Ilmu adalah binatang Buruan.
Dan Pena yang menuliskan adalah tali Pengekangnya
-Imam Asy Syafi'i-

Wednesday, 3 April 2013

Membuka kembali catatan yang pernah digoreskan dalam lembaran-lembaran kertas yang terdahulu, mengingatkan kembali akan zamannya SMA, ketika sang Guru memberikan kritik atas jawaban seorang siswa mengenai penjelasan seorang tokoh. Siswa tersebut menjelaskan tentang watak beberapa orang tokoh yang mana, watak dari tokoh tersebut ekstreme kiri dan ada pula ekstreme kanan. 

Sang guru tersebut kemudian menjelaskan bahwa dalam penggambaran seorang tokoh atau watak dari seorang tokoh, itu harus seimbang, ada baiknya dan ada buruknya. Jika seorang tokoh tersebut baik seluruh wataknya, maka ia bisa disebut dengan Malaikat dan bila jelek seluruh wataknya maka ia bisa disebut dengan Setan. Ungkap sang Guru yang memberikan penjelasan kepada kami siswa XII IPA 3 di SMAN 1 Leuwiliang. Dan Gru tersebut guru B. Indonesia yang kerenlah, pokona mah.

Lantas, apa hubungannya catatan pada lembaran-lembaran kertas yang terdahulu dengan cerita diatas? Ya, pada intinya, hakikat manusia itu terdiri dari 2 jenis. Yaitu Turob (Tanah) dan Ar-ruh (ruhani). Turob tersebut mengarah ke bumi dan Ruh tersebut mengarah ke langit.
Faalhamaha Fujuroha wa Taqwaha 
“Maka Dia mengilhamkan (kepada setiap jiwa) jalan dosanya dan jalan taqwanya.”
(Qs. Asy-Syams: 8)

Hanya itu, itu yang mesti kita ingat, bahwa dalam diri seseorang itu ada 2 sisi yang ia punya. Sisi kebaikan dan sisi keburukan. Jangan sampai kita meMalaikatkan manusia atau menSetankan manusia. Jadilah bijak dengan meManusiakan manusia karena kita pun ingin diperlakukan seperti itu.

Berbuat kesalahan itu hal biasa, karena manusia tempatnya salah dan lupa. Berbuat suatu kebenaran pun merupakan suatu hal yang biasa karena itu merupakan fitrah dari manusia yang berasal dari ruh. Bukankah sudah sering kita mendengar atau membaca tentang kisah seseorang yang telah membunuh 99 orang yang ingin bertaubat? Atau kisah tentang seorang Tamir masjid yang tertarik pada lawan jenis?

Bagaimana akhir dari kehidupan mereka? Ya, si pembunuh 99 orang itu dikabarkan masuk surga karena di akhir hayatnya ia bertaubat dan taubatnya diterima dan si Tamir mesjid nasib akhirnya mengenaskan. Siapa menyangka.

Adakah kita atau orang-orang disekitar kita yang sekarang mungkin sedang menikmati indahnya iman dan Islam tau bagaimana akhir hayat kita? Istiqomah kah?
Atau kita dan orang-orang disekitar kita yang sekarang mungkin sedang bermaksiat, apakah tau kita akan akhir hayatnya? Bertaubat kah?

Intinya, manusia itu menpunyai 2 sisi di dalam kehidupannya. Yang membedakan antara satu dan yang lainnya adalah seberapa dominan sisi itu. Apakah dominan pada tanah? Atau dominan pada Ruh? Juga bagaimana keadaan terakhir kehidupannya. Apakah dalam keadaan beriman? Atau dalam keadaan bermaksiat?

Mudah-mudahan kita menjadi bagian dari orang-orang yang lebih dominan pada sisi kebaikan dan dimatikan dalam keadaan beriman dan Khusnul Khatimah. Aamiin :D

Semoga bermanfaat, Mohon koreksinya :D

Reactions:

0 comments:

Post a Comment

comment