Ilmu adalah binatang Buruan.
Dan Pena yang menuliskan adalah tali Pengekangnya
-Imam Asy Syafi'i-

Monday, 28 January 2013

Masih ingatkah cerita tentang seorang pria yang membunuh 99 orang ? Ya, ini kisah tentang seorang pria yang telah membunuh 99 orang dan ingin bertaubat, yang mana diabadikan didalam Riwayat Bukhari dan Muslim.

Pria yang telah membunuh 99 orang ini, mendatangi Rahib, kemudian ia bertanya "Apakah aku bisa bertaubat ?". Ternyata pendeta (Rahib) itu menjawab "Tidak", kemudian dibunuh lah Rahib tersebut, dan menjadi genap 100 orang yang telah dibunuhnya.

Lalu, ia mendatangi seorang Alim, kemudian ia bercerita bahwa ia telah membunuh 100 orang, lalu bertanya "Apakah aku bisa bertaubat ?" Sang Alim pun menjawab "Ya, Tentu. Siapakah yang akan menghalangi orang untuk bertaubat ?" Disuruhlah berhijrah ke kota lain sang Pria itu untuk meninggalkan kotanya, dan diperjalanan ia pun meninggal dunia.

Kemudian, berselisihlah antara Malaikat Rahmat dengan Malaikat Azab tentang Pria itu. Siapakah yang lebih berhak atas rohnya. Malaikat Rahmat beralasan " Orang ini datang dalam keadaan bertaubat, dan menghadapkan hatinya hanya kepada Allah". Sedangkan Malaikat Azab beralasan "Orang ini tidak pernah melakukan amal baik". 

Diukurlah jarak dari kota asal dengan tempat ia meninggal, dan jarak tempat ia meninggal dan kota tujuan. Dan ternyata hanya beda satu jengkal antara keduanya, yang mana lebih dekat dengan kota tujuan. Maka malaikat Rahmat lah yang berhak membawa roh tersebut.

Taubat. Taubat pria itu diterima oleh Allah Swt. Sebagaimana di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi "Sesungguhnya Allah Yang Maha Agung akan menerima taubat seseorang sebelum nyawa sampai ditenggorokan (Sebelum sekarat)" . Kemudian Imam Muslim meriwayatkan bahwa "Barangsiapa bertaubat sebelum matahari terbit dari barat, maka Allah menerima taubatnya."

Taubat itu wajib dari setiap dosa yang telah dilakukan. Apabila dosa itu (maksiat) antara hamba dengan tuhannya, maka taubatnya itu memiliki 3 syarat, yaitu :

  1. Meninggalkan Maksiat
  2. Menyesali perbuatan Maksiat yang telah dilakukan
  3. Bertekad untuk tidak kembali pada maksiat itu semuanya.

Syarat ini harus terpenuhi semuanya, apabila salah satu tidak terpenuhi, maka taubatnya tidak sah. Kemudian jika maksiat ini berhubungan dengan manusia, maka syaratnya ada 4, 3 yang atas dan "membebaskan dari dari hak orang lain"

Mari perbaharui taubat kita dengan senantiasa meminta ampunan dariNya. Rasulullah saja membaca Istighfar dan bertaubat kepadaNya lebih dari tujuh puluh kali. Diriwayat lain, kita diperintahkan untuk bertaubat dan memohon ampun kepadaNya 100 kali.

Sudahkan anda bertaubat dan beristighfar hari ini ? :D

Sumber : Riyadus Shalihin  (Imam Nawawi)

Reactions:

0 comments:

Post a Comment

comment