Ilmu adalah binatang Buruan.
Dan Pena yang menuliskan adalah tali Pengekangnya
-Imam Asy Syafi'i-

Monday, 4 February 2013

Pernah terjatuh didepan umum ? Bagaimana perasaan kita ? Malu ? Pastiii. Semua perhatian tertuju kepada kita, banyak yang lihat kita terjatuh, lantas kita selalu "terjebak" memikirkan apa yah kira kira yang ada dibenak orang lain.

Berpikirlah untuk berusaha naik.. look inside, jangan merasa malu, jangan merasa bersalah, jangan merasa tidak berdaya. Karena musuh terbesar kita adalah perasaan tidak berdaya itu. Bangkitlah bangun dan bersikaplah cuek, sambil membersihkan (memperbaiki) diri.

Itulah mengapa Nabi SAW mengajarkan pada kita doa :

 "Allahumma inni a 'udzubika minal 'ajzi wal kasl....."

Jika kita terus berusaha bangun, maka yakinlah orang-orang yang semula menonton itu tidak akan lagi berfikir mengapa kita terjatuh, tetapi mereka akan bergabung bersama kita untuk menjulurkan tangannya untuk membantu kita bangun. Kita harus tunjukkan pada semua orang bahwa kita adalah seseorang yang cepat belajar, bisa segera sadar jika ada kesalahan, juga pintar dalam recovery.

Masih inget tentang perang Uhud 70 sahabat syahid, bukan karena kehebatan musuh, tetapi karena keteledoran pasukan pemanah. Tetapi Rosul tidak menegur mereka saat mereka melakukan kesalahan. 3 hari setelah itu nabi kirim pasukan ke qabilah-qabilah diskitar Madinah yang sudah menunjukkan gejala melepas diri dari madinah karena mereka berfikir Madinah sudah lemah, sudah habis.. Tapi Nabi tidak mau memberi ruang dan waktu bagi mereka untuk berfikir melepaskan diri..

Fakta-fakta tersebut telah ada dalam Sirah Nabawi. Fakta fakta tersebut ada bukan hanya untuk kita kuasai, akan tetapi untuk mengambil hikmah-hikmah, mengambil pelajaran-pelajaran dari Fakta tersebut.

Apakah kita akan terfokus pada apa yang telah terjadi tersebut, atau fokus apa yang akan kita lakukan setelahnya ? Apa kita akan fokus pada Musibah (terjatuh) yang telah terjadi kita akan fokus pada bagaimana kita bangkit dan  lakukan setelahnya ?

Satu-satunya cara untuk menghilangkan musibah dalam pikiran kita adalah dengan melupakannya. Kita tidak punya waktu untuk dikasihani. Jangan sampai energi kita habis hanya untuk menyesali diri.. Salurkan energi kita untuk perbaharui diri. Sekaranglah waktunya kita untuk memperbaiki diri.



Reactions:

0 comments:

Post a Comment

comment