari ‘Asyura.

Bid’ah Di Bulan Muharram

Selain legenda dan mitos yang dikait-kaitkan dengan Muharram, masih sangat banyak bid’ah yang jauh dari ajaran Islam. Lebih tepat lagi bahwa bid’ah tersebut merupakan warisan ajaran Hindu dan Budha yang sudah menjadi tradisi masyarakat Jawa yang mengaku dirinya sebagai penganut aliran kepercayaan. Mereka lebih dikenal dengan sebutan Kejawen.

Dari segi sistem penanggalan, memang penanggalan dengan sistem peredaran bulan bukan hanya dipakai oleh umat Islam, tetapi masyarakat Jawa juga menggunakan penanggalan dengan sistem itu. Dan awal bulannya dinamakan Suro. Pada hari Jum’at malam Sabtu, 1 Muharram 1428 H bertepatan dengan 1 Suro 1940. Sebenarnya penamaan bulan Suro, diambil dari ’Asyura yang berarti 10 Muharram. Kemudian sebutan ini menjadi nama bulan pertama bagi penanggalan Jawa.

Beberapa tradisi dan keyakinan yang dilakukan sebagian masyarakat Jawa sudah sangat jelas bid’ah dan syiriknya, seperti Suro diyakini sebagai bulan yang keramat, gawat dan penuh bala. Maka diadakanlah upacara ruwatan dengan mengirim sesajen atau tumbal ke laut. Sebagian yang lain dengan cara bersemedi mensucikan diri bertapa di tempat-tempat sakral (di puncak gunung, tepi laut, makam, gua, pohon tua, dan sebagainya) dan ada juga yang melakukan dengan cara lek-lekan ‘berjaga hingga pagi hari’ di tempat-tempat umum (tugu Yogya, Pantai Parangkusumo, dan sebagainya). Sebagian masyarakat Jawa lainnya juga melakukan cara sendiri yaitu mengelilingi benteng keraton sambil membisu.

Tradisi tidak mengadakan pernikahan, khitanan dan membangun rumah. Masyarakat berkeyakinan apabila melangsungkan acara itu maka akan membawa sial dan malapetaka bagi diri mereka.

Melakukan ritual ibadah tertentu di malam Suro, seperti selamatan atau syukuran, Shalat Asyuro, membaca Doa Asyuro (dengan keyakinan tidak akan mati pada tahun tersebut) dan ibadah-ibadah lainnya. Semua ibadah tersebut merupakan bid’ah (hal baru dalam agama) dan tidak pernah ada contohnya dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam maupun para sahabatnya. Hadist-hadits yang menerangkan tentang Shalat Asyuro adalah palsu sebagaimana disebutkan oleh imam Suyuthi dalam kitab al-La’ali al-Masnu’ah.

Tradisi Ngalap Berkah dilakukan dengan mengunjungi daerah keramat atau melakukan ritual-ritual, seperti mandi di grojogan (dengan harapan dapat membuat awet muda), melakukan kirab kerbau bule (kiyai slamet) di keraton Kasunan Solo, thowaf di tempat-tempat keramat, memandikan benda-benda pusaka, begadang semalam suntuk dan lain-lainnya. Ini semuanya merupakan kesalahan, sebab suatu hal boleh dipercaya mempunyai berkah dan manfaat jika dilandasi oleh dalil syar’i (Al Qur’an dan hadits) atau ada bukti bukti ilmiah yang menunjukkannya. Semoga Allah Ta’ala menghindarkan kita dari kesyirikan dan kebid’ahan yang membinasakan.

Menyikapi berbagai macam tradisi, ritual, dan amalan yang jauh dari ajaran Islam, bahkan cenderung mengarah pada bid’ah, takhayul dan syirik, maka marilah kita bertobat kepada Allah dan melaksanakan amalan-amalan sunnah di bulan Muharram seperti puasa. Rasulullah saw. menjelaskan bahwa puasa pada hari ‘Asyura menghapuskan dosa-dosa setahun yang telah berlalu.

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَن صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

Dari Abu Qatadah RA. Rasulullah ditanya tentang puasa hari ‘asyura, beliau bersabda: “Saya berharap ia bisa menghapuskan dosa-dosa satu tahun yang telah lewat.” (HR. Muslim).

Demikian bayan dari Pusat Konsultasi Syariah Indonesia tentang keutamaan bulan Muharram, sebagai panduan umat Islam untuk mengisi bulan Muharram. Wallahu ’alam bishawwab.

(SCC/Iman Santoso/hdn)

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/12/17012/bulan-muharram-keutamaan-legenda-mitos-dan-bidah-di-dalamnya/#ixzz1fpjxz7n3


Read More..

Kisah Taubat dan Kejujuran Ka’ab bin Malik radiallahu anhu

,
Ka’ab bin Malik radiallahu anhu adalah salah seorang sahabat Nabi yang mendapat anugerah Allah berupa kepiawaian dalam bersyair dan berjidal. Syair-syairnya banyak bertemakan peperangan. Kemampuan sebagai penyair ini, mengantarkannya menduduki posisi khusus di sisi Nabi, selain dua sahabat yang lain, yaitu Hassan bin Tsabit dan Abdullah bin Rawahah. Ka’ab bin Malik termasuk pemuka sahabat dari kalangan Anshar yang berasal dari suku Khazraj. Nama lengkapnya ialah ‘Amr bin Al Qain bin Ka’ab bin Sawaad bin Ghanm bin Ka’ab bin Salamah. Pada masa jahiliyah, ia dikenal dengan kunyahnya (panggilan) Abu Basyir.

Kisah kejujuran Ka’ab bin Malik ini, berawal saat Rasulullah telah mengambil keputusan untuk menyerang Romawi. Beliau memobilisasi para sahabat untuk tujuan itu. Kaum rnuslimin segera melakukan persiapan dan berlomba-lomba menginfakkan harta yang mereka miliki.

Di tengah kesibukan kaum muslimin melakukan persiapan, ada seorang sahabat yang belum memulainya. la bernama Ka’ab bin Malik. Kali ini, Allah hendak mengujinya dengan perang Tabuk.

Pada masa tuanya, Ka’ab bin Malik menuturkan kisahnya kepada putranya : "Aku tidak pernah absen dalam satu peperangan pun bersama Rasulullah kecuali dalam perang Tabuk dan perang Badr. Tatkala Rasulullah berangkat bersama pasukan, aku masih terlambat dan belum sempat melakukan persiapan. Batinku berharap, aku bisa menyusul mereka. Namun akhirnya, langkahku benar- benar terhambat.

Kesedihanku bertambah, ketika aku tahu bahwa orang-orang yang tidak bergabung dalam jihad itu hanya orang-orang yang tertuduh munafik atau kaum yang lemah fisiknya".

Saat Rasulullah tiba di Tabuk, Beliau bertanya: "Apa yang terjadi dengan Ka’ab?"

Seorang laki-laki dari kaumku dengan kiasan menjawab,"Baju kesayangannya telah menahannya". Namun Mu’adz menangkisnya,"Sungguh buruk perkataanmu. Demi Allah, kami tidak mengetahui tentang dirinya kecuali baik saja". Rasulullah terdiam.

Ketika Rasulullah, kembali dari peperangan, orang-orang yang absen segera menemui Beliau, untuk menyampaikan alasan-alasan mereka. Jumlah mereka delapan puluh orang lebih. Rasulullah pun menerima alasan-alasan mereka dan memohonkan ampun bagi mereka.

Sempat terbesit dalam benakku untuk mengajukan alasan dusta kepada Beliau, agar aku selamat dari kemarahan Beliau. Namun kuurungkan niatku dan kubulatkan tekad untuk berkata jujur kepada Beliau.

Aku mengucapkan salam kepada Beliau, Beliau tersenyum kecut kepadaku.

Beliau berkata,"Kemarilah!"
Aku pun mendekat dan duduk di hadapan Beliau. Beliau bertanya kepadaku,"Apa yang menahanmu? Bukankah engkau telah mempertaruhkan punggungmu?"

Aku menjawab,"Benar, wahai Rasulullah. Demi Allah, seandainya saat ini aku duduk di hadapan orang selain engkau, tentu aku sampaikan segala argumentasi yang dapat menyelamatkanku dari kemarahan, lantaran aku ahli berjidal (pandai bicara). Namun aku sungguh mengetahui, seandainya hari ini aku berdusta supaya engkau memaklumiku, niscaya Allah yang akan memberitahukan kepada engkau. Aku mengatakan alasan yang sebenarnya dengan jujur kepadamu. Dan sungguh, aku berharap ampunan Allah dengan kejujuranku. Demi Allah, aku sama sekali tidak memiliki alasan saat aku berdiam di rumah dan tidak ikut serta perang bersamamu."

Beliau berkata,”Laki-laki ini telah berkata jujur. Berdirilah sampai Allah memutuskan perkaramu," aku pun berdiri dan meninggalkan Beliau.

Sekelompok laki-laki dari Bani Salimah mengejarku seraya berkata,"Demi Allah, kami tidak mengetahui engkau melakukan dosa sebelum ini. Mengapa engkau tidak beralasan seperti yang dilakukan orang-orang itu? Sungguh, permohonan ampun Rasulullah untukmu akan menghapus dosamu."

Mereka terus membujukku hingga aku berpikir untuk kembali kepada Rasulullah dan berdusta kepada Beliau. Aku bertanya kepada mereka,”Adakah orang yang mengalami hal yang sama sepertiku?"

Mereka menjawab,"Ada! Dua orang laki-laki yang mengatakan alasan seperti alasanmu. Dan Rasulullah mengatakan perkataan yang sama kepada mereka, seperti yang Beliau katakan kepadamu."

Aku bertanya,"Siapa mereka?" Mereka menjawab,”Murarah bin Ar Rabi’ Al ‘Amri dan Hilal bin Umayyah Al Waqifi."

Mereka adalah dua orang sahabat yang ikut dalam perang Badr dan pada diri mereka terdapat suri tauladan. Aku pun berlalu meninggalkan mereka.

Sejak saat itu, Rasulullah melarang para sahabat berbicara dengan kami, tiga orang yang tidak ikut dalam perang Tabuk. Dua sahabatku, mereka tak tahan menghadapi hajr (isolasi) yang dilakukan kaum muslimin terhadap kami. Mereka mengurung diri dalam rumah dan tak pernah berhenti menangis. Sedangkan aku adalah orang yang termuda dan terkuat di antara mereka. Kukuatkan hatiku untuk menemui orang-orang, berharap akan ada seseorang yang menyapaku. Namun tak ada seorang pun yang mau berbicara denganku.

Ketika aku memasuki masjid, kuucapkan salam kepada Rasulullah. "Apakah Beliau akan menggerakkan bibirnya untuk menjawab salamku?" tanya hatiku.

Aku pun shalat dan mengambil posisi terdekat dengan Beliau. Aku mencuri-curi pandang kepada Beliau. Ketika aku fokuskan pandangan pada shalatku, Beliau memandangku. Dan bila aku meliriknya, Beliau memalingkan wajahnya dariku.

Keadaan itu terus berlanjut hingga beban itu kian berat kurasakan. Aku pun menemui Abu Qatadah, sepupuku dan orang yang sangat kucintai. Aku memanjat dinding rumahnya dan kuucapkan salam padanya. Namun dia tidak menjawab salamku. Aku berkata memelas padanya, "Wahai, Abu Qatadah! Demi Allah, bukankah engkau mengetahui bahwa aku mencintai Allah dan RasulNya?"

la hanya terdiam dan tidak menanggapi perkataanku. Kuulangi kata-kataku tadi berkali-kali, hingga ia berujar singkat: "Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui". Air mataku pun meleleh tanpa bisa kutahan. Aku berlalu.

Suatu ketika, saat aku berjalan di pasar kota Madinah, seorang laki-laki dari Syam yang menjual makanan di pasar itu bertanya kepada orang-orang: "Siapakah yang mau menunjukkan Ka’ab bin Malik kepadaku?"

Orang-orang pun memberitahukannya. Dia pun mendatangiku. Kemudian menyerahkan sehelai surat dari Raja Ghassan. Tertulis dalam surat itu:

"Telah sampai berita kepadaku, bahwa temanmu telah menyia-nyiakanmu.Sedangkan Allah tidak menjadikanmu orang yang terhina dan tersia-siakan.Bergabunglah dengan kami, maka kami akan rnenolongmu".

Aku berkomentar,"lni pun cobaan untukku," lalu aku lempar surat itu ke dalam tungku api.

Setelah berlalu empat puluh hari semenjak Rasulullah dan para sahabat mengisolasi kami, tiba-tiba datang utusan Beliau dengan membawa perintah agar aku menjauhi istriku. Aku bertanya, "Apakah aku harus menceraikannya atau apa yang harus kulakukan?"

Sang utusan menjawab,’Tidak, tapi jauhilah ia dan jangan engkau sentuh."

Aku berkata kepada istriku, "Kembalilah kepada keluargamu.Tinggallah bersama mereka sampai Allah memutuskan perkara ini."

Keadaan seperti itu terus berlanjut. Hingga tibalah suatu pagi selepas aku shalat shubuh. Kondisiku saat itu seperti yang Allah kisahkan, terasa sempit jiwaku dan bumi yang ku pijak seakan tak kukenali lagi.

Tiba-tiba aku mendengar seseorang berteriak: "Wahai, Ka’ab bin Malik! Berbahagialah!" Aku pun segera menghaturkan syukur dengan sujud kehadiratNya. Sungguh telah datang jalan keluar bagi kami.

Rasulullah telah mengumumkan kepada para sahabat setelah shalat Shubuh. Allah telah menerima taubat kami.

Orang-orang berbondong-bondong menemui kami dan mengekspresikan kegembiraan mereka atas berita ini. Sungguh tak terlukiskan kebahagiaanku saat itu. Aku memberikan dua baju yang kukenakan kepada laki-laki yang datang membawa kabar gembira itu. Padahal saat itu, aku tidak memiliki baju selain kedua baju itu. Oleh karena itu, aku meminjam baju dan bergegas ke masjid menemui Rasulullah.

Saat itu Beliau dikelilingi para sahabat. Tiba-tiba Thalhah bin Ubaidillah berdiri dan berlari kecil menghampiriku, kemudian ia menggamit tanganku dan menyalamiku seraya mengucapkan selamat untukku. Sungguh, tidak ada seorang pun yang berdiri dan melakukan seperti yang ia lakukan, hingga aku pun tidak pernah melupakan kebaikannya itu.

Aku pun masuk masjid dan mengucapkan salam kepada Rasulullah. Saat itu wajah Beliau berseri-seri dan bersinar bak rembulan. Tatkala aku sudah duduk di depan Nabi, Beliau berkata: "Berbahagialah dengan hari terbaik yang engkau jumpai semenjak ibumu melahirkanmu".

"Apakah pengampunan ini darimu, wahai Rasulullah? ataukah dari Allah?" tanyaku.

Beliau menjawab, "Tidak! Pengampunan ini datang langsung dari sisi Allah."

Aku berkata kepada Beliau: "Wahai, Rasulullah! Sungguh, sebagai cerminan nyata taubatku, aku sedekahkan hartaku di jalan Allah".

Beliau berkata, "Tahanlah sebagian hartamu untuk dirimu,karena itu lebih baik bagimu."

Aku mentaati perintah Beliau dan berkata: "Kalau begitu, aku tahan anak panahku yang kugunakan dalam perang Khaibar. Dan sungguh Allah telah menyelamatkanku dari perkara pelik ini karena kejujuran.

Maka sebagai wujud taubatku pula, aku tidak akan berbicara kecuali dengan jujur". Sungguh, aku tidak mengetahui ada orang lain yang mendapat ujian kejujuran seperti Allah mengujiku. Hingga sampai saat ini, aku tidak pernah bicara dusta satu kali pun sejak berjanji kepada Rasulullah. Dan aku morion kepada Allah agar menjagaku pada sisa umurku ini".

Demikianlah sosok Ka’ab bin Malik. Seorang mujahid di jalan Allah dengan pedang dan lisannya. Sosok patriot yang memiliki kejujuran setegar batu karang. Tak terkikis oleh ujian yang menyempitkan hatinya. Dijalaninya sisa hidupnya dengan selalu menggenggam kejujuran. Pada masa tuanya, ia kehilangan penglihatannya. Dan putranya, Abdullah yang menjadi pemandu sejak Allah menghilangkan penglihatannya. Ka’ab bin Malik wafat pada masa pemerintahan Mu’awiyyah bin Abi Sufyan. Semoga rahmat dan keridhaan Allah senantiasa tercurah atas diri penyair Rasulullah ini.

Maraji:
  • Artikel Hasby M Al-Faqir (Mahasiswa Darul Hadist Syiher Yemen) di milis assunnah-qatar
  • Adz Dzahabi, Siyar A’lamin Nubala’, Muassasah Ar Risalah, Cet XI,Th. 1422 H – 2001M
  • Tafsir Ibni Katsir, Dar At Thayyibah, cet I, tahun 1422 H/2002M
  • Shafiyyur Rahman At Mubarak Furi, Ar Rahiqul Makhtum, cet I , tahun 1417 H/ 1997M
  • Shahih Bukhari no 4066 (Versi Lidwa Pusaka).
http://assunnah-qatar.com/artikel/tazkiyatun-nufus/item/1370-sholat-taubat.html
Read More..

"Solat Taubat"

,
Emang manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Namun manusia yang terbaik bukanlah manusia yang tidak pernah melakukan dosa sama sekali, akan tetapi manusia yang terbaik adalah manusia yang ketika dia berbuat kesalahan dia langsung bertaubat kepada Alloh dengan sebenar-benar taubat. Bukan sekedar tobat sesaat yang diiringi niat hati untuk mengulang dosa kembali. Lalu bagaimanakah agar taubat seorang hamba itu diterima?

Sesungguhnya rahmat Alloh 'azzawajalla itu luas, Dia memberikan rahmat kepada umat ini dengan membuka padanya pintu taubat dan taubat tidak akan terputus sampai ruh berada di kerongkongan atau sampai terbitnya matahari di sebelah barat. Dan dari rahmat-Nya pula Alloh 'azzawajalla mensyariatkan ibadah kepada umatnya dengan sebaik-baik ibadah, bertawasul dengannnya hingga seorang hamba yang berdosa kepada RabbNya, mengharap diterima taubatnya. Salah satu ibadah tersebut adalah sholat taubat. Berikut beberapa permasalahan yang berhubungan dengann sholat taubat dimaksud.


Ijma’ para ulama menetapkan bahwa sholat taubat di syariatkan, sebagaimana yang diriwayatkan dari sahabat Abu Bakar As- shiddiq radiallahuanhu bahwasanya beliau berkata: 

saya mendengar Rasulallah salallah alaihi wassalam bersabda: (barangsiapa dari seorng hamba yang berbuat dosa lalu bersuci, kemudian berdiri lalu tunaikan sholat 2 rakaat. dan beristigfar kepada Allah melainkan Allah akan mengampuni dosa-dosanya, kemudia membaca ayat ini :

"وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ"


"Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui". (Surat Ali Imran 135.) Hadist dishohihkan Alalbani dalam shohih Aby Dawud.

Syarat Taubat Diterima

Agar taubat seseorang itu diterima, maka dia harus memenuhi tiga hal yaitu:
(1) Menyesal,
(2) Berhenti dari dosa, dan
(3) Bertekad untuk tidak mengulanginya.

Taubat tidaklah ada tanpa didahului oleh penyesalan terhadap dosa yang dikerjakan. Barang siapa yang tidak menyesal maka menunjukkan bahwa ia senang dengan perbuatan tersebut dan menjadi indikasi bahwa ia akan terus menerus melakukannya. Akankah kita percaya bahwa seseorang itu bertaubat sementara dia dengan ridho masih terus melakukan perbuatan dosa tersebut? Hendaklah ia membangun tekad yang kuat di atas keikhlasan, kesungguhan niat serta tidak main-main. Bahkan ada sebagian ulama yang menambahkan syarat yang keempat, yaitu tidak mengulangi perbuatan dosa tersebut. sehingga kapan saja seseorang mengulangi perbuatan dosanya, jelaslah bahwa taubatnya tidak benar. Akan tetapi sebagian besar para ulama tidak mensyaratkan hal ini.

Sebab-sebab sholat taubat

Sebab sholat taubat adalah jika seorang muslim yang terjatuh pada dosa entah dosa kecil maupun besar, kemudian wajib baginya secara langsung untuk bertaubat, melakukan sholat dua rakaat, serta melakukan amalan-amalan sholeh. Amalan yang disyariatkan ini adalah sholat taubat, karena dengan sholat ini ia bertawasul pada Rabbnya dengan mengharap diterima taubatnya dan diampuni dosa-dosanya.


Waktu sholat taubat

Disunnahkan bagi seorang muslim untuk mengerjakan sholat ini ketika berazam bartaubat setelah melakukan dosa, entah mengerjakan sholatnya setelah berbuat dosa ataupun mengakhirkannya. Selayaknya, bagi seorang pendosa untuk bersegera melakukan taubat, karena taubat itu akan diterima sebelum terjadi salah satu penghalang berikut:

Ketika ruh sudah sampai di kerongkongan. Bersabda Rasulallah shalallah alaihi wassalam: "Sesungguhnya allah menerima taubat seorng hamba sebelum sekarat (ruh sudah ada di kerongkongan)" dihasankan oleh Al-albani dalam shohih Tirmidzi no 3537.
Apabila matahari terbit di sebelah barat. Bersabda rasulallah shalallah alaihi wasalam: "Barangsiapa yang taubat sebelum matahari terbit dari sebelah barat maka allah menerima taubatnya". (HR. muslim no 2703).

Sholat ini dikerjakan di semua waktu, termasuk didalamnya waktu-waktu yang dilarang untuk menunaikan sholat seperti setelah sholat ashar, karena sholat taubah merupakan sholat yang mempunyai penyebab,maka tidaklah di kerjakan kecuali ketika ada penyebabnya.

Tata cara sholat taubat:

Jumlahnya 2 rakaat sebagaimana di hadist Abu bakar As shidiq radiallahu anhu.
Dikerjakan bagi yang bertaubat sendirian, karena termasuk dalam sholat sunnah yang tidak di syariatkan berjamaah dan disunahkan kepadanya untuk beristigfar kepada allah sebagimana dalam hadist Abu Bakar radiallahuanhu diatas.

Dan Nabi shalallah alaihi wasalam tidak pernah mengkususkan bacaan khusus dalam sholat. Maka dalam bacaan sholat taubat terserah dalam membaca surat-surat.

Dan disunahkan bagi org yang bertaubat bersamaan sholat taubat melakukan amalan-amalan sholeh . Allah taala berfirman :

وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحاً ثُمَّ اهْتَدَى

Artinya : Dan sesungguhnya aku maha pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal sholeh, kemudian tetap dijalan yang benar.(Thaaha: 82)

Dan sebaik-baik amal sholeh yang seharusnya dilakukan orang-orang yang bertaubat adalah shodaqoh, bahwasanya shodaqoh adalah penyebab yang agung yang dapat menghapus dosa, Allah ta'aala berfirman :

إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ .


Artinya: "Jika kamu menampakan sedakah kamu maka itu adalah baik sekali, dan jika kamu menyembuyikannya dan kamu berikan pada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu, dan Allah akan menghapuskan dari mu sebagian kesalahan-kesalahanmu dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan"(Al- Baqarah ayat 271)

Dan telah tetap dari Ka'ab radiallahu anhu berkata, "Saya berkata kepada Rasulullah, 'Wahai Rasulullah, di antara tanda tobatku itu adalah menghabiskan seluruh hartaku untuk disedekahkan buat kepentingan agama Allah dan Rasul-Nya.' Kemudian beliau bersabda, 'Tahanlah dulu sebagian dari hartamu, sebab yang demikian itu adalah lebih baik bagimu.' Saya berkata, 'Saya masih memegang bagianku berupa harta di Khaibar.'" (HR. Bukhari Bab 19 tentang Zakat).

http://assunnah-qatar.com/artikel/tazkiyatun-nufus/item/1370-sholat-taubat.html

Read More..

Monday, 5 December 2011

SMS "puasa pada hari Asyura"

,
setelah isu UTS yang selesai dan disusul dengan isi Resufle dosen AKM, akhirnya saya pun merasakan liburan, (meliburkan otak) untuk mempersiapkan otak selanjutnya. Ketika itu, hari sabtu, ketika berada di UI (pada suatu acara) saya mendapat sebuah sms, yang mengejutkan saya, bunyi smsnya atau teks smsnya tidak jauh seperti ini :
“Assalammu’alaikum… Bulan Muharram telah tiba “barangsiapa yang berpuasa pada 9-10 Muharram atau besok (senin dan selasa) itu seolah-olah ia telah melakukan ibadah selama 2 (dua) tahun, dan siapapun yang mengingatkan orang lain hal ini, seolah-olah ia telah melakukan ibadah selama 80 tahun”

Pembukaan yang sangat baik karena mengawalinya dengan salam yang mulia. Akan tetapi isinya tak sesuai dengan apa yang disampaikan Rasul kita yang terpercaya. Bukan masalah puasanya (karena memang ada tuntunan untuk mengerjakannya). Tapi apa yang saya ketik dengan huruf bold (dan siapapun yang mengingatkan orang lain hal ini, seolah-olah ia telah melakukan ibadah selama 80 tahun) sangat jauh dari jangkauan logika. Sebelum kita lihat lebih dalam fenomena apa yang ingin membelokkan ummat kita. Patutnya kita mendengar apa yang disampaikan oleh Rasulullah SAW tercinta.
“…Dari Ibnu Abbas RA, ia berkata: ketika Rasulullah SAW tiba di kota Madinah dan melihat orang-orang Yahudi sedang melaksanakan shaum assyuraa, beliau pun bertanya? Apa yang sedang kalian kerjakan? Mereka menjawab, "Ini hari baik, hari di mana Allah menyelamatkan bani Israil dari musuh mereka lalu Musa berpuasa pada hari itu." Maka Rasulullah SAW menjawab, “Aku lebih berhak terhadap Musa dari kalian”, maka beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan untuk melaksanakan puasa tersebut.” [HR Bukhari: 2004] [HR Muslim: 1130]


“…Dari Ibnu Abbas RA, ia berkata: pada saat Rasulullah SAW melaksanakan puasa Assyura dan memerintah para sahabat untuk melaksanakannnya, mereka berkata, “Wahai Rasulullah hari tersebut (assyura) adalah hari yang diagung-agungkan oleh kaum Yahudi dan Nashrani”. Maka Rasulullah SAW bersabda, “Insya Allah jika sampai tahun yang akan datang aku akan puasa pada hari kesembilannya.” [HR Muslim: 1134]


Ketika ditanya mengenai hukum puasa pada hari Asyura, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menjawab, ”Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari kesepuluh dari bulan Muharram. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Aku lebih berhak untuk mengikuti Musa daripada kalian.” Kemudian beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan kaum muslimin berpuasa pada hari itu. (HR. Bukhari [2004] dan Muslim 1130]). Di dalam hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma [tersebut] yang jelas disepakati kesahihannya dikisahkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa pada hari itu. Beliau juga pernah ditanya tentang keutamaan berpuasa pada hari itu. Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ”Aku berharap kepada Allah supaya puasa ini bisa menghapuskan dosa setahun yang sebelumnya.” (HR. Muslim [1162]). Hanya saja setelah itu beliau juga memerintahkan untuk menyelisihi Yahudi yaitu dengan berpuasa pada tanggal sepuluh dan sehari sebelumnya yaitu hari kesembilan [sebagaimana tercantum dalam HR. Muslim [1134], pent]. Atau diiringi puasa sehari sesudahnya yaitu hari kesebelas.



menanggapi dari sms yang saya terima., sebetulnya, puasanya tidak ada masalah, dan mengajak orang lainpun itu bagus dan malah dianjurkan, sebagaimana ada perintahnya


“Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, maka baginya ada pahala yang sama dengan pahala orang yang mengikutinya dan tidak dikurangi sedikitpun juga dari pahala-pahala mereka.” (HR Muslim no. 2674).


Namun pertanyaannya, apakah ajakan yang kita sampaikan itu benar adanya? Atau hanya sekedar hoaxx (kebohongan) belaka? . Ini yang perlu kita cermati kembali asal muasalnya. Karena fenomena copas (copy paste) ini sangat merajalela di negeri berlambang garuda. Logikanya, bagaimana mungkin sebuah seruan kebaikan lebih besar balasannya daripada kebaikan (ibadah) itu sendiri? tidak ada didalam nash Al Qur'an dan Hadits Nabi Muhammad SAW yang menjelaskan akan hal ini, memberitahu suatu kebaikan akan mendapat balasan pahala ibadah selama 80 tahun. ini yang perlu kita luruskan kembali, diawali dengan mengintrospeksi diri. “sungguh ada kalanya seorang hamba berbicara sepatah kata yang tak diperhatikan, maka tiba-tiba ia tergelincir ke dalam neraka akibat kalimat itu. Lebih jauh dari jarak antara timur dan barat”. Semoga kita termasuk dalam golongan yang selalu menyeru kedalam kebaikan dan juga mengamalkannya. Allahu a’lamu bishawab.



http://hafidzdeviant.blogspot.com/2011/12/asyura-opini-dan-fakta_5401.html

http://abu0mushlih.wordpress.com/2009/01/02/puasa-asyura/

Read More..

Saturday, 19 November 2011

Internet Speed Booster untuk Percepat Koneksi Internet

,
Internet Speed Booster adalah cara mudah untuk mempercepat koneksi internet Anda. Dengan Internet Speed Booster Anda dapat mempercepat koneksi internet Anda, memanfaatkan memori Anda, memanfaatkan koneksi internet Anda dan mengubah pengaturan jendela Anda. Jendela utama terdiri dari item berikut: Speed Booster, Net Pinger, Ram Booster dan Sistem Pengaturan. Speed Booster contais modus Wizard, Advanced mode, dan manajer Backup. Net Pinger Pingr berisi pengaturan. Ram Booster yang terdiri dari Sistem Ram status dan konfigurasi. Sistem Pengaturan berisi properti Internet, Sistem Pengaturan, Modem Pengaturan dan Pengaturan Jaringan. Untuk mempercepat koneksi Anda hanya memilih salah satu dari standar pengaturan sambungan dan klik Optimalkan Sekarang. Dalam Cadangan manajer setiap kali Anda mengubah setting program Anda akan menyimpan pengaturan lama anda. Anda dapat memilih file backup anda ingin mengembalikan atau menghapus. Utilitas PING membantu menjaga Anda mendapatkan koneksi modem Anda diputus oleh operator selular. Kebanyakan Internet Service Provider Putus pengguna setelah periode tetap aktivitas modem. Sistem opsi Status Ram Booster memungkinkan Anda untuk memonitor sumber daya sistem Anda. Dan Anda dapat mengoptimalkan memori dengan satu klik. Anda dapat menyesuaikan pengaturan ram booster dari bentuk Konfigurasi Ram Ram Booster. Semua alat yang Anda butuhkan untuk menjadi efisien di Web! Meningkatkan dan mengoptimalkan kecepatan koneksi internet Anda dengan seperangkat alat ini. Net Pinger mencegah Anda dari menjadi terputus dari ISP Anda. Speed Booster cara mengoptimalkan PC Anda mengirim dan menerima data melalui internet. RAM Booster memungkinkan Anda untuk membebaskan memori fisik atau RAM pada PC anda
Untuk melengkapi tulisan tentang trik koneksi internet, berikut saya informasikan sebuah program yang bisa mengoptimalkan kecepatan koneksi internet baik itu dengan modem ponsel modem usb, atau modem dan koneksi lainnya. Software ini adalah Internet Speed Booster, sebuah program gratisan yang dikembangkan oleh Onestopsoft. Internet Speed Booster menawarkan beberapa fungsi di dalamnya, yaitu Speed Booster, Net Pinger, dan Ram Booster.

Speed Booster
Speed Booster berfungsi mengoptimalkan sistem Windows dalam hal transfer data (upload dan download). Optimalisasi di sini hampir sama dengan beberapa software yang pernah saya informasikan sebelumnya (TCPSpeed, TCP/IP Optimizer, FullSpeed, SpeedConnect, dan beberapa software lain).
Untuk optimalisasi kecepatan koneksi internet dengan Speed Booster ini bisa dengan dua cara yaitu Wizard mode dan Normal mode. Dalam Wizard mode sudah tersedia pilihan optimalisasinya, kita tinggal pilih salah satu dan eksekusi dengan Optimize Now.

Cara kedua dengan Normal mode, untuk cara ini, kita akan melakukan setup dalam beberapa langkah (total ada 8 langkah), mulai dengan memilih jenis koneksi internet yang kita pergunakan. Jika kita bingung mengisinya, jangan kuatir, karena software ini akan memberikan pilihan dengan jawaban default, jadi tinggal ikuti saja prosesnya (kecuali kita ingin mengubahnya).


Net Pinger
Fungsi Net Pinger adalah mengantisipasi terjadinya koneksi yang terputus (biasanya jika kita membuka satu halaman web, dan tidak melakukan aktivitas apapun dalam waktu tertentu maka koneksi kita akan berhenti/terputus), Net Pinger ini hampir sama fungsinya dengan Connection Keeper.

Untuk mengaktifkan Net Pinger, cukup dengan menandai Enable Pinger, sedangkan untuk pilihan konfigurasi (Configuration), kita bisa memilih Automatic Mode (setiap satu menit melakukan ping), atau Manual Mode (kita tentukan sendiri berapa lama interval waktunya untuk melakukan ping).

Ram Booster
Dari namanya sudah terlihat bahwa Ram Booster di sini berfungsi untuk mengoptimalkan penggunaan memory di PC kita. Dalam menu Ram Booster ada 2 pilihan menu, yaitu System Status yang menunjukkan penggunaan prosessor dan memory komputer kita dalam bentuk grafik real time dan Ram Config yang mengatur penggunaan (mengoptimalkan) resources yang ada secara otomatis.

Internet Speed Booster ini bisa kita jalankan secara otomatis saat masuk Windows dan menjalankannya di System tray (pojok kanan bawah monitor), dengan memilih Settings. Tandai Run Main Program when Windows start up dan Run Program in system tray.






http://meandfirstme.blogspot.com/2011/04/internet-speed-booster-untuk-percepat.html

Read More..